Di
tengah hiruk pikuk persiapan menghadapi TKD yang katanya masih "dalam
waktu dekat" ini, aku sempatkan untuk membaca e-book materi TWK tentang “Empat
Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang diterbitkan langsung oleh MPR RI.
Tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk membuka kembali folder-folder memori
jaman SD dulu. Tentu sudah tak asing lagi bagi kita mendengar kata "Pancasila".
Masih ingat bukan? Saat upacara bendera setiap hari Senin, tak pernah
ketinggalan lima sila ini kita bacakan. Ya, mungkin saat itu aku hanyalah anak
usia 8 tahunan yang lagi "gemawok" (senang-senangnya) memamerkan hafalan
di depan guru-guru dan peserta upacara. Pancasila saat itu hanya sebatas ucapan
di bibir saja, tanpa kupahami apa yang sebenarnya aku hafalkan itu. Namun
seiring bertambahnya usia dan jenjang pendidikan yang kutempuh, barulah aku
sadar bahwa ternyata yang dulu aku hafalkan itu adalah sesuatu yang mempunyai
nilai sangat besar dan bukan hal yang sembarangan. Ia adalah buah pikir dan hasil
kerja keras dari para pendahulu kita.
Coba sejenak kita bayangkan kembali situasi Mei-Juni 68 tahun
silam. Saat dimana para Bapak Bangsa berusaha keras memeras otak dan tenaga
untuk merumuskan bagaimana Indonesia Merdeka. Apa yang akan menjadi dasar
negara kita jika nanti Merdeka? Cukupkah sampai pada kata "Merdeka"
yang terus menerus digaungkan kaum muda? Hmmm rupanya tidak. Para Pendiri
Bangsa ini bertindak penuh pertimbangan.