Pernahkah suatu ketika kita menemui seorang pengemis dengan wajah lusuh, pakaiannya kumuh namun badannya masih segar bugar? Apa yang seketika itu ada di benak kita? Mungkin bukan merasa kasihan, tapi malah kita cibir dia habis-habisan. Astaghfirullah...
Masalah pengemis "jadi-jadian" ini memang sangat sering kita jumpai. Terutama di kota-kota besar. Saya jadi ingat saat masih tinggal di Pesantren, Gus Kholid pernah menceritakan kepada
para santri tentang akhlaknya Mbah Kyai Warson Munawwir (Allahu yarhamuhu) semasa
hidupnya. Kebetulan saat itu beliau sedang mengajar kitab “Nashoihu Al-‘ibaad”.
Dahulu ketika Gus Kholid masih sering nderekke
Bapak (panggilan akrab dari para santri), beliau pernah mengalami suatu
kejadian yang akhirnya menyadarkan beliau akan rasa kemanusiaan dan kasih sayang.
Jadi begini ceritanya…
Suatu hari Gus Kholid nderekke
Bapak ke suatu tempat. Saat itu beliau menjadi supir Bapak. Pada saat terkena macet di lampu merah,
datanglah seorang pengemis yang mengetuk kaca mobil beliau. Sekilas dilihat,
pengemis itu masih tergolong muda. Usia produktif, istilah ekonominya. Badannya pun masih terlihat bugar, masih kuat
untuk melakukan pekerjaan yang lebih layak. Melihat kondisi yang demikian,
tanpa sadar Gus Kholid sedikit mencibirnya. Beliau sangat menyayangkan seseorang
yang masih diberi tubuh yang segar bugar seperti itu kenapa malah jadi
peminta-minta? Beliau pun enggan memberikan uang receh pada si pengemis itu.
Namun ternyata Bapak justru memiliki pandangan yang berbeda. Bapak ngendhika begini,
“Jangan suka suudzon pada orang lain. Belum tentu dia tidak
lebih baik dari kita. Atau bisa jadi yang seperti itu adalah malaikat yang dikirimkan Allah untuk menguji kita.”
Kemudian Bapak melanjutkan ucapannya,
“Seharusnya kita ini yang bersyukur. Tidak perlu jauh-jauh mencari
tempat untuk sedekah, dia justru datang sendiri mengambil haknya. Timba nekani sumure dhewe. Setidaknya,
kita juga harus menghargai pengorbanannya. Dia mengorbankan muru’ahnya di hadapan orang lain (dengan
cara meminta-minta)."
Sejak saat itulah Gus Kholid tak pernah berani lagi berkomentar
setiap ada pengemis yang masih muda sekali pun yang meminta-minta padanya. Kalau
memang mau memberi ya memberi saja.
Semoga cerita singkat ini bisa kita ambil pelajarannya :)
“Setiap manusia sudah dijatah dengan rejekinya
masing-masing. Dengan cara seperti apa kita menjemputnya, itulah pilihan kita. Jika
sudah berusaha, niscaya Allah akan member kita rezeki dari mana saja yang tak
pernah kita duga. Min haitsu laa yahtasib!”
Wallahua’lam~





