Hembusan angin itu semakin kencang meniupkan kabar kalian.
Tulangku melinu kaku, dadaku keram membungkam.
Terisak begitu sesak.
Retak!
Kalibata, 26 April 2016
Menggores dalam diam, berdiam dalam goresan
Hembusan angin itu semakin kencang meniupkan kabar kalian.
Tulangku melinu kaku, dadaku keram membungkam.
Terisak begitu sesak.
Retak!
Kartini lahir tak serupa percikan cahaya, dialah obor yang menyulutkan bara
Kartini bukan hanya simbol emansipasi wanita, dialah pembaharu peradaban bangsa
Gagas dan idenya terus menerus digaungkan
Demi manusia, demi kebangkitan kaumnya
Nuranilah penuntunnya
Tetap teguh ia berjalan, meski belenggu adat masih saja memberatkan
Kartini tampil selamatkan kaumnya yang terlilit ketertindasan
Dia hadir tuk mengangkat kita dari jahil dan kebutaan
“Min adz-dzulumaati ilaa an-nuur”
Seberkas cahaya mulai tampak nyata
Kartini bahagia memainkan perannya sebagai guru muda
Menuntun para putri bangsa keluar dari lorong kegelapan yang menyeramkan
Hingga akhirnya hari itu tiba
Sebuah sangkar emas siap menanti kedatangannya
Sedari dulu, menjadi dewasa adalah hal yang (memang) paling ia benci
Sebab masa itulah yang akan merenggutnya dari pusaran mimpi
Kembali, ia terbelenggu oleh adatnya sendiri.
Tegal, 21 April 2014