Recent Posts

Sabtu, 25 Januari 2014

MEMINANG ALQUR'AN

pic from unipdu.ac.id
ALQUR’AN, tak lain adalah kitab suci umat Muslim. Sebuah mukjizat agung dari Sang Ilahi yang diberikan kepada Kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. Pernahkah terbesit dalam benak kita, “sudah seberapa sering kita mendengarkan ayat-ayat suci ini dilantunkan namun berapa kali kah hati ini tergetar olehnya???” . Alqur’an adalah sebuah mahakarya yang luar biasa dari Allah SWT. Bahasa Alqur’an –meskipun dalam bahasa Arab- sangatlah berbeda dengan bahasa arab yang biasa digunakan untuk percakapan sehari-hari. Padahal bahasa Arab sendiri adalah bahasa yang paling sempurna dan mempunyai tingkatan tertinggi di antara bahasa-bahasa lain di seluruh dunia. Karena tata bahasanya yang sangat lengkap seperti halnya “Tashrif-an” dan begitu banyak perubahan dalam setiap kosa katanya. Allah SWT menurunkan Alqur’an kepada Bangsa Arab, bukan bangsa yang lain, karena Bangsa Arab adalah Bangsa yang sangat menyenangi sastra. Pada masa itu, penyair dianggap sebagai orang yang memiliki kekuatan supranatural –dibantu oleh Jin- sehingga dia bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat indah. Bahasa Alqur’an sendiri memiliki nilai sastra yang sangat tinggi dan tak ada seorang pun yang dapat membuat tandingan dari ayat-ayat Alqur’an. Coba saja perhatikan di setiap akhir ayat surat Al-Fiil, selalu diakhiri dengan bunyi yang sama. Begitu juga dalam surat At-Tiin. Maka tidak heran ketika Rosulullah membacakan ayat-ayat Alqur’an di hadapan bangsa Arab kala itu, beliau dianggap sebagai orang yang “majnun” dalam artian seperti kerasukan jin sehingga bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu indah. Berulang kali pula Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya bahwa Alqur’an ini adalah benar-benar dari-Nya. (Silakan buka surat As-Sajdah ayat 2 dan 3).
Bahasa Alqur’an juga sangat puitis, itulah mengapa Alqur’an mudah untuk dihafalkan. Saya belum pernah mendengar ada orang nasrani yang hafal kitab injil. Tapi lihat, berapa banyak orang islam yang menjadi Hafidz/ah, bahkan anak kecil sekali pun bisa menghafalkannya. Emha Ainun Nadjib pernah berbicara saat mengisi acara “Musikalisasi Sastra” yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta, “Bahasa yang puitis akan lebih mudah untuk dihafalkan, sama halnya dengan lagu-lagu. Dan Alqur’an, jika bahasanya tidak puitis maka akan sangat sulit untuk dihafalkan”.
Pada masa Rasulullah –sebelum kodifikasi Alqur’an- semua sahabat menghafalkan tiap ayat yang dibacakan kepadanya. Motivasi mereka kala itu dalam menghafalkan Alqur’an sangatlah kuat, sebab hanya itulah satu-satunya cara untuk menyimpan firman-Nya. Sementara jika melihat pada jaman sekarang apalagi dengan berkembang pesatnya teknologi, Alqur’an tidak hanya dapat kita temukan dalam bentuk cetakan kertas tetapi juga bentuk digital. Maka motivasi untuk menghafalkan Alqur’an pun menjadi sangat kurang. Alih-alih dengan berkata, “untuk apa menghafalkan Alqur’an, lha wong dibaca aja bisa”. Melihat fenomena ini saya sempat berpikir berarti mereka yang memutuskan untuk menghafal Alqur’an pastilah memiliki motivasi lain yang berbeda dari para Sahabat jaman Rasulullah dulu. Setelah melakukan penelusuran, ternyata ada banyak motivasi yang masing-masing dari mereka bisa saja berbeda. Ada yang ingin menghafal karena mengingat janji Allah bahwa penghafal alqur’an akan mendapat keutamaan-keutamaan di sisi Allah. Ada juga yang termotivasi karena ingin memberikan hadiah terbaik kepada orang tuanya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist, dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim). Terlepas dari apa yang menjadi motivasi mereka menghafalkan Kalam Ilahi, yang jelas sampai detik ini saya selalu merasa kagum kepada orang yang mau menghabiskan waktu/usia nya untuk ‘berdekatan’ dengan Alqur’an.
Alqur’an harusnya tidak hanya dijadikan sebagai sumber rujukan dalam mengatasi setiap permasalahan kehidupan, namun Alqur’an juga kita jadikan sebagai sahabat bahkan pasangan hidup. Dengan begitu, selain dengan membacanya kita juga akan senantiasa menghadirkan Alqur’an dalam setiap sendi kehidupan kita. Apalagi jika sudah memutuskan untuk menghafalkannya, bagi saya pribadi, keputusan itu bukanlah hal yang ringan. Itu adalah keputusan besar, layaknya seseorang yang ingin meminang kekasihnya. Menghafalkan Alqur’an juga bisa dianggap seperti “meminang”nya untuk dijadikan teman hidup. Akan ada sebuah ikatan antara Alqur’an dan penghafalnya. Untuk meminang tentunya kita butuh mengenal dan mencintainya dulu, bukan? Tidak mungkin kita dengan gegabah memutuskan akan meminang si A sementara kenal dekat saja belum. Ya, begitu pula dengan menghafal Alqur’an. Lalu bagaimana caranya kita mengenal dan mencintainya? Jika menukil dari pepatah jawa, “witing tresna jalaran saka kulina” (Tumbuhnya cinta karena terbiasa), maka sebelum meminang kita harus membiasakan diri terlebih dahulu dengannya (Alqur’an). Saya pernah mendengar sebuah kisah seorang ulama besar ahli Alqur’an, yaitu K.H Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak-Yogyakarta. Menurut riwayat, beliau mampu menghafalkan Alqur’an hanya dalam waktu 40 hari. Bagaimana bisa? Ternyata sebelum menghafal, beliau sudah terlebih dahulu berdekatan dengan Alqur’an dengan cara membiasakan diri yaitu selama tiga tahun mengkhatamkan Alqur’an sebulan sekali, kemudian selama tiga tahun berikutnya mengkhatamkan selama seminggu sekali, lalu setelahnya selama tiga tahun lagi mengkhatamkannya setiap hari. Karena sudah sangat akrab dengan alqur’an inilah akhirnya beliau juga hafal dengan sendirinya. Maka inti dari menghafalkan Alqur’an sebetulnya adalah tergantung kebiasaan kita berdekatan dengannya. Lagi-lagi disamakan dengan “meminang”, maka setelah dipinang pun harus benar-benar kita jaga dan itu sudah menjadi tanggung jawab besar bagi yang meminangnya. Dan ketika seseorang sudah diberi karunia berupa hafalan Alqur'an, maka WAJIB hukumnya bagi dia untuk menjaganya. Karena hafalan Alqur'an adalah amanah besar dari Allah untuk orang-orang yang dipilihnya. Saya selalu mendapat wejangan begini, “menjaga hafalan itu lebih sulit daripada menghafalkannya” dan salah satu cara ampuh untuk bisa menjaga adalah dengan terus membacanya berulang-ulang sembari kita mempelajari maknanya. Menghafal dengan kita mengetahui maknanya itu akan lebih mudah dibandingkan hanya menghafalkan saja.
Saya juga sempat bertanya-tanya dalam benak saya, “Sebenarnya menghafal itu adalah ghoyah (tujuan) atau washilah (sarana)? Adakah Allah menyembunyikan suatu maksud di balik anjuran yang sangat untuk menghafalkan kalam-Nya?” Maka setelah mengalami beberapa hal saya jadi beranggapan bahwa menghafal Alqur’an bukanlah ghoyah melainkan hanya sebagai washilah. Lalu apa ghoyah-nya? Ghoyah nya adalah berdekatan dengan Allah melalui kalam-Nya. Coba kita pikir sejenak, jika menghafal itu dijadikan sebagai tujuan utama, maka harusnya saat seseorang sudah selesai menghafalkan 30 juz berarti dia sudah berhasil mencapai tujuannya, lalu dia tidak merasa perlu lagi untuk menjaga hafalannya karena misi sudah selesai. Apakah itu yang diharapkan? Apakah setelah selesai meminang, lalu kita boleh meninggalkan pasangan kita begitu saja? Tidak, kan? Justru yang ditekankan di sini adalah proses setelah selesai menghafal yaitu bagaimana menjaganya. Dan sebagaimana sudah saya sebutkan di awal, menjaganya dilakukan dengan cara terus mengulangi hafalan (Muroja’ah). Proses inilah yang sebenarnya akan dialami sepanjang hidup para penghafal. Dengan mempunyai hafalan, mau tidak mau mereka harus selalu berhubungan dengan Alqur’an yang tentunya akan bermuara pada kehadiran Tuhan yaitu Allah SWT. Semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan oleh Allah SWT. Aamiin...
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Wallahu’alam

Semoga bermanfaat ~


0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.