Recent Posts

Selasa, 22 Desember 2015

PARENTING

Dewasa ini sudah marak berbagai media yang mempromosikan bagaimana cara terbaik untuk mendidik anak. Mulai dari buku, seminar bahkan mainan anak yang semuanya mengusung tema besar yaitu "Parenting". 
pic from FP Santrijagad
Anak adalah sebuah amanah yang dititipkan kepada orang tua. Mau menjadi seperti apakah anak itu kelak, tak lepas dari peran serta Ibu Bapaknya. Karenanya pendidikan dini bagi anak menjadi sangat penting. Namun, kemampuan mendidik tak hanya sebatas penguasaan ilmu parenting saja. Ada hal lain -yang mungkin di luar nalar- yang justru menjadi kunci utama dalam membentuk kepribadian anak. Apa itu? Tirakat atau Riyadloh atau Mujahadah atau apalah itu namanya yang intinya adalah berkaitan dengan upaya batin yang dilakukan baik oleh si Ibu maupun Bapaknya. Ilmu parenting mungkin akan bisa diterapkan sejak bayi mungil itu lahir, tapi tidak dengan tirakat. Upaya ini bisa dimulai jaaauuuh sebelum bayi itu lahir ke dunia, bahkan sebelum calon orang tua bayi itu dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan.
 "Ibu adalah guru pertama dan sepanjang masa bagi anak-anaknya."
Sebagaimana kisah para pendahulu yang pada akhirnya melahirkan putra-putri yang di masa kini kita ketahui ketinggian ilmu maupun akhlaknya. Sebut saja Muhammad bin Idris. Jauh sebelum ia dilahirkan, seorang pemuda bernama Idris tengah berjalan di hutan. Ia menemukan ada sebuah apel yang mengambang di permukaan sungai. Karena begitu laparnya, akhirnya dia makan buah apel itu. Sejurus kemudian, dia ingat bahwa apel yang dia makan bukanlah miliknya. Lalu dia bertekad untuk mencari pemilik pohon apel itu dan meminta ridho kepadanya. Akhirnya, didapatinya sebuah pohon apel di tepi sungai dan segera ia temui pemiliknya. Pemilik pohon itu adalah seorang lelaki paruh baya yang tinggal bersama seorang putrinya. Idris pun menyampaikan maksud kedatangannya. Melihat jerihnya upaya pemuda ini, sang pemilik apel merasa takjub. "Betapa wara'-nya pemuda ini." Ia pun menawarkan kepadanya untuk menikah dengan putri semata wayangnya. Namun sebelum itu, ia ceritakan kondisi putrinya. "Putriku ini buta, tuli dan lumpuh. Apakah kau mau menikahinya?" Si pemuda Idris yang baik hati ini pun menerima dengan serta merta. Hingga hari pernikahan itu tiba, Idris diizinkan untuk menemui putri pemilik apel itu yang sudah resmi dipersuntingnya. Saat melihat perempuan di hadapannya, dia kaget bukan main. "Seorang perempuan cantik dan sempurna tapi mengapa dikatakan buta, tuli dan lumpuh oleh ayahnya?", gumamnya dalam hati. Esok harinya, ia adukan kondisi istrinya pada ayah mertuanya. Beliau hanya tersenyum dan dengan 'enteng' menjawab, "Putriku buta dari melihat hal-hal yang diharamkan, tuli dari mendengar ghibah dan sejenisnya serta lumpuh dari tempat-tempat maksiat." (Subhanallah)

Dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang nantinya menjadi imam besar yaitu Muhammad bin Idris yang lebih sering kita kenal dengan nama Imam Syafi'i.

Begitu pun dengan kisah Nyai Rodhiyah, Ibunda dari Alm. KH. Chamim Jazuli (Gus Miek). Semasa mengandung putranya itu, beliau tak pernah lepas dari Alqur'an. Bahkan hampir setiap hari beliau berhasil mengkhatamkannya. Maka pantas saja jika kemudian Allah memberikan karunia berupa seorang putra yang sudah tak perlu diragukan lagi bagaimana kecintaannya terhadap Alqur'an. Hingga sekarang masih bertahan majelis sima'an Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin yang diprakarsai oleh putra beliau, Gus Miek.

Memang, membaca kisah terdahulu seringnya membuat kita bersemangat namun sesekali juga beralibi, "itu kan mereka, orang-orang pilihan. Kita ini hanya orang biasa mana mungkin bisa seperti itu." Manusiawi, jika ada pikiran semacam itu. Tapi mudah-mudahan dengan mengetahui adanya kisah ini, setidaknya, kita jadi tahu bahwa ternyata dalam upaya mendidik anak tidak hanya berwujud lahiriah saja tapi juga batiniahnya tetap dijaga. Berusaha melakukan upaya yang kita mampu, sekecil apapun, semoga Allah memudahkan langkah kita.

Khusus untuk para ibu dan calon ibu,
"Perempuan mungkin tak bisa ikut berperang dalam medan laga, namun darinya bisa lahir seorang pejuang yang akan memenangkan laga."
 

Selamat Hari Ibu :-)

Semoga bermanfaat~



continue reading PARENTING

Rabu, 28 Januari 2015

Hitungan Sekejap Mata

Sepanjang minggu ini aku merasa seperti sedang diingatkan terus tentang “waktu” dan “kematian”. Mulai dari kecelakaan kecil yang kualami dua hari berturut-turut hingga membuat jalanku sedikit pincang dan juga pesan singkat dari sebuah grup Whatsapp yang isinya menerangkan bahwa Malaikat Izroil menjenguk kita setiap 20 menit sekali. Pesan itu kuterima beberapa saat setelah aku mengalami kecelakaan. Bulu kudukku pun langsung merinding saat membacanya. Seakan inilah teguran langsung dari Tuhan kepada hamba-Nya yang sering lalai ini. Kejadian nahas kemarin memberiku beberapa pelajaran tentang singkatnya kehidupan di dunia. Sebuah “celaka” (atau dalam bahasa Tegalnya disebut blai) merupakan sebuah peringatan bahwa hidup seseorang bisa saja sirna dalam sekejap mata. Kita tak pernah membayangkan sebelumnya, pada jam J menit M detik D, akan mengalami kecelakaan yang bisa saja itu menjadi jalan maut menjemput kita. Begitu mudahnya, bukan? Sepersekian detik kejadiannya, tapi nyawa kita bisa melayang seketika. Astaghfirullah...

Aku jadi teringat pesan dari almarhumah Magede Nuriyah (nenekku tercinta, Allahu yarham). Suatu hari beliau pernah berkata padaku, “Kematian itu datangnya tiba-tiba dan hanya sekali saja dalam hidup kita. Jika kita menginginkan akhir yang baik, maka isilah waktumu dengan perbuatan yang baik. Sebab akhir hayat kita juga bergantung dari kebiasaan kita.
continue reading Hitungan Sekejap Mata

Sabtu, 10 Januari 2015

PIUTANG GANJARAN



Suatu hari Kang Badru dan Gus Tamam sedang asyik berbincang di depan teras ndalem- nya Abah Yai sambil menikmati pemandangan para santri putri yang sedang sliweran di hadapan mereka. Di tengah obrolan itu tiba-tiba Kang Badru nyeletuk,
“ Gus, saya minta maaf sebelumnya ya. Saya minta ikhlasnya panjenengan.”, ucapnya sambil menelungkupkan kedua telapak tangan di dadanya seraya memohon.
Gus Tamam yang sedari tadi nyeruput kopi pun seketika diam keheranan.
“Lha ada apa kok tiba-tiba kamu minta maaf? Habis ngapain kamu? Mecahin piring atau ketahuan ngintip ke area santri putri?”
Kang Badru ini memang terkenal dengan ke-mbeling-annya sebagai santri senior sekaligus teman setianya Gus Tamam. Kemana pun Gus Tamam pergi, kang Badru selalu siap mengawal di belakangnya. Ya, mungkin berjodoh juga sejak dari namanya. Keduanya memiliki nama yang sama persis yaitu “Badruttamam”. Sehingga untuk membedakan, yang satu dipanggil “Badru” dan satunya dipanggil “Tamam”. Bedanya lagi, yang satunya adalah seorang Gus, putranya Kyai besar. Sedang yang satunya adalah seorang santri, putranya Pak Tani. Namun perbedaan latar belakang itu tidak membuat mereka terjarak. Kedekatan mereka bahkan bisa dikatakan seperti saudara kandung.
continue reading PIUTANG GANJARAN

Rabu, 07 Januari 2015

Gara Gara Ijo



Semakin beranjak dewasa, aku memang jadi semakin gandrung dengan warna hijau. Segala hal yang berwarna “ijo” selalu saja menarik perhatianku. Apapun itu. Sampai pernah waktu itu aku dan beberapa kawan perempuanku sedang mengkhayal tentang warna gaun pengantin, saat mereka tanya padaku, sontak mereka menebak sendiri, “Ijoooo… Mesti ijooo!” Hahaha aku hanya tertawa melihat ekspresi mereka saat itu.
Mengenai warna hijau ini, aku sendiri tak ingat betul kapan tepatnya aku mendeklarasikan diri menjadi penggemar warna hijau. Karena dahulu, aku sendiri masih bingung jika ditanya “apa warna kesukaanmu?” Kebanyakan orang menilai dari warna dominan pakaian-pakaian yang kupakai. Saat itu, aku lebih sering mengenakan warna netral seperti hitam, coklat dan terutama abu-abu. Seakan menggambarkan kondisi psikisku yang masih labil saat itu. Heuheu
Seiring berjalannya waktu dan beranjaknya usiaku, aku jadi lebih cenderung menyukai warna hijau. Meski tak mesti kukenakan sendiri warna itu, tapi setiap kali melihat sesuatu yang berwarna hijau, hatiku terasa adem ayem tentrem. Ini efek utama yang aku rasakan dari warna ini. Mungkin karena hijau itu menjadi simbol nature atau kealamiahan. Tak hanya itu, konon warna hijau juga merupakan warna surga. Ya, entah benar atau tidak, yang jelas sejak saat itulah aku mulai kesengsem pada warna yang satu ini.
Kegandrunganku terhadap warna hijau ternyata juga menular pada Ibuku. Diam-diam beliau juga menaruh hati pada warna yang sekarang menjadi kesukaan anaknya ini. Bahkan waktu rumah kami baru saja direnovasi bagian dapur dan kamar mandinya. Kalian tahu apa warna cat yang dipilihkan untuk melapisi dinding dapur dan kamar mandi kami? Yap! Tepat sekali. Tak lain dan tak bukan adalah IJO. Kata Ibuku, “biar adem rasanya”. Dan, yang lucu lagi dari cerita hijauku ini adalah saat Ibuku berbelanja perabot rumah tangga. Mulai dari ember, gayung, tempat sabun, gantungan baju, tutup gelas, baskom sampai tempat bumbu dapur pun semuanya bernuansa hijau. Sampai-sampai penjualnya pun keheranan saat itu. Ibuku ngeyel mintanya yang serba hijau. “Bu, Muslimat e kayong kraket nemen (Bu, Muslimat-nya seperti nempel sekali)”, begitu komentarnya. Ya sebagian orang mungkin sudah tahu, seragam Muslimat (organisasi perempuan di NU) kan berwarna hijau dan NU juga identik dengan warna hijau. Jadi saking gandrung-nya dengan warna hijau, Organisasi NU pun sampai dibawa-bawa.
Yang terakhir ini kami sempat memperbincangkan tentang rencana pembelian motor baru. (Alhamdulillaah)
Saat ditanya, “Nanti mau warna apa milihnya?”
Yasudah kujawab saja, “..."
Ah, tentu kalian sudah bisa menebaknya :-D

continue reading Gara Gara Ijo
Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.