Tulisan ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri, yang tengah dilanda kecemasan (mungkin)..
Selama ini selalu mudah untuk menghibur orang lain yang sedang merasa “kehilangan” sesuatu. Sudahlah, ikhlaskan saja.. begitu seringnya aku berucap demikian kepada kawan-kawanku tiap kali mereka bercerita tentang rasa kehilangan mereka. Kali aku benar-benar sedang ditegur. Ditegur oleh Sang Maha Ikhlas. Bagaimana tidak? Sesuatu yang selama ini menemani hidupmu, hampir setiap saat, lalu tiba – tiba menghilang. Mungkin tulisan ini agak sedikit memuat unsure “curcol”. Tapi whatever lah yang jelas aku hanya ingin berbagi dengan kalian..
Tentang ilmu ikhlas ini,
sebelumnya aku dapati dari seorang teman (guru lebih tepatnya). Ketika aku dan kawan-kawanku yang lain sedang berkunjung ke tempatnya, sambil berbincang-bincang dia menceritakan kepada kami bahwa dia tengah mengalami musibah. Tas dan seisinya telah raib diambil orang. Dan isi yang membuatnya berat adalah Laptop yang tak lain berisi semua file – file skripsinya. Kerja keras yang selama ini dia lakukan untuk membuat skripsi itu kini hilang dalam sekejap. Lalu dia pun menangis layaknya manusia biasa. Namun ada suatu hal yang membedakan antara dia dan orang pada umumnya. Ya, HATI nya lah yang membedakan. Dia kemudian bercerita tentang respon ayahnya mengenai kehilangannya itu. Dan apa jawaban ayahnya? “udah, gak usah nangis gitu.. lha wong waktu dikasih juga gak lantas bilang, “jangan Tuhan, aku gak kuat menerima nikmat ini”, lalu kenapa saat diambil kamu menangis sebegitunya?”
sebelumnya aku dapati dari seorang teman (guru lebih tepatnya). Ketika aku dan kawan-kawanku yang lain sedang berkunjung ke tempatnya, sambil berbincang-bincang dia menceritakan kepada kami bahwa dia tengah mengalami musibah. Tas dan seisinya telah raib diambil orang. Dan isi yang membuatnya berat adalah Laptop yang tak lain berisi semua file – file skripsinya. Kerja keras yang selama ini dia lakukan untuk membuat skripsi itu kini hilang dalam sekejap. Lalu dia pun menangis layaknya manusia biasa. Namun ada suatu hal yang membedakan antara dia dan orang pada umumnya. Ya, HATI nya lah yang membedakan. Dia kemudian bercerita tentang respon ayahnya mengenai kehilangannya itu. Dan apa jawaban ayahnya? “udah, gak usah nangis gitu.. lha wong waktu dikasih juga gak lantas bilang, “jangan Tuhan, aku gak kuat menerima nikmat ini”, lalu kenapa saat diambil kamu menangis sebegitunya?”
Sebuah kalimat yang sontak membuat kami semua tertegun, terutama saya. Seketika itu air mata ratapan kehilangan pun berhenti setelah mendengar kata mantra itu. Ya, kalo dipikir – pikir memang benar sekali. Kenapa kita begitu egois terhadap ketentuan ALLAH?? Sadar kah selama ini Allah melimpahkan nikmat yang begitu banyaknya, tapi kita gak bersyukur? Lalu mengapa saat Dia ingin mengambilnya kita begitu tak rela? Renungkanlah…
Aku baru merasakan fase ini ketika seseorang meninggalkan hidupku.. padahal sebelumnya dia begitu meyakinkanku bahwa dia lah yang akan menjadi imamku. Lalu saat tiba – tiba dia memutuskan untuk meninggalkanku, aku hanya terdiam dan pasrah. Yang aku rasakan saat itu adalah “inilah saat nya aku mempraktekkan ilmu ikhlas yang selama ini hanya sebatas teoritis”. Aku selalu yakin dan percaya pada ketentuan Allah.. Semuanya, apapun itu, pastilah yang terbaik buat kita. Jika kita mendapat nikmat, jangan lantas langsung gembira, tapi ingatlah apa kita sudah cukup bersyukur kepada-Nya. Begitu pula saat kita mendapat musibah, maka jangan langsung bersedih, karena bisa saja Allah ingin kita lebih dekat dengan-Nya dalam setiap doa-doa kita.
Aku teringat pesan dari ibuku, “Jalani sajalah apa yang sudah menjadi alur hidupmu, Nak. Semua yang ALLAH berikan pasti ada hikmahnya. Ikhlaskan semuanya, serahkan segala urusanmu pada-Nya, maka hatimu akan tenang”. Kata – kata itu yang selalu kuingat. Menjadi jiwa yang ikhlas penuh tawakkal, maka tak akan lagi ada istilah gundah gulana atau istilah kerennya “galau”. Aku ingin move on dari keterpurukan, karena hidup ini terlalu berharga jika hanya digunakan untuk meratapi keadaan. Jalani saja scenario dari-Nya. Jangan pernah memaksakan kehendakmu. Seperti sebuah kalimat yang terdapat dalam HIKAM. “Kita semua punya keinginan, Allah juga punya keinginan.. dan keinginan Allah lah yang akan terjadi dalam hidup kita”. So, buat apa merasa khawatir? Toh jalan hidup kita sudah diatur oleh-Nya. Kita hanya berusaha menjalani amanah ini sebaik mungkin. Okay guys! Say good bye to GALAU..! ^_~

0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)