Recent Posts

Rabu, 31 Desember 2014

Timba Nekani Sumur

Pernahkah suatu ketika kita menemui seorang pengemis dengan wajah lusuh, pakaiannya kumuh namun badannya masih segar bugar? Apa yang seketika itu ada di benak kita? Mungkin bukan merasa kasihan, tapi malah kita cibir dia habis-habisan. Astaghfirullah...
Masalah pengemis "jadi-jadian" ini memang sangat sering kita jumpai. Terutama di kota-kota besar. Saya jadi ingat saat masih tinggal di Pesantren, Gus Kholid pernah menceritakan kepada para santri tentang akhlaknya Mbah Kyai Warson Munawwir (Allahu yarhamuhu) semasa hidupnya. Kebetulan saat itu beliau sedang mengajar kitab “Nashoihu Al-‘ibaad”. Dahulu ketika Gus Kholid masih sering nderekke Bapak (panggilan akrab dari para santri), beliau pernah mengalami suatu kejadian yang akhirnya menyadarkan beliau akan rasa kemanusiaan dan kasih sayang. Jadi begini ceritanya…
Suatu hari Gus Kholid nderekke Bapak ke suatu tempat. Saat itu beliau menjadi supir Bapak.  Pada saat terkena macet di lampu merah, datanglah seorang pengemis yang mengetuk kaca mobil beliau. Sekilas dilihat, pengemis itu masih tergolong muda. Usia produktif, istilah ekonominya.  Badannya pun masih terlihat bugar, masih kuat untuk melakukan pekerjaan yang lebih layak. Melihat kondisi yang demikian, tanpa sadar Gus Kholid sedikit mencibirnya. Beliau sangat menyayangkan seseorang yang masih diberi tubuh yang segar bugar seperti itu kenapa malah jadi peminta-minta? Beliau pun enggan memberikan uang receh pada si pengemis itu. Namun ternyata Bapak justru memiliki pandangan yang berbeda. Bapak ngendhika begini,

“Jangan suka suudzon pada orang lain. Belum tentu dia tidak lebih baik dari kita. Atau bisa jadi yang seperti itu adalah malaikat yang dikirimkan Allah untuk menguji kita.”

Kemudian Bapak melanjutkan ucapannya,

“Seharusnya kita ini yang bersyukur. Tidak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk sedekah, dia justru datang sendiri mengambil haknya. Timba nekani sumure dheweSetidaknya, kita juga harus menghargai pengorbanannya. Dia mengorbankan muru’ahnya di hadapan orang lain (dengan cara meminta-minta)."

Sejak saat itulah Gus Kholid tak pernah berani lagi berkomentar setiap ada pengemis yang masih muda sekali pun yang meminta-minta padanya. Kalau memang mau memberi ya memberi saja.

Semoga cerita singkat ini bisa kita ambil pelajarannya :)

“Setiap manusia sudah dijatah dengan rejekinya masing-masing. Dengan cara seperti apa kita menjemputnya, itulah pilihan kita. Jika sudah berusaha, niscaya Allah akan member kita rezeki dari mana saja yang tak pernah kita duga. Min haitsu laa yahtasib!”


Wallahua’lam~
continue reading Timba Nekani Sumur

Kamis, 11 Desember 2014

SIKLUS BARU



Assalamu’alaikum,,
Hai Sahabat, apa kabar? Rasanya sudah lama sekali blog ini tak terurus. Maklum saja ya, beberapa bulan belakangan aku tengah disibukkan dengan urusan-urusan kedinasan. Jadi ceritanya Alhamdulillah nih ye, aku dan seluruh teman-teman angkatanku (STANers lulusan 2013) sekarang udah mulai menjalani masa-masa OJT (On the Job Training) semacam magang gitu di berbagai instansi kami masing-masing. Setelah penantian satu tahun lamanya, akhirnyaaa…. *terharu*

Alhamdulillah lagi, aku  dapat penempatan di Direktorat Jenderal Pajak dan dapat jatah magang di KPP Pratama Tegal (sesuai permintaan). Dari sini saja aku sudah merasa beruntung, karena apa? Aku masih bisa magang di daerah sendiri, setidaknya masih bisa berlama-lama di rumah sebelum akhirnya penempatan definitive. Ya meskipun jarak dari rumah ke kantor bisa dibilang lumayan jauh (sekitar 40km) tp sejauh ini belum jadi masalah berarti buatku. Yang jauh lebih penting adalah aku masih bisa pulang ke rumah.
Masa awal-awal mulai bekerja memang tergolong berat.
continue reading SIKLUS BARU

Sabtu, 08 November 2014

"Goodbye"


*sebuah lagu yang melegenda dan liriknya menyayat hati T_T

I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have so much more
I can feel your heart and I sympathize
And I'll never criticize all you've ever meant to my life
[Chorus]
I don't want to let you down
I don't want to lead you on
I don't want to hold you back
From where you might belong
You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to say but good- bye
You deserve the chance at the kind of love
I'm not sure I'm worthy of
Losing you is painful to me
(Chorus) You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to try
Though it's gonna hurt us both
There's no other way than to say good-bye
continue reading "Goodbye"

Sabtu, 20 September 2014

Zakat, Sebuah Jihad yang Terabaikan

Membicarakan zakat tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Zakat merupakan rukun Islam ke-tiga yang wajib kita tunaikan sebagai seorang Muslim. Secara garis besar, ada dua jenis zakat yang disyariatkan oleh agama Islam, yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Mal. Dalam tulisan ini saya ingin lebih mengerucutkan pembahasan hanya pada zakat mal. Perbedaan pada kedua jenis zakat tersebut terletak pada syarat wajibnya. Zakat fitrah itu hukumnya WAJIB ditunaikan oleh setiap muslim sejak dia lahir ke dunia dan gugur kewajiban tersebut ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Sedangkan zakat mal hanya wajib ditunaikan bagi mereka yang sudah memenuhi persyaratan tertentu. Misalnya syarat telah mencapai haul dan nishob. Lalu untuk apa zakat (mal) ini dikeluarkan?
Di dalam Alqur’an (Q.S At-Taubah : 103), telah disebutkan bahwa zakat bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan (harta dan jiwa) Muzakki, yaitu orang yang mengeluarkan zakat. Hal itu merupakan salah satu manfaat secara pribadi yang didapatkan oleh Muzakki. Padahal jika kita mau menelisik lebih jauh, Allah tentu telah menyiapkan berbagai manfaat lain yang tersimpan di balik kewajiban berzakat tersebut. Tidak hanya yang bersifat pribadi, adanya zakat ini juga memiliki manfaat sosial yaitu terbentuknya sebuah sistem pemerataan kesejahteraan umat. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak dahulu kala, dalam kehidupan bermasyarakat akan selalu muncul kelas-kelas sosial. Ada si Kaya tentu harus ada si Miskin. Hubungan di antara keduanya merupakan sebuah keniscayaan dan karenanya maka terbentuklah gap (kesenjangan sosial) antara si Miskin dan si Kaya. Untuk meminimalisir kesenjangan sosial ini, Islam sudah mengaturnya secara sempurna  yaitu melalui Zakat. Orang kaya yang mempunyai harta berlimpah, atasnya dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat. Sementara yang miskin memiliki hak untuk menerimanya. Begitu indah kan aturan Islam? 
continue reading Zakat, Sebuah Jihad yang Terabaikan

Rabu, 25 Juni 2014

Perkara Darah #tambahan "Hukum wanita keguguran"

Bismillahirrohmaanirrohiim...
Melengkapi tulisan kemarin yang sudah hampir tenggelam (hehehe) tentang Jenis-Jenis Darah. Di dalam tulisan itu saya janji akan menyampaikan jawaban dari pertanyaan "wanita hamil yang keguguran itu bagaimanakah hukumnya? Apakah dipersamakan dengan nifas atau tidak?" Alhamdulillah sekarang saya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu. Berikut ini jawabannya saya kutip dari forum tanya jawab di website Majelis Rasulullah.

Saudaraku yg kumuliakan,
keguguran dan mengeluarkan darah atau butiran daging atau telah berwujud bayi, kesemuanya terhukumi nifas hingga darahnya berhenti,

nifas tak mesti 40 hari, bisa hanya sesaat, jika darahnya berhenti maka ia suci walau belum 40 hari, 

dalam madzhab syafii nifas paling sedikit masanya adalah sesaat (keluar darah lalu berhenti) maka ia suci, dan paling lama adalah 60 hari, jika lebih dari 60 hari maka sudah bukan darah nifas, namun bisa haid atau istihadhah.
namun Imam Syafii mengatakan umumnya adalah 40 hari, namun bisa lebih atau kurang dari 40 hari, kesuciannya adalah tergantung masa berhenti darahnya, asal belum mencapai 60 hari.

Wallahu a'lam
Semoga cukup menjawab pertanyaan kemarin. Semoga bermanfaat :)
continue reading Perkara Darah #tambahan "Hukum wanita keguguran"

Selasa, 24 Juni 2014

Adakah Tuma'ninah dalam Wudhu?

Maghrib menjelang. Gemericik air dari kran-kran kamar mandi mulai santer terdengar. Sudah menjadi rutinitas santriwati di sini, ketika adzan maghrib berkumandang, mereka berbondong menuju pemandian. Ada yang mengantri mandi, ada yang sekadar mampir cuci kaki sepulang beli lauk, ada pula yang langsung mengambil air untuk berwudhu. Seringnya, antrian menjadi begitu panjang hingga sampai di depan kamar. Bagaimana tidak? Kran yang hanya berjumlah 3 buah itu diperebutkan oleh kurang lebih 50 orang. Tak hanya mengantri kran, mereka juga mengantri alas kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi. Karena begitu ramainya, tak jarang wudhu pun menjadi tergesa-gesa.
Suatu ketika di tengah antrian yang panjang itu, aku mendapati seorang santri yang berwudhu dengan begitu sigapnya. Bahkan jika dihitung-hitung, kurang dari 1 menit dia bisa menyelesaikan wudhunya. Sempat kuperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya. Tanpa basa-basi, seperti halnya orang kebanyakan yang berkomat kamit sebelum mengambil air, dia langsung mengambil air dan membasuh wajahnya tiga kali tanpa jeda. Kemudian membasuh kedua tangannya dimulai dari lengan kanan-kiri-kanan secara sigap pula. Entah basuhannya itu sampai siku atau tidak. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena begitu cepatnya dia bergerak. Dilanjut menepuk kepala bagian depan tiga kali. Puk puk puk. Lalu mengusap kedua telinga dengan gerakan yang sangat cepat pula. Dan yang terakhir, dia alirkan air ke kedua kakinya hingga lutut (tanpa menggosoknya) secara berulang-ulang. Kanan-kiri-kanan-kiri-kanan-kiri. Sampai-sampai aku tak bisa menghitung jelas berapa kali dia melakukannya. Aku tak ingin berprasangka macam-macam, aku hanya mengira mungkin dia ini sudah sangat ‘alim sehingga bisa begitu sigap dalam berwudhu. Berbeda denganku yang masih awam dan perlu latihan pelan-pelan. Dalam batin aku hanya bergumam, “Jika wudhuku seperti itu, apa iya aku masih bisa menghadirkan Tuhan di setiap gerakanku?” atau tak perlu jauh-jauh sok menghadirkan Tuhan lah, yang mendasar saja, “Apakah aku bisa menjamin wudhuku itu sudah sempurna? Gerakannya sudah memenuhi syarat sah?”. Pertanyaan-pertanyaan itu seketika meletup di atas kepalaku.
Tentu kita semua sudah paham, bahwa di antara syarat sahnya sholat adalah suci dari hadast. Salah satu caranya yaitu dengan berwudhu. Jadi jika wudhunya saja tidak sah, bagaimana dengan sholat dan ibadah lainnya?
Memang menurut ilmu Fiqih, di dalam wudhu tidak ada rukun Tuma’ninah sebagaimana disebutkan di dalam rukun sholat.
continue reading Adakah Tuma'ninah dalam Wudhu?

Selasa, 20 Mei 2014

Lebih Dekat dengan “Pram”

Seorang kawanku pernah berkata saat dia mengetahui keberadaanku di Jogja.
“Mumpung sedang di Jogja, coba baca tetraloginya Pram”
“Pram? Prambanan?”, jawabku polos.
“Bukan! Pramoedya Ananta Toer”
Aku hanya ber-ooo-ria sambil tersipu menahan malu yang memenuhi wajahku.

Itulah awal perkenalanku dengan sosok legendaris yang satu ini. Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pram, adalah seorang penulis produktif pada masa orde lama-orde baru. Karya-karyanya banyak menimbulkan penolakan dari pihak penguasa pada masa itu karena dianggap “berbahaya”. Pram juga dituduh sebagai pengikut golongan kiri yang pada saat itu keberadaannya tidak diperkenankan. Diantara karya Pram yang terkenal adalah sebagaimana direkomendasikan kawanku itu, Tetralogi Pulau Buru. Novel berlatar belakang kolonialisme ini ditulis Pram pada saat dirinya diasingkan di Pulau Buru akibat tuduhan sebagai antek PKI. Terdiri dari 4 buku, yaitu: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sampai sekarang saya belum juga bisa menghabiskan keempatnya, masih tertahan di buku ke-2. Novel Pram ini memang tergolong novel yang berat, dengan gaya bahasa sastra lama dan latar belakang sejarah bangsa. Di dalamnya Pram sangat jelas sekali menggambarkan bagaimana kondisi bangsa kita pada masa penjajahan. Pram sangat pandai dalam menggugah imajinasi pembacanya. Dengan mengusung semangat anti-feodalisme dan anti-kolonialisme, Pram membawa kita –para pembacanya- seakan kembali lagi ke masa itu dan merasakan sendiri kondisi saat itu. Saya sendiri saat membaca Bumi Manusia, rasanya seolah sosok Nyai Ontosoroh itu benar-benar ada.
Selain tetralogi Pulau Buru itu, masih banyak sekali karya-karyanya  yang tidak kalah bagus, seperti novel Arus Balik dan Panggil Aku Kartini Saja. Itu semua adalah buah pemikiran hebat seorang Pram. Meski karyanya dilarang terbit bahkan langsung dimusnahkan di Indonesia, Pram justru memiliki nama yang besar di kancah Internasional. Beberapa karyanya ada yang diterjemahkan dalam bahasa asing. Pram juga menerima banyak penghargaan Internasional di bidang sastra. Ya, dialah Pram dengan segala kontroversinya. Sebuah sejarah yang terhapus oleh sejarah.
continue reading Lebih Dekat dengan “Pram”

Jumat, 02 Mei 2014

Manusia Cakap, Cermin Keberhasilan Pendidikan

pic from infoakademika.com
Hari ini adalah tanggal 2 Mei, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebagaimana telah kita ketahui bersama, sistem pendidikan di negeri kita ini sedang berusaha untuk terus menerus diperbaiki. Masih melekat di ingatan kita tentunya beberapa kali kurikulum pendidikan kita mengalami perubahan. Mulai dari kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), KTPS (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga yang baru-baru ini diterapkan yaitu Kurikulum 2013. Pada kurikulum yang terbaru ini, perbedaan mencolok terlihat dari banyaknya mata pelajaran yang diajarkan. Adanya pengelompokan mapel ke dalam 2 jenis yaitu mapel wajib dan mapel pilihan. Kurikulum ini lebih mengutamakan pada pemahaman, skill dan pendidikan karakter para peserta didik. Siswa dituntut untuk bisa memahami setiap materi yang diajarkan, aktif dalam berdiskusi serta memiliki perilaku yang baik. Dengan penyesuaian pendidikan karakter ini pula, untuk siswa SD tidak diberikan mapel pilihan, sehingga akan ada beberapa mapel yang dihilangkan dalam pembelajarannya. Jika dilihat dari visi yang diusung oleh kurikulum ini, saya rasa sistem pendidikan kita ini sudah cukup baik dalam mengakomodir seluruh potensi dalam diri seseorang. Aspek pengetahuan yang diimbangi dengan keterampilan (skill) dan pendidikan karakter ini diharapkan dapat mencetak insan-insan yang berkualitas. Namun sejauh ini ternyata sistem tersebut hanya berakhir pada sebuah teori belaka jika tidak diaplikasikan dengan sebenar-benarnya. Fakta yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya. Banyak kita dengar berita tawuran, perkelahian antar siswa hanya gara-gara masalah asmara, bunuh diri karena tak lulus ujian dan tak kalah heboh adalah kasus asusila yang menjangkiti remaja kita. Adakah yang salah dengan sistem ini? Barangkali masyarakat belum seluruhnya paham tentang arti pendidikan yang sesungguhnya. Yang mereka ketahui, orang berpendidikan itu adalah yang ber-title dan bersekolah tinggi. Padahal pendidikan tidak hanya disimbolkan dengan gedung sekolah dan gelar saja. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana isi yang ada di dalam kantong yang bernama pendidikan ini dan bagaimana ia dapat diaplikasikan dengan baik nantinya. Karena pendidikan tidak hanya berbicara tentang teori tetapi juga aplikasi.
Menurut hemat saya, keberhasilan suatu pendidikan dapat dilihat dari 3 aspek, yaitu Kemampuan intelektual, kedalaman spiritual dan kepekaan sosial.
continue reading Manusia Cakap, Cermin Keberhasilan Pendidikan

Selasa, 15 April 2014

Perkara Darah #2 "Mengenali jenis-jenis darah"

Bismillahirrohmaanirrohiim...
Melanjutkan tulisan terdahulu tentang Perkara Darah, pada postingan kali ini saya akan mulai mencoba membahas lebih spesifik tentang “darah”. Sebagaimana telah saya kemukakan sebelumnya, masalah darah ini merupakan masalah yang sangat penting dan WAJIB diketahui hukumnya oleh seorang wanita. Apabila seorang wanita yang belum paham tentang masalah darah ini menikah, maka suaminya juga mempunyai kewajiban untuk mengajari dan membimbing istrinya. Dan apabila ternyata suaminya ini juga tidak paham mengenai hal ini, maka si istri ini harus belajar kepada seorang guru dan si suami tidak boleh melarangnya. Ingat ya! Dosanya istri juga nantinya akan menjadi tanggung jawab suami lhoo... Makanya bagi para istri dan calon istri, yuk belajar lagi tentang perkara ini. Meskipun kewajiban utama ada di tangan suami tetapi setidaknya dengan kita belajar dan memahami masalah ini, kita dapat sedikit meringankan beban suami kita nanti. (hehehe malah jadi ngelantur ini.. yuk deh kembali ke fokus awal!)
Dalam ilmu fiqih, darah yang keluar dari farji (kemaluan) wanita dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu Haidl, Nifas dan Istihadloh. Mari kita bahas satu per-satu tentang macam-macam darah ini:
continue reading Perkara Darah #2 "Mengenali jenis-jenis darah"

Selasa, 18 Maret 2014

Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita

Di tengah hiruk pikuk persiapan menghadapi TKD yang katanya masih "dalam waktu dekat" ini, aku sempatkan untuk membaca e-book materi TWK tentang “Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang diterbitkan langsung oleh MPR RI. Tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk membuka kembali folder-folder memori jaman SD dulu. Tentu sudah tak asing lagi bagi kita mendengar kata "Pancasila". Masih ingat bukan? Saat upacara bendera setiap hari Senin, tak pernah ketinggalan lima sila ini kita bacakan. Ya, mungkin saat itu aku hanyalah anak usia 8 tahunan yang lagi "gemawok" (senang-senangnya) memamerkan hafalan di depan guru-guru dan peserta upacara. Pancasila saat itu hanya sebatas ucapan di bibir saja, tanpa kupahami apa yang sebenarnya aku hafalkan itu. Namun seiring bertambahnya usia dan jenjang pendidikan yang kutempuh, barulah aku sadar bahwa ternyata yang dulu aku hafalkan itu adalah sesuatu yang mempunyai nilai sangat besar dan bukan hal yang sembarangan. Ia adalah buah pikir dan hasil kerja keras dari para pendahulu kita. 
Coba sejenak kita bayangkan kembali situasi Mei-Juni 68 tahun silam. Saat dimana para Bapak Bangsa berusaha keras memeras otak dan tenaga untuk merumuskan bagaimana Indonesia Merdeka. Apa yang akan menjadi dasar negara kita jika nanti Merdeka? Cukupkah sampai pada kata "Merdeka" yang terus menerus digaungkan kaum muda? Hmmm rupanya tidak. Para Pendiri Bangsa ini bertindak penuh pertimbangan.
continue reading Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita

Kamis, 20 Februari 2014

Jumat, 14 Februari 2014

Kemelut Gunung Kelud, Mungkinkah Tuhan Hendak Sembuhkan Kita?

Suasana pagi hari ini dikejutkan dengan berita meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur. Menurut berita yang beredar, Gunung Kelud mengalami erupsi puncaknya pada pukul 22.50 WIB (13/02/2014) yang sebelumnya dinyatakan berada dalam status “Awas” pada pukul 22.15 WIB.  Aktivitas gunung ini memang tergolong sangat cepat sehingga tanpa berita yang menghebohkan sebelumnya, tiba-tiba sudah meletus saja. Menurut pengakuan dari seorang kawan saya di Tegal, suara dentumannya terdengar sampai sana. Padahal jika dilihat dari jaraknya dengan posisi Gunung Kelud, Tegal masih tergolong sangat jauh. Ini menandakan betapa dahsyatnya letusan semalam. Allahu Akbar!

atap rumah terselimuti abu vulkanik
(Krapyak, 14/02/2014 06.05 a.m)
Sementara itu, saya yang berada di Jogjakarta, menerima kiriman hujan abunya. Sedari dini hari tadi, hujan abu turun dengan derasnya. Sampai terdengar pengumuman dari pengeras suara masjid setempat bahwa warga diimbau untuk tidak keluar rumah kecuali jika memang sangat mendesak. Hmmm,, baru sekali ini saya merasakan hujan abu seperti ini. Semalam ketika hendak beranjak tidur, sekitar jam 12 malam lewat, saya sempatkan diri membuka facebook dan langsung disuguhi berita tentang Gunung Kelud ini. Di Timeline Twitter pun sudah ramai membicarakannya. Seketika itu saya membayangkan, tengah malam dalam keadaan gelap gulita –karena listrik disana padam- mendengar dentuman-dentuman yang sewaktu-waktu bisa saja mengancam. Masya Allah,
continue reading Kemelut Gunung Kelud, Mungkinkah Tuhan Hendak Sembuhkan Kita?

Kamis, 06 Februari 2014

Aku Tak Pernah Menyangka


Aku tak pernah menyangka
Saat diri dirundung duka
Tuhan hadir hapuskan lara
Meski aku jatuh dan hilang rupa
Namun Dia tetap setia

Aku tak pernah menyangka
Ketenangan yang aku minta
Tuhan balas curahan nikmat tiada tara
Berbalut malu sekujur jiwa raga
Aku merangkak menuju pada-Nya

Aku tak pernah menyangka
Baru sejengkal saja aku mendekat
Tuhan justru merangkulku tanpa sekat
Seakan tak ada salah yang kuperbuat
Padahal dosa-dosa ini kian memekat

Aku tak pernah menyangka
Kesedihan yang aku rasa
Tuhan gantikan dengan Bahagia
Dia lah penawar batin yang tengah tersiksa
Hingga aku lupa bagaimana rasanya luka

Sungguh aku tak menyangka
Janji itu benar adanya
Dia tak pernah pergi walau sekejap mata
Masih setia menanti kedatangan para hamba

Wahai Tuhan,
Aku enggan mengakhiri kemesraan
Sudah cukup Kau selalu menguatkan
Entah sampai kapan aku merasa nyaman
Yang kumau Kau tak pernah tergantikan

Pesarean, 6 Februari 2014
Bersama rintik hujan,
(Fauziyah)



continue reading Aku Tak Pernah Menyangka

Sabtu, 25 Januari 2014

MEMINANG ALQUR'AN

pic from unipdu.ac.id
ALQUR’AN, tak lain adalah kitab suci umat Muslim. Sebuah mukjizat agung dari Sang Ilahi yang diberikan kepada Kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. Pernahkah terbesit dalam benak kita, “sudah seberapa sering kita mendengarkan ayat-ayat suci ini dilantunkan namun berapa kali kah hati ini tergetar olehnya???” . Alqur’an adalah sebuah mahakarya yang luar biasa dari Allah SWT. Bahasa Alqur’an –meskipun dalam bahasa Arab- sangatlah berbeda dengan bahasa arab yang biasa digunakan untuk percakapan sehari-hari. Padahal bahasa Arab sendiri adalah bahasa yang paling sempurna dan mempunyai tingkatan tertinggi di antara bahasa-bahasa lain di seluruh dunia. Karena tata bahasanya yang sangat lengkap seperti halnya “Tashrif-an” dan begitu banyak perubahan dalam setiap kosa katanya. Allah SWT menurunkan Alqur’an kepada Bangsa Arab, bukan bangsa yang lain, karena Bangsa Arab adalah Bangsa yang sangat menyenangi sastra. Pada masa itu, penyair dianggap sebagai orang yang memiliki kekuatan supranatural –dibantu oleh Jin- sehingga dia bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat indah. Bahasa Alqur’an sendiri memiliki nilai sastra yang sangat tinggi dan tak ada seorang pun yang dapat membuat tandingan dari ayat-ayat Alqur’an. Coba saja perhatikan di setiap akhir ayat surat Al-Fiil, selalu diakhiri dengan bunyi yang sama. Begitu juga dalam surat At-Tiin. Maka tidak heran ketika Rosulullah membacakan ayat-ayat Alqur’an di hadapan bangsa Arab kala itu, beliau dianggap sebagai orang yang “majnun” dalam artian seperti kerasukan jin sehingga bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu indah. Berulang kali pula Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya bahwa Alqur’an ini adalah benar-benar dari-Nya. (Silakan buka surat As-Sajdah ayat 2 dan 3).
continue reading MEMINANG ALQUR'AN

Kamis, 16 Januari 2014

Perkara Darah #1 "Pentingnya Wanita Paham Bersuci"

Woman is complicated!

Wanita hidup dengan berbagai kodratnya. Salah satunya yaitu setiap bulannya wanita mengalami menstruasi. Memang benar, wanita itu rumit. Tapi justru dengan segala kerumitannya itulah yang menjadikan wanita begitu istimewa. Sebagai seorang wanita muslim, sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk menjaga kesucian. Bagaimana kita mau beribadah jika tidak dalam keadaan suci? Padahal salah satu syarat sahnya ibadah adalah "suci dari hadast dan najis". Karena begitu pentingnya masalah bersuci (Thaharah) ini hingga dalam beberapa -bahkan hampir semua- kitab Fiqih, yang pertama kali dibahas adalah masalah "Thaharah". 
pic from majalah.hidayatulloh.com
Bersuci di sini tidak hanya sekadar bersih dari kotoran yang kasat mata saja. Melainkan juga harus bersih dari segala najis dan juga hadast. Najis sendiri ada dua macam, yaitu Najis Hukmiyah (yang tidak tampak mata contohnya kencing yang sudah mengering) dan Najis 'Ainiyah (yang tampak mata).
continue reading Perkara Darah #1 "Pentingnya Wanita Paham Bersuci"

Rembang Punya Cerita

Ada apa dengan Rembang? Begitu mempesonakah ia hingga membuat aku gelimpungan setiap mendengar apa pun yang berkaitan dengannya. Mulai dari Taman Kartini, Pulau Karang, Dampo Awang, para tokohnya hingga Plat-K (padahal Plat-K itu bukan hanya untuk Rembang). Haha, mungkin ini memang lebay tapi aku sendiri juga merasa heran dengan diriku. Apa sih istimewanya kota ini? Well, dan ini adalah tulisan khusus dariku tentang kota kecil di ujung timur provinsi Jawa Tengah itu.
continue reading Rembang Punya Cerita
Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.