Recent Posts

Selasa, 26 April 2016

Kamis, 21 April 2016

Membincang Kartini

Kartini lahir tak serupa percikan cahaya, dialah obor yang menyulutkan bara

Kartini bukan hanya simbol emansipasi wanita, dialah pembaharu peradaban bangsa

Gagas dan idenya terus menerus digaungkan

Demi manusia, demi kebangkitan kaumnya

Nuranilah penuntunnya

Tetap teguh ia berjalan, meski belenggu adat masih saja memberatkan

Kartini tampil selamatkan kaumnya yang terlilit ketertindasan

Dia hadir tuk mengangkat kita dari jahil dan kebutaan

“Min adz-dzulumaati ilaa an-nuur”

Seberkas cahaya mulai tampak nyata

Kartini bahagia memainkan perannya sebagai guru muda

Menuntun para putri bangsa keluar dari lorong kegelapan yang menyeramkan

Hingga akhirnya hari itu tiba

Sebuah sangkar emas siap menanti kedatangannya

Sedari dulu, menjadi dewasa adalah hal yang (memang) paling ia benci

Sebab masa itulah yang akan merenggutnya dari pusaran mimpi

Kembali, ia terbelenggu oleh adatnya sendiri.

Tegal, 21 April 2014

Puisi di atas saya tulis sebagai pembuka dari sebuah tulisan yang bertemakan Hari Kartini. Tulisan tersebut dapat Anda baca di Website KMNU Nasional.

Dalam postingan ini saya akan sedikit membahas mengenai isi puisi di atas. Setiap baitnya menggambarkan fase kehidupan seorang Kartini. Kehadirannya -meski tak sedikit orang yang menganggap peringatan hari lahirnya terlalu berlebihan- bagi saya merupakan sebuah titik awal kebangkitan kaum perempuan. Kepekaan dan daya kritisnya yang tajam, membuat Kartini tergerak untuk menyelamatkan kaum perempuan yang pada masa itu masih jauh tertinggal daripada laki-laki. Terutama di bidang pendidikan. Berkat gagasan dan idenya yang sempat mendirikan sebuah sekolah khusus Keputrian, beberapa anak perempuan pada masanya mampu mengenyam pendidikan. Saat itu adat masih begitu ketat. Anak perempuan yang menginjak usia remaja, harus sudah dipingit di dalam rumah dan tidak diperkenankan untuk keluar secara bebas. Jika pada saat pingitan itu ada seorang laki-laki yang melamar, maka dia (hampir) tidak punya kesempatan untuk menolaknya. Begitu kejamnya adat masa itu yang benar-benar membelenggu perempuan. 
continue reading Membincang Kartini
Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.