Recent Posts

Jumat, 29 Juni 2012

Permata di Ujung Senja (part 2)


...
Ujian telah selesai, yudisium pun dilalui. Sebelum hariku diwisuda, aku sempatkan untuk pulang ke kampong halamanku, mengabarkan berita gembira ini. Belum genap 24jam aku di rumah, tiba – tiba aku sudah didudukan di kursi untuk mendengar ayahku berbicara.

Beliau menceritakan tentang sahabatnya itu yang sebenarnya sudah tak asing lagi buatku. Sekaligus menceritakan tentang rencana pertunanganku dengan Azzam, putra sahabatnya itu. Aku hanya bisa terdiam, karena aku sadar. Aku ini seorang gadis yang segalanya ditanggung oleh walinya. Aku pun mengiyakan rencana itu, meski dengan hati sedikit pilu. Sebenarnya dalam hatiku, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada Ayahku. Semua itu hanya bisa kutuliskan dalam diary ku.
Sabtu, 23 September 2000
Diary-ku,,
Hari ini aku bagai disambar petir di siang bolong deh. Masa tiba2 aku mau dijodohin sih?? Abah, sekarang kan bukan jamannya siti nurbaya lagi..
Kenapa pas kemarin Mas Irul ngelamar aku ditolak? Padahal dia gak lebih buruk kok dari Azzam. Emang sih dia bukan lulusan Al-Azhar, bukan santri, bukan ustad juga kayak si Azzam. Tapi kan manusia itu pasti punya sisi baik, Bah. Kasih lah dia kesempatan paling gak. Mas Irul juga orangnya rajin kok. Dia rajin ibadah rajin puasa sunnah. Dia juga bisa jadi imam sholatku. Trus apa bedanya sama Azzam, Bah???
Mungkin itu sepenggal luapan isi hatiku yang lagi – lagi hanya bisa kutuangkan lewat tulisan. Sedikit kecewa sama sikap ayahku, tapi mau gimana lagi. Semua sudah direncanakan secara matang, hari H pun sudah ditentukan. Tepat satu minggu setelah aku wisuda.
Kenangan kekagumanku tentang Mas Irul semakin lenyap, namun tak bisa kuhilangkan semuanya. Masih ada sisa yang selalu membekas dalam hatiku. Meski hanya untuk dikenang.
Saat wisuda berlangsung semuanya semakin terungkap, aku tak siap untuk hari ini. Apalagi kemarin Zizi mengirimiku pesan dan memberitahukan bahwa abangnya mau menikah. Pupus sudah harapanku satu – satunya sebelum pernikahanku berlangsung. Sedih, haru bercampur bahagia rasanya hari itu. Pagi buta, aku bersama keluarga sudah bersiap menuju tempat wisuda. Ya, acara dimulai pukul 07.00 WIB. Aku masih setia dengan kekhawatiranku bertemu lagi dengan Mas Irul. HP ku bordering, tanda sms masuk.
Dari : Zizi
“Aiss… kamu dimana?? Aku di pintu masuk bagian timur nih.. eh, ada abangku juga lho, jauh2 datang dari Medan.. hahaha”
Pesan itu semakin membuat perasaanku tak karuan, jantungku semakin berdegup kencang seperti genderang tanda perang.
“Ais sakit ya? Kok pucat?”, Ibuku menyadarkanku dari lamunan singkat tadi
“ah, enggak kok Bu”, jawabku sambil tersenyum paksa
Kami berjalan menuju pintu barat, sengaja aku masuk lewat pintu yang berlawanan berharap tak bertemu dengan Zizi dan abangnya.
Acara berlangsung meriah dan penuh hidmat. Saat namaku dipanggil untuk diwisuda, aku berharap semua orang bangga melihatku, tak terkecuali Mas Irul. Acara selesai pukul 13.30 WIB. Zizi menemuiku, di lobby gedung. Untung saja saat itu dia sendirian.
“lho, mana abangmu?”
“ciyee, kok yang ditanyain malah abangku sih bukan akunya. Kangen ya sama kak Irul?”, godanya padaku
Aku hanya tersipu malu sambil menngelaknya. Ternyata Zizi udah tau tentang semua yang pernah terjadi antara aku dan abangnya. Namun lagi – lagi itu hanya sebuah kenangan. Kini kami sudah punya jalan masing – masing, dengan calon pasangan hidup masing – masing pula.
Selang beberapa waktu datanglah Ayahku dengan seorang pria. Dialah sahabatnya yang selama ini dibangga-banggakan dan itu berarti bahwa dia adalah calon mertuaku. Yang membuatku heran adalah kenapa bisa kebetulan sekali bertemu disini atau memang Abah sudah janjian sebelumnya. Rupanya tidak, Pak Arif, begitu dia dikenal, sedang menemani putrinya diwisuda. Ternyata putrinya itu kuliah di kampusku juga. Dia adalah adiknya Azzam, calon suamiku. Aku berlagak keheranan. Ternyata dunia itu sempit.
Sementara itu, Zizi yang tadinya sedang ngobrol dengan Ibuku tiba – tiba nyeletuk
“Ayah..??”, sapanya pada Pak Arif
Benar – benar hari yang penuh dengan misteri. Pak Arif adalah ayahnya Zizi, itu sama halnya Pak Arif adalah ayahnya Mas Irul juga. Dan berarti Azzam itu saudaranya Mas Irul. Apakah ini yang akan terjadi di hidupku. Menjadi istri dari saudaranya orang yang pernah melamarku?? Hatiku semakin kacau balau..
Pandanganku sedikit buram, terlihat dari arah depanku seorang pemuda mengenakan kemeja berjalan menuju tempat kami berkumpul. Tidak, itu Mas Irul, sungguh Mas Irul. Akhirnya kami bertemu juga setelah 2 tahun lebih lost contact. Tak banyak yang berubah dari tampilannya. Tapi kalo boleh jujur, dia sedikit lebih tampan dari semasa kuliah.
Tak panjang lebar, Pak Arif langsung memperkenalkan Mas Irul pada Abah.
“ini Pak Zul, calon menantu Bapak”, tegasnya sambil menyunggingkan senyum
Subhanallah, Walhamdulillah, Allahu Akbar.. jantungku berdebar sangat kencang, tubuhku lemas gemetar seakan tak percaya ini semua. Ternyata Allah benar memantapkan hatiku padanya dan benar penantianku selama ini tak sia – sia. Tapi kemudian aku bertanya dalam hati, kenapa Abah kemarin bilang namanya Azzam? Sementara yang aku kenal dia bernama Khairul?
“wah,, wah,, Aiss kamu mau jadi kakak iparku ternyata..” , celetuk Zizi
“eh,eh, sebentar. Calonku namanya Azzam bukan Khairul lho”
“kak Irul atau kak Azzam itu sama aja, namanya juga KHAIRUL AZZAM”
Sungguh lega rasanya mendengar jawaban itu. Lalu Zizi bercerita lebih banyak tentang Mas Irul selepas lulus dari kampus. Dia sempat mendapat beasiswa untuk mengambil studi keagamaan di Al-Azhar university. Itulah yang menjadi kebanggaan ayahku. Hal itu pun semakin memantapkanku melangkah bersamanya..
*(masih) bersambung*

0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.