Recent Posts

Jumat, 29 Juni 2012

Permata di Ujung Senja (part 3)


-          Bandung, 20 oktober 2000 –
Berlangsunglah pernikahan kami berdua. Pada hari itu yang ada hanya rasa bahagia. Semua kekhawatiranku sirna sudah. Permata itu sudah aku dapatkan. Mas Irul, dialah permataku.
Awal pernikahanku dengannya tak seindah yang kami bayangkan. Karena dia masih bekerja di Medan sementara aku masih harus mengurus pemberkasan di Jakarta. Ya, lagi – lagi kami terpisahkan oleh jarak dan waktu. Namun tak menunggu waktu lama, setelah pemberkasan selesai, aku langsung diboyong ke Medan bersama suamiku.
Bulan ke-3 pernikahan kami, aku sudah mulai merasakan mual. Ternyata benar, ada calon janin di dalam perutku. Saat hamil anak pertama kami, aku benar – benar sangat manja. Setiap permintaanku harus dituruti. Tak jarang, Mas Irul kewalahan melayaniku.
Pernah suatu ketika saat kehamilanku berjalan 4 bulan,
tengah malam aku merengek minta  mangga muda. Dan saat itu tidak sedang musim mangga. Mas Irul keluar rumah, mencari ke rumah tetangga, namun tetap saja nihil. Sampai dia pergi ke pasar, disana memang ada pasar yang jualannya dini hari. Tetap saja tak ia dapatkan. Akhirnya dia pulang dengan tangan hampa. Pukul 03.15 WIB dia sampai di rumah setelah kurang lebih 3 jam dia keluar. Kuperhatikan wajahnya yang lusuh penuh kesedihan. Dia bilang, “maaf ya, aku gak dapat mangga nya”. Istri mana yang tega melihat suaminya dengan wajah memelas seperti itu sambil meminta maaf yang sebenarnya ini bukan murni kesalahannya. Kasian sekali melihatnya, wajahnya terlihat sangat lelah. Bagaimana tidak, dia baru pulang kerja jam 10 malam. Belum sempat tidur sudah keluar lagi gara – gara mangga. Subhanallah, kutemui sosok suami yang sangat menyayangi istrinya, seperti dia.
Ku peluk erat dirinya, kuusap wajahnya yang lusuh, lalu kucium tangannya.
“maafkan Aisyah ya Mas, sudah bikin repot”
“gak apa-apa kok Sayang. Ini udah kewajibanku”, katanya sebelum mengecup keningku
Kemesraan itu selalu dia tumbuhkan disaat aku sedang kesal ataupun ngambeg. Masalahnya sepele sih. Aku cemburu sama teman sekantornya yang sebenarnya sudah kenal baik denganku. 3 kata pun tak pernah ia lupakan saat terbangun dari tidurnya.
“I Love You, Khumaira”
Ya, begitulah panggilan sayangnya padaku. Suasana itu begitu membuatku rindu padanya.
Keadaan berubah saat usia kandunganku
sudah tua. Hari itu aku mengalami pendarahan hebat. Suamiku langsung membawaku ke Rumah Sakit. Dokter menyatakan aku harus dioperasi Caesar. Dan akhirnya operasipun dijalankan setelah mendapat izin dari Mas Irul. Dia setia menunggu di depan ruang operasi. Operasi selesai, lampu merahpun padam. Dokter keluar ruangan dan membawa serta suamiku menuju kantornya. Dokter menyatakan bahwa Ibunya sehat bayinya selamat. Namun ada sedikit gangguan pada bayi mungil itu. Pembentukan sumsum belakangnya kurang sempurna, hal itu beresiko pada kelumpuhan. Sehingga mau tidak mau harus dilakukan operasi cangkok sumsum tulang belakang. Tanpa piker panjang suamiku langsung mengiyakan. Entah siapa yang menjadi donor, yang jelas masalah bisa terselesaikan..
Hidup kami serasa lengkap dengan kehadiran Hafiz, permata hati kami. Namun hal itu tak berlangsung lama. Saat Hafiz berusia 5 bulan, suamiku sakit parah. Dokter mendiagnosa bahwa dia mengalami radang sumsum tulang belakang. Betapa hancurnya hatiku saat itu. Disaat kami sedang bahagia – bahagianya, lalu Allah mengambilnya kembali. Aku hanya bisa ikhlas menerimanya. Suamiku dipanggil oleh Allah di usianya yang belum genap 26 tahun. Belakangan setelah kepergian suamiku, aku menemukan amplop dari Rumah Sakit tempatku dulu dioperasi. Betapa kagetnya aku, ternyata selama ini dia menyembunyikan hal ini dariku. Orang yang mencangkokkan sumsum tulang belakangnya ke dalam tubuh anakku tak lain adalah ayahnya sendiri. Dan itu juga yang menyebabkan dia mengalami peradangan pada sumsum tulang belakangnya. Andai aku tahu itu semua, pasti dulu aku akan melarangnya bekerja seharian seperti saran dokter. Namun dia orang yang sangan disiplin dan bertanggungjawab terhadap pekerjaannya. Dia pernah bilang, “setiap pekerjaan yang kujalani itu adalah amanah untukku, maka akan aku jaga amanah itu dengan keringatku”
Sebelum dia pergi, sempat dia menuliskan secarik surat pendek untukku..
Teruntuk Istriku tercinta,,
Aku tak pernah menyangka kalau Allah begitu cepat memanggilku. Dia begitu sayang padaku. Dan padamu juga tentunya.
Khumaira, jangan kau teteskan airmatamu saat membaca surat ini ya. Kau harus menjadi Bunda yang tegar, agar bisa mendidik Hafiz menuju cita cita nya. Jangan bersedih di depan anakmu, itu akan sangat berpengaruh pada semangatnya. Sama sepertiku, saat kau ngambeg, aku jadi kehilangan semangat. Kau mau kan berjanji padaku untuk yang terakhir??kuyakin kau mau, karna kau Istriku yang taat..
Hemm, tak banyak pesan yang aku titipkan untukmu, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu sampai kapanpun. Kan kutunggu kau di taman surgaku..
Salam sayang dari suamimu
Khairul Azzam

Bagaimana bisa aku tak menangis saat membacanya. Pipiku basah tak terbendung. Namun semenjak itu, aku selalu mengingat pesannya. Aku tak boleh bersedih di hadapan anakku. Seperti janjiku padanya.
Sepeninggal suamiku, banyak sekali bujukan dari pihak keluarga, termasuk Zizi, agar aku mau menikah lagi, karena saat itu usiaku baru menginjak 23 tahun. Masih sangat muda. Namun rasanya tak ada yang berhak menggantikan posisinya di hatiku. Meski dia tlah tiada, tapi bagiku dia kan selalu hidup bersemayam di hatiku. Mas Irul, kau tetap menjadi permataku yang kan kusimpan baik meski kau tak sampai diujung senjamu.
Kini usiaku baru 50 tahun, anakku Hafiz akan menikah diusianya yang cukup matang, 28 tahun. Doaku padamu, Nak, jadilah seperti ayahmu, yang mencintai tanpa syarat. Jadikan istrimu wanita paling beruntung karena tlah mendapatkan permata sepertimu.
“Ayo Bunda, kita pergi sekarang..!”, suara itu membuyarkan lamunanku
Hafiz mengenggam tanganku dan mengajakku pergi bersamanya untuk gladi bersih acara besok. Aku pun menutup album itu dan meletakkannya di tempat terindah.. untuk selamanya…



~The end~

0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.