“Aku tak pernah menyangka sebelumnya, semua yang sudah ku lalui bersamanya kini sirna sebelum mentari kembali bersinar. Dan permata pun, tak pernah sampai di ujung senja..”
Pagi itu, aku hanya bisa memandangi wajah di album kecil itu. Wajah yang telah memberi warna dalam hidupku, mengubah mendung menjadi pelangi. Mas Irul, begitu panggilan akrabku padanya. Nama aslinya adalah Khairul. Dialah orang yang melengkapi hidupku, sekarang dan selamanya tak akan pernah terganti..
“Bunda…!”
Pemuda gagah nan bermata sayu itu menghampiriku, satu – satunya permata hatiku dengan Mas Irul.
“Bunda lagi ngapain?”, langkahnya mendekat
Dengan sigap aku tutup lembaran album itu, kutundukkan sejenak kepalaku sambil menyeka airmata yang membasahi pipiku. Aku tak ingin dia melihatnya. Malu rasanya jika aku harus menangis di hadapan putraku. Sosok Ibu yang selama ini dia kenal tegar, tak mungkin tiba – tiba terlihat menangis dihadapannya. Meski terkadang aku sering menangis dalam diam..
“ gak apa – apa, Nak.. Bunda hanya melihat – lihat foto”, sahutku sambil tersenyum
“ Bunda lagi kangen ya sama Ayah?”
Aku hanya tersenyum memandangi matanya yang sayu, mengingatkanku akan sosok seseorang yang dulu pernah kukagumi. Tanpa sadar airmata itu menetes perlahan, kali ini aku benar – benar tak bisa menahannya. Kerinduan yang teramat dalam aku pendam akhirnya meluap juga.
“ Bunda nangis?? maafin Hafiz ya Bun, udah buat Bunda sedih”
“tidak Nak, Bunda gak sedih. Ini adalah airmata rindu.”
“percayalah Bunda, Ayah juga merindukan Bunda di Surga”, katanya sambil menyunggingkan senyum
“amiin,, iya Nak bunda percaya itu. Oh iya, bagaimana dengan besok? Sudah siap semuanya kan?”
“Alhamdulillah sudah Bun, tinggal siapin mental aja. Hehehe”
Besok adalah hari besar untuk putraku. Hari yang pernah aku lalui bersama ayahnya 29 tahun silam. Saat itu usiaku baru menginjak 21 tahun, 3 tahun lebih muda dari suamiku. Melihat anakku berbahagia dengan calon pasangannya, mengingatkanku akan sosok Mas Irul yang selalu aku damba menjadi ayah dari putra-putriku.
Kedekatanku dengan Mas Irul diawali dari belajar bersama. Ya, dia adalah kakak tingkat ku selama kuliah. Kami kuliah di satu kampus dan satu jurusan, sehingga tak jarang intensitas bertemu pun semakin sering. Namun tak semudah itu rupanya, untuk bertemu denganku dia harus mencari – cari alasan dulu, karena memang aku tak mau sering bertemu apalagi dengan seorang cowok.
Sejak jaman SMA dulu, aku memang dikenal sebagai seorang aktifis dakwah. Teman-teman ku pun kebanyakan adalah cewek, atau kala itu kerap disebut “akhwat”. Aku disegani oleh hampir semua teman sekelasku, terutama para putranya. Keadaan itu yang membuatku nyaman dan tak pernah berpikiran untuk mempunyai teman lawan jenis atau pacaran yang tengah menjadi trend pada masa itu. “Gak pacaran tuh gak gaul”, begitulah slogan mereka. Yayaya, aku hanya tersenyum mendengarnya.
Hidupku berubah semenjak aku masuk di bangku perkuliahan. Teman – teman yang dulu menjadi sandaran kala imanku turun, kini sudah punya kehidupan masing – masing. Dan aku sendirian di kampus ini. Pergaulan semakin bebas, teman – temanku pun tak hanya perempuan. Saat itulah, aku mulai membuka diri untuk bergaul dengan laki – laki. Yang jadi peganganku adalah, asalkan niatnya tidak macam – macam.
Aku mempunyai seorang teman dekat, dialah orang yang pertama kali aku kenal di kampus itu. Dan dia juga yang memperkenalkan aku dengan Mas Irul. Zizi, itulah sapaanku untuk Nazimah temanku. Kami berdua sudah sangat akrab meski kosanku jauh dari tempatnya. Kosan dia persis di belakang kampus, jadi tak jarang aku menyambangi kamarnya untuk sekedar istirahat saat jeda kuliah. Nah disitulah pertama kalinya aku melihat Mas Irul.
Awalnya aku mengira bahwa mereka berdua pacaran, sangat terlihat dari kontak tubuhnya yang begitu akrab dan tanpa batas. Berjabat tangan bahkan sampai merangkul.
“hahaha,, Ais..Ais.. kamu itu ngaco deh”, jawabnya sambil tertawa lepas saat kutanyakan hubungannya dengan Mas Irul
“lho, ngaco gimana sih? Orang udah jelas terlihat Zi, kamu itu kebablasan bergaulnya. Apalagi sekarang kamu kan udah berjilbab, gak pantes lah kalo rangkul – rangkulan sama cowok”, sanggahku tegas
“Aisyah sayang, kak Irul itu abang gue. Masa sama abang sendiri aja gak boleh bersalaman sih.. hahaha”
Dia masih menertawakan pertanyaanku dan jawabannya itu membuatku speechless menahan rasa malu.
“ohh,, kakakmu toh”, sahutku lirih
Sejak saat itulah, aku buang jauh – jauh pikiran negative tentang mereka.
Perkuliahan semakin berat, banyak materi yang masih belum nyangkut di otakku. Zizi mengajakku untuk ikut belajar bersama dengan kakaknya. Sekali dua kali kita belajar, akhirnya ketagihan juga. Bagaimana tidak, Mas Irul menjelaskan materi dengan begitu gamblang bak seorang dosen (atau bahkan lebih baik dari dosenku #ups). Hal pertama yang membuatku kagum padanya adalah saat aku tahu bahwa dia sedang berpuasa senin – kamis. Padahal setengah-harian dia ngomong panjang lebar demi mengajari kami berdua. Namun kekagumanku itu segera aku simpan rapat – rapat dan aku jadikan motivasi agar aku bisa menirunya.
Belajar bareng itu terus berlanjut hingga menjelang UAS. Wow! Betapa kagetnya aku saat hari pertama UAS, tiba – tiba aku dapat sms di pagi buta. Ya, seperti biasa aku bangun sebelum subuh untuk sekedar qiyamullail dan sahur, karena hari itu adalah hari senin.
Dari : +62856180xxxx
Semangat…!!! :-)
Benar – benar pengalaman pertamaku mendapat sms seperti itu. Hari pertama ku biarkan saja sms itu dlm inbox ku tanpa balasan. Namun rupanya si pengirim tak jera juga, setiap pagi selalu ada sms itu di inbox ku dengan nomor pengirim yang sama. Akhirnya aku balas sms itu, ku tanyakan siapa pengirim nya. Dan saat aku mendapat balasan bahwa si pengirim itu tak lain adalah pengajarku, Mas Irul. Aku hanya senyum – senyum tersipu malu di depan layar Handphone ku.
Kedekatanku pun berlanjut saat Mas Irul mulai sering mengirimiku pesan. Untuk sekadar menanyakan kabar atau tentang perkuliahan. Entah apa sebabnya, suatu pagi aku hendak berangkat kuliah. Saat aku sedang bersiap – siap merapikan jilbabku, tiba – tiba jantungku berdegup kencang, perasaanku begitu gak enak. Dan ternyata sesampainya di kampus, aku berjalan berpapasan dengan Mas Irul. Sungguh aneh tapi nyata, setiap kali bertemu dengannya, kepala ini seakan enggan untuk menatap wajahnya dan jantung pun berdegup tak karuan. Tak ku pungkiri memang, kekagumanku itu tumbuh subur menjadi benih – benih suka. Ya, aku mulai jatuh hati padanya.
Mas Irul adalah seorang yang sangat sederhana. Kekagumanku kian bertambah saat aku tahu bahwa dia membiayai hidupnya sendiri selama di perantauan. Semua informasi itu aku dapatkan dari adiknya sendiri, Zizi.
“abang gue emang paling top deh, beruntung banget deh cewek yang bakal jadi istrinya”, celetuk dia saat aku bertanya tentang abangnya
“emang dia segitunya ya?”, tanyaku penasaran
“iya, dia itu belum pernah pacaran sama sekali lho. Beda banget sama gue. Dan dia itu kalo udah sayang sama orang bakalan kekeuh deh. Hahaha”
Semakin lama Zizi bercerita, aku semakin mendapat gambaran seperti apa sosok seorang Mas Irul itu. Namun aku masih tetap pada pendirianku, kupendam dalam – dalam kekagumanku, sampai akhirnya suatu hal yang mengejutkan itu terjadi.
Sore hari Handphone ku berbunyi tanda sms masuk. Ternyata dari Mas Irul, orang yang sedang kukagumi.
“Assalamu’alaikum,, Aisyah..”
“wa’alaikumsalam,, iya ada apa Mas?”
“boleh tanya sesuatu gak?”
“tanya apa?”
“Aisyah mau gak jadi istriku?”
Saat itu aku hanya terperanga menatap layar, tak seucap kata pun keluar selain kusebut nama Rabb ku “Astaghfirullah”
“hah?? Mas jangan bercanda deh, hahaha”, aku coba untuk mencairkan suasana
“gak kok, ini serius. Apa jawabnya?”
“gak bisa dijawab sekarang. Maaf ya, wassalam”
Obrolan mengejutkan itu pun terputus dengan jawaban “wa’alaikumsalam” darinya.
Beberapa hari setelah mendapat sms itu, aku benar – benar galau. Aku kabarkan hal itu pada Ibuku. Ya, beliaulah yang selalu memberiku nasihat saat aku ada masalah. Ibu menyarankan aku untuk istikharah dan menantang keseriusan Mas Irul. Beberapa hari aku memohon petunjuk sama Allah, dan akhirnya mendapat kemantapan untuk menanyakan keseriusannya. Kukumpulkan keberanianku untuk mengirim sms padanya. Karena jelas kami tak mungkin bertemu, terlebih lagi dia sudah lulus kuliah dan sedang bekerja.
“Assalamu’alaikum, Mas Irul lg sibuk?”
“wa’alaikumslm, gak kok. Ada apa Aisyah?”
“hemm,, gini, tentang pertanyaan yang dulu. Apa itu serius?”
“serius, InsyaAllah”
“kalo emg serius silakan ngomong langsung ke Ayah ku yaa. Berani gak?”
“hehehe, boleh minta nomernya?”
Jawabannya itu membuatku semakin mantap bahwa dia memang serius. Ya sudahlah, semua sudah diatur sama Allah. Namun tak seperti yang dibayangkan, ternyata Ayahku belum memberikan restu pada kami. Entah apa alasan Beliau, yang jelas aku tahu betapa hancurnya hati Mas Irul saat itu. Namun dia tetap berharap restu dari Ayahku.
Cerita tentang Mas Irul pun semakin sirna ditelan jarak dan waktu. Kata Zizi, sekarang dia sudah bekerja di Medan. Zizi tak tahu tentang kedekatan kami berdua. Tahun semakin berganti, tibalah saatnya aku Irulan akhir. Disaat aku sedang sibuk memikirkan nasibku untuk menghadapi Irulan, ternyata ayahku sedang mempersiapkan pertunanganku dengan anak sahabatnya. Ternyata inilah alasan yang membuat Ayahku menolak Mas Irul saat itu.
*bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)