Ibarat sedang mengikuti ujian wawancara yang nomor urut panggilannya dirahasiakan. Mestinya kita harus siap kalau sewaktu-waktu dipanggil masuk dan diwawancarai.
Bagaimana perasaanmu melihat teman-temanmu sudah dapat giliran? Deg-degan? Iya.
Bagaimana jadinya bila saat dipanggil, ternyata kita masih asyik bermain Pokemon atau menikmati lezatnya sepotong Pizza? Gelagapan? Tentu.
Hidup juga sejatinya demikian. Dunia adalah ruang tunggunya. Tapi wawancara kali ini bahan materinya lebih kompleks. Pertanyaannya lebih sulit. Pewawancaranya adalah Dzat yg Maha Agung kewibawaannya. Paling galak murkanya. Namun juga paling lembut kasihnya. Tidak semua lulus wawancara tanpa dimarahi dulu. Yang paling beruntung adalah mereka yg berhasil menjawab pertanyaan dengan selamat. Keluar ruangan dengan wajah sumringah sebab tak dimarahi. Nah, bagaimana dengan kita?
Recent Posts
Kamis, 25 Agustus 2016
Rabu, 24 Agustus 2016
Mimpi
Aku pernah menanam mimpi, menyemainya dengan pupuk keyakinan. Padamu, aku pernah pula menceritakannya. Aku tak pernah tahu akankah nanti mimpi ini bisa terwujud atau tidak. Yang aku tahu, kini dan nanti aku akan terus menyemainya. Takkan kubiarkan ia layu sebelum berkembang. Namun.. Jika pada akhirnya diri ini tak diperkenankan untuk sampai pada masanya mekar. Bila ternyata usiaku tak sepanjang usia mimpi itu. Aku berharap kau mau melanjutkan tugasku untuk menyemainya. Semoga~
Minggu, 07 Agustus 2016
Dengan Usia
(sebuah sajak karya @doew)
Dengan usia, kau mencinta.
Dengan usia, kau merasa.
Dengan usia, kaulah raja, mengatur segala cita hingga purna menjadi nyata.
Dengan usia, kaulah puisi. Dengan usia, kau berintuisi. Dengan usia, kaulah mawar dimana kumbang tak lelah menghampiri.
Lalu,curilah sehelai bulu merak,sematkan pada indah gaunmu agar semarak.
Berpestalah hingga bingar, hingga nyala lilin hilang pendar, hingga doa-doamu terbang di cahaya binar bintang.
Habiskan malammu dengan secawan rindu, rindu yang candu seperti peluk ibu. Sebab sejak lahirmu, kau adalah puisi, syair yang dititipkan Tuhan pada rahim ibumu.
Hari ini, bukanlah kelahiran yang kau rayakan,
tetapi, rentan usia yang Tuhan titipkan.
Dan juga, bukan pengulangan kelahiran,
tetapi, sisa kenikmatan yang akan kau lepaskan.
Maka inilah hari, dimana usiamu berkurang lagi, saat kekasih adalah obat mujarab yang kau nanti.
Dan peluknya adalah hadiah yang lebih berharga, lebih indah dari hadiah apapun yang kau suka.
Maka bersuka cita lah. Inilah hari, dimana segala ucapan adalah doa untukmu. Hingga tiba waktu senja nanti, nikmatilah usiamu dengan cinta.
Cinta yang lekat seperti puisi, memeluk hangat aksara dalam barisan kata.
*sajak ini dibacakan dan direkam oleh seorang junior kantor yg kece pada hari ultahku kemarin hahahaa gak nyangka dia bisa se-so sweet ini. Padahal gayanya masih kekanakkan. Makasih Adik Ojaaannn.. :D