Dewasa ini sudah marak berbagai media yang mempromosikan bagaimana cara terbaik untuk mendidik anak. Mulai dari buku, seminar bahkan mainan anak yang semuanya mengusung tema besar yaitu "Parenting".
![]() |
| pic from FP Santrijagad |
Anak adalah sebuah amanah yang dititipkan kepada orang tua. Mau menjadi seperti apakah anak itu kelak, tak lepas dari peran serta Ibu Bapaknya. Karenanya pendidikan dini bagi anak menjadi sangat penting. Namun, kemampuan mendidik tak hanya sebatas penguasaan ilmu parenting saja. Ada hal lain -yang mungkin di luar nalar- yang justru menjadi kunci utama dalam membentuk kepribadian anak. Apa itu? Tirakat atau Riyadloh atau Mujahadah atau apalah itu namanya yang intinya adalah berkaitan dengan upaya batin yang dilakukan baik oleh si Ibu maupun Bapaknya. Ilmu parenting mungkin akan bisa diterapkan sejak bayi mungil itu lahir, tapi tidak dengan tirakat. Upaya ini bisa dimulai jaaauuuh sebelum bayi itu lahir ke dunia, bahkan sebelum calon orang tua bayi itu dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan.
Sebagaimana kisah para pendahulu yang pada akhirnya melahirkan putra-putri yang di masa kini kita ketahui ketinggian ilmu maupun akhlaknya. Sebut saja Muhammad bin Idris. Jauh sebelum ia dilahirkan, seorang pemuda bernama Idris tengah berjalan di hutan. Ia menemukan ada sebuah apel yang mengambang di permukaan sungai. Karena begitu laparnya, akhirnya dia makan buah apel itu. Sejurus kemudian, dia ingat bahwa apel yang dia makan bukanlah miliknya. Lalu dia bertekad untuk mencari pemilik pohon apel itu dan meminta ridho kepadanya. Akhirnya, didapatinya sebuah pohon apel di tepi sungai dan segera ia temui pemiliknya. Pemilik pohon itu adalah seorang lelaki paruh baya yang tinggal bersama seorang putrinya. Idris pun menyampaikan maksud kedatangannya. Melihat jerihnya upaya pemuda ini, sang pemilik apel merasa takjub. "Betapa wara'-nya pemuda ini." Ia pun menawarkan kepadanya untuk menikah dengan putri semata wayangnya. Namun sebelum itu, ia ceritakan kondisi putrinya. "Putriku ini buta, tuli dan lumpuh. Apakah kau mau menikahinya?" Si pemuda Idris yang baik hati ini pun menerima dengan serta merta. Hingga hari pernikahan itu tiba, Idris diizinkan untuk menemui putri pemilik apel itu yang sudah resmi dipersuntingnya. Saat melihat perempuan di hadapannya, dia kaget bukan main. "Seorang perempuan cantik dan sempurna tapi mengapa dikatakan buta, tuli dan lumpuh oleh ayahnya?", gumamnya dalam hati. Esok harinya, ia adukan kondisi istrinya pada ayah mertuanya. Beliau hanya tersenyum dan dengan 'enteng' menjawab, "Putriku buta dari melihat hal-hal yang diharamkan, tuli dari mendengar ghibah dan sejenisnya serta lumpuh dari tempat-tempat maksiat." (Subhanallah)
Dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang nantinya menjadi imam besar yaitu Muhammad bin Idris yang lebih sering kita kenal dengan nama Imam Syafi'i.
Begitu pun dengan kisah Nyai Rodhiyah, Ibunda dari Alm. KH. Chamim Jazuli (Gus Miek). Semasa mengandung putranya itu, beliau tak pernah lepas dari Alqur'an. Bahkan hampir setiap hari beliau berhasil mengkhatamkannya. Maka pantas saja jika kemudian Allah memberikan karunia berupa seorang putra yang sudah tak perlu diragukan lagi bagaimana kecintaannya terhadap Alqur'an. Hingga sekarang masih bertahan majelis sima'an Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin yang diprakarsai oleh putra beliau, Gus Miek.
Memang, membaca kisah terdahulu seringnya membuat kita bersemangat namun sesekali juga beralibi, "itu kan mereka, orang-orang pilihan. Kita ini hanya orang biasa mana mungkin bisa seperti itu." Manusiawi, jika ada pikiran semacam itu. Tapi mudah-mudahan dengan mengetahui adanya kisah ini, setidaknya, kita jadi tahu bahwa ternyata dalam upaya mendidik anak tidak hanya berwujud lahiriah saja tapi juga batiniahnya tetap dijaga. Berusaha melakukan upaya yang kita mampu, sekecil apapun, semoga Allah memudahkan langkah kita.
Khusus untuk para ibu dan calon ibu,
Selamat Hari Ibu :-)
Semoga bermanfaat~
"Ibu adalah guru pertama dan sepanjang masa bagi anak-anaknya."
Dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang nantinya menjadi imam besar yaitu Muhammad bin Idris yang lebih sering kita kenal dengan nama Imam Syafi'i.
Begitu pun dengan kisah Nyai Rodhiyah, Ibunda dari Alm. KH. Chamim Jazuli (Gus Miek). Semasa mengandung putranya itu, beliau tak pernah lepas dari Alqur'an. Bahkan hampir setiap hari beliau berhasil mengkhatamkannya. Maka pantas saja jika kemudian Allah memberikan karunia berupa seorang putra yang sudah tak perlu diragukan lagi bagaimana kecintaannya terhadap Alqur'an. Hingga sekarang masih bertahan majelis sima'an Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin yang diprakarsai oleh putra beliau, Gus Miek.
Memang, membaca kisah terdahulu seringnya membuat kita bersemangat namun sesekali juga beralibi, "itu kan mereka, orang-orang pilihan. Kita ini hanya orang biasa mana mungkin bisa seperti itu." Manusiawi, jika ada pikiran semacam itu. Tapi mudah-mudahan dengan mengetahui adanya kisah ini, setidaknya, kita jadi tahu bahwa ternyata dalam upaya mendidik anak tidak hanya berwujud lahiriah saja tapi juga batiniahnya tetap dijaga. Berusaha melakukan upaya yang kita mampu, sekecil apapun, semoga Allah memudahkan langkah kita.
Khusus untuk para ibu dan calon ibu,
"Perempuan mungkin tak bisa ikut berperang dalam medan laga, namun darinya bisa lahir seorang pejuang yang akan memenangkan laga."
Selamat Hari Ibu :-)
Semoga bermanfaat~
