Seorang kawanku pernah berkata saat dia mengetahui
keberadaanku di Jogja.
“Mumpung sedang di Jogja, coba baca tetraloginya Pram”
“Pram? Prambanan?”, jawabku polos.
“Bukan! Pramoedya Ananta Toer”
Aku hanya ber-ooo-ria sambil tersipu menahan malu yang
memenuhi wajahku.
Itulah awal perkenalanku dengan sosok legendaris yang satu
ini. Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pram,
adalah seorang penulis produktif pada masa orde lama-orde baru. Karya-karyanya
banyak menimbulkan penolakan dari pihak penguasa pada masa itu karena dianggap “berbahaya”.
Pram juga dituduh sebagai pengikut golongan kiri yang pada saat itu
keberadaannya tidak diperkenankan. Diantara karya Pram yang terkenal adalah
sebagaimana direkomendasikan kawanku itu, Tetralogi Pulau Buru. Novel berlatar
belakang kolonialisme ini ditulis Pram pada saat dirinya diasingkan di Pulau
Buru akibat tuduhan sebagai antek PKI. Terdiri dari 4 buku, yaitu: Bumi
Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sampai sekarang saya
belum juga bisa menghabiskan keempatnya, masih tertahan di buku ke-2. Novel
Pram ini memang tergolong novel yang berat, dengan gaya bahasa sastra lama dan
latar belakang sejarah bangsa. Di dalamnya Pram sangat jelas sekali
menggambarkan bagaimana kondisi bangsa kita pada masa penjajahan. Pram sangat pandai
dalam menggugah imajinasi pembacanya. Dengan mengusung semangat anti-feodalisme
dan anti-kolonialisme, Pram membawa kita –para pembacanya- seakan kembali lagi
ke masa itu dan merasakan sendiri kondisi saat itu. Saya sendiri saat membaca
Bumi Manusia, rasanya seolah sosok Nyai Ontosoroh itu benar-benar ada.
Selain tetralogi Pulau Buru itu, masih banyak sekali
karya-karyanya yang tidak kalah bagus, seperti
novel Arus Balik dan Panggil Aku Kartini Saja. Itu semua adalah buah pemikiran
hebat seorang Pram. Meski karyanya dilarang terbit bahkan langsung dimusnahkan
di Indonesia, Pram justru memiliki nama yang besar di kancah Internasional. Beberapa
karyanya ada yang diterjemahkan dalam bahasa asing. Pram juga menerima banyak
penghargaan Internasional di bidang sastra. Ya, dialah Pram dengan segala
kontroversinya. Sebuah sejarah yang terhapus oleh sejarah.
