Oleh: Prof. KH. Nasaruddin Umar
Kamis, 22 Sept 2016 @MASK
🔹Rasulullah saw sangat menganjurkan kita untuk membaca Surat Al-Kahfi pada malam dan hari Jumat.
🔹Dalam sebuah riwayat disebutkan “Barang siapa membaca surat Al-Kahfi akan dibebaskan dari fitnah Dajjal”.
🔹Usahakan membaca Surat Al-kahfi secara tuntas sampai ayat terakhir. Jika terpaksa tidak sempat, maka bacalah hingga ayat 19 yg di dalamnya terdapat kalimah “walyatalaththof”.
🔹Surat ini termasuk dalam 3 serangkai dg dua surat sebelumnya yaitu An-Nahl dan Al-Isra. An-Nahl (Lebah) menerangkan kepada kita ttg kecerdasan intelektual/rasional. Di dalamnya dijelaskan tentang proses alamiah seekor lebah menghasilkan madu. Seseorang yg berusia 40 tahun dianjurkan untuk mengkonsumsi 1 sendok madu asli tiap hari untuk menjaga stamina.
Sementara Al-Isra, masuk dalam perpaduan kecerdasan intelektual dan spiritual. Ada wilayah tertentu dalam surat ini yang tidak bisa dijangkau oleh akal kita. Seperti peristiwa isra’ mi’rajnya Nabi saw. Di sinilah kita mulai dikenalkan dengan kecerdasan spiritual. Surat Al-Kahfi berada setelah Al-Isra. Dalam surat ini, seluruhnya tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Tidak bisa dipahami hanya dengan rasionalitas. Ex: kisah ashabul kahfi yg merasa tidur semalam padahal tertidur selama 309 th.
🔹Pengetahuan digolongkan dalam 2 macam: (1) yg diperoleh dari olah nalar/akal disebut ILMU (2) yg diperoleh dari olah batin disebut MAKRIFAT. Ilmu itu sedikit dan tidak bisa digunakan untuk mengarahkan manusia mengenal Tuhan. Maka jalan alternatif agar kita bisa berjalan lebih cepat menuju Tuhan adalah melalui makrifat. Saat ini kita sedang mengkaji tasawuf.
Ada orang yg berpendapat kalau mempelajari tasawuf itu artinya kita berjalan mundur. Padahal tidak! Tasawuf tidak melupakan rasio. Justru tasawuf memberikan ruang bagi akal untuk berkembang disamping juga mengasah qalbu. Nabi tidak pernah mengajarkan ilmu tasawuf (?) Memang jika yang kita cari adalah “merk” atau penamaan, maka tidak akan kita temukan ilmu tasawuf itu pada masa Nabi. Tapi lihatlah pada substansinya. Tasawuf hanya penamaan saja, isinya adalah ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw.
*Pengalaman Spiritual Musa dan Khidir (Al-Kahfi: 60-82)*
Siapa Musa? Beliau masih keturunan Nabi Ibrahim as. Sejak dlm kandungan sudah menderita sebab pada masa itu adalah masa Fir’aun berjaya. Ahli Nujum selaku penasehat Fir’aun bermimpi bahwa akan lahir seorang anak yg kelak menggantikan posisinya sebagai raja. Fir’aun tidak terima dan memerintahkan utk membunuh semua perempuan hamil. Beruntung ibunya Musa berhasil lolos krn perutnya tidak terlihat spt hamil. Ahli Nujum itu mengabarkan lagi bahwa calon bayi itu masih selamat. Lalu Fir’aun memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi di negeri itu. Dan dicurigailah rumah ibu Musa. Sementara itu, Ibu Musa sudah sedikit frustasi. Sampai-sampai dia berpikiran “daripada anakku mati di tangan Fir’aun lebih baik dia mati di tanganku”. Dengan berat hati dia menyembunyikan bayinya di atas pemanggang roti yang panas. Algojo pun tak berhasil menemukan bayinya. Satu2nya tempat yg tidak digeledah adalah pemanggang roti itu karena mereka berpikir tidak mungkin dijadikan persembunyian. Setelah algojo pergi, si Ibu dg lemasnya membuka pemanggang roti. Dia membayangkan bayinya telah mati terpanggang. Namun ajaib! Saat tutupnya dibuka, bayi itu justru tersenyum pada ibunya. Maasyaa Allah!
Karena cemas Fir’aun akan berulah lagi, Ibu Musa memutuskan untuk menghanyutkan bayinya ke sungai Nil. Lagi-lagi keajaiban terjadi, alih-alih mengalir dari hulu ke hilir, peti itu justru melawan arus dan berhenti tepat di belakang istana Fir’aun. Yg akhirnya ditemukan oleh istri Fir’aun yg sdg mandi. Melihat bayi itu, Asiyah begitu gembira. Apalagi sudah lama belum dikaruniai putra. Maka dia membujuk suaminya agar diizinkan untuk merawat bayi itu. Asiyah tercatat sebagai salah satu perempuan mulia yang disebutkan oleh Nabi karena ketaatannya meski pada akhir hayatnya harus disiksa oleh suaminya sendiri. Saat musa kecil mulai rewel krn minta ASI, Asiyah mencarikan ibu susuan utk anak angkatnya. Dan satu2nya perempuan yg berhasil menenangkan bayi Musa ternyata tak lain adl Ibu kandungnya sendiri. Musa pun disusui olehnya. Ibunya sudah merasa bhw bayi itu adl anaknya namun dia ttp bungkam demi keselamatan putranya.
Kisah rumah tangga Fir’aun menunjukkan bahwa tidak mesti orang jahat selalu dikelilingi orang jahat. Begitu pula sebaliknya. Jangan mudah menilai seseorang dari nasab atau lingkungan keluarganya. Istri paling shalihah justru istrinya orang paling jahat (Fir'aun). Anak yg paling buruk justru anaknya nabi Nuh. Paman paling jahat justru pamannya Nabi saw. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan dirinya masing2. Maka itu, jangan hanya mengandalkan nasab! Wajar bila orang baik lahir dari orang tua yg baik, tapi itu tidak menjamin. Tetap harus ada pendidikan yg diberikan orang tua pada anak agar menjadi baik.
Ketika sudah besar, Musa berhasil mengalahkan Fir’aun dan Allah memberinya mukjizat dapat membelah lautan yg akhirnya menenggelamkan Fir’aun. Saat menyeberangi laut merah, Fir'aun mengendarai kereta kencana yg ikut tenggelam. Pd th 80an, seorang arkeolog menemukan fosil kereta tsb di dasar laut merah. (Allahu Akbar! Terbukti bahwa kisah ini nyata terjadi)
Kecerdasan Musa sangat tinggi sehingga dia bisa bercakap-cakap dg Allah (Kalimullah). Dilatarbelakangi pernyataan dari seorang khadimnya bahwa dia orang paling ‘alim, kemudian Allah berfirman bahwa ada yg lebih alim. Maka Musa antusias untuk berguru padanya. Ternyata yg dimaksud adalah Khidir. Sikap Musa menujukkan bahwa utk bisa memperoleh ilmu, seseorang harus tawadhu’ dan mau terus belajar dari siapapun. Bahkan Musa yg memiliki kecerdasan luar biasa pun masih mau belajar. Apalagi kita?
Dalam ayat tsb Musa menyatakan dia akan berjalan hingga melihat bertemunya dua lautan (majma’al bahrain). Dalam tafsir Ar-Razi, yang dimaksud dua lautan itu bukan secara harfiahnya namun itu perumpamaan ilmu. Lautan menjadi simbol keilmuan. Bertemunya 2 lautan menggambarkan bertemunya epistimologi ilmu barat dan ilmu timur. Ilmu yang berasal dari barat adl mengedepankan rasionalitas. Sementara ilmu yg berasal dari timur adl mengasah spiritualitas. Jika keduanya mampu dipadukan dalam diri seseorang, maka dia telah menjadi manusia kamil. "Secerdas2nya akal manusia, hatinya tetap butuh sentuhan".
Kisah perjalanan Musa dan Khidir mengajarkan kita beberapa hal:
1.Tawadhu’ dan jangan sombong jika ingin memperoleh ilmu
2.Sabar dalam menuntut ilmu, artinya sabar juga untuk menaati guru
3.Jangan bersikap tadbiir (terlalu banyak bertanya/membantah)
4.Jangan mudah menyimpulkan sesuatu, sebab tiap kejadian tentu ada hikmah pelajaran yang dapat dipetik
Wallahua’lam bis showab~