![]() |
| pic from unipdu.ac.id |
ALQUR’AN, tak lain adalah kitab suci umat Muslim. Sebuah
mukjizat agung dari Sang Ilahi yang diberikan kepada Kekasih-Nya, Nabi Muhammad
saw. Pernahkah terbesit dalam benak kita, “sudah
seberapa sering kita mendengarkan ayat-ayat suci ini dilantunkan namun berapa
kali kah hati ini tergetar olehnya???” . Alqur’an adalah sebuah mahakarya
yang luar biasa dari Allah SWT. Bahasa Alqur’an –meskipun dalam bahasa Arab- sangatlah
berbeda dengan bahasa arab yang biasa digunakan untuk percakapan sehari-hari. Padahal
bahasa Arab sendiri adalah bahasa yang paling sempurna dan mempunyai tingkatan
tertinggi di antara bahasa-bahasa lain di seluruh dunia. Karena tata bahasanya
yang sangat lengkap seperti halnya “Tashrif-an”
dan begitu banyak perubahan dalam setiap kosa katanya. Allah SWT menurunkan
Alqur’an kepada Bangsa Arab, bukan bangsa yang lain, karena Bangsa Arab adalah
Bangsa yang sangat menyenangi sastra. Pada masa itu, penyair dianggap sebagai
orang yang memiliki kekuatan supranatural
–dibantu oleh Jin- sehingga dia bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat
indah. Bahasa Alqur’an sendiri memiliki nilai sastra yang sangat tinggi dan tak
ada seorang pun yang dapat membuat tandingan dari ayat-ayat Alqur’an. Coba saja
perhatikan di setiap akhir ayat surat Al-Fiil, selalu diakhiri dengan bunyi
yang sama. Begitu juga dalam surat At-Tiin. Maka tidak heran ketika Rosulullah
membacakan ayat-ayat Alqur’an di hadapan bangsa Arab kala itu, beliau dianggap
sebagai orang yang “majnun” dalam artian seperti kerasukan jin sehingga bisa
mengeluarkan kata-kata yang begitu indah. Berulang kali pula Allah SWT
menegaskan dalam firman-Nya bahwa Alqur’an ini adalah benar-benar dari-Nya. (Silakan
buka surat As-Sajdah ayat 2 dan 3).
Bahasa Alqur’an juga sangat puitis, itulah mengapa Alqur’an
mudah untuk dihafalkan. Saya belum pernah mendengar ada orang nasrani yang
hafal kitab injil. Tapi lihat, berapa banyak orang islam yang menjadi Hafidz/ah,
bahkan anak kecil sekali pun bisa menghafalkannya. Emha Ainun Nadjib pernah
berbicara saat mengisi acara “Musikalisasi Sastra” yang diadakan oleh Dinas
Kebudayaan Yogyakarta, “Bahasa yang puitis akan lebih mudah untuk dihafalkan, sama
halnya dengan lagu-lagu. Dan Alqur’an, jika bahasanya tidak puitis maka akan
sangat sulit untuk dihafalkan”.
Pada masa Rasulullah –sebelum kodifikasi Alqur’an- semua
sahabat menghafalkan tiap ayat yang dibacakan kepadanya. Motivasi mereka kala
itu dalam menghafalkan Alqur’an sangatlah kuat, sebab hanya itulah satu-satunya
cara untuk menyimpan firman-Nya. Sementara jika melihat pada jaman sekarang
apalagi dengan berkembang pesatnya teknologi, Alqur’an tidak hanya dapat kita
temukan dalam bentuk cetakan kertas tetapi juga bentuk digital. Maka motivasi
untuk menghafalkan Alqur’an pun menjadi sangat kurang. Alih-alih dengan
berkata, “untuk apa menghafalkan Alqur’an,
lha wong dibaca aja bisa”. Melihat fenomena ini saya sempat berpikir
berarti mereka yang memutuskan untuk menghafal Alqur’an pastilah memiliki
motivasi lain yang berbeda dari para Sahabat jaman Rasulullah dulu. Setelah
melakukan penelusuran, ternyata ada banyak motivasi yang masing-masing dari
mereka bisa saja berbeda. Ada yang ingin menghafal karena mengingat janji Allah
bahwa penghafal alqur’an akan mendapat keutamaan-keutamaan di sisi Allah. Ada
juga yang termotivasi karena ingin memberikan hadiah terbaik kepada orang
tuanya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist, dari Buraidah Al
Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang
membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota
dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah
(kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya:
mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan
anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim). Terlepas dari apa yang menjadi motivasi mereka menghafalkan Kalam Ilahi,
yang jelas sampai detik ini saya selalu merasa kagum kepada orang yang mau
menghabiskan waktu/usia nya untuk ‘berdekatan’ dengan Alqur’an.
Alqur’an harusnya tidak hanya dijadikan sebagai
sumber rujukan dalam mengatasi setiap permasalahan kehidupan, namun Alqur’an
juga kita jadikan sebagai sahabat bahkan pasangan hidup. Dengan begitu, selain dengan
membacanya kita juga akan senantiasa menghadirkan Alqur’an dalam setiap sendi
kehidupan kita. Apalagi jika sudah memutuskan untuk menghafalkannya, bagi saya
pribadi, keputusan itu bukanlah hal yang ringan. Itu adalah keputusan besar,
layaknya seseorang yang ingin meminang kekasihnya. Menghafalkan Alqur’an juga bisa
dianggap seperti “meminang”nya untuk dijadikan teman hidup. Akan ada sebuah
ikatan antara Alqur’an dan penghafalnya. Untuk meminang tentunya kita butuh
mengenal dan mencintainya dulu, bukan? Tidak mungkin kita dengan gegabah
memutuskan akan meminang si A sementara kenal dekat saja belum. Ya, begitu pula
dengan menghafal Alqur’an. Lalu bagaimana caranya kita mengenal dan
mencintainya? Jika menukil dari pepatah jawa, “witing tresna jalaran saka kulina” (Tumbuhnya cinta karena terbiasa),
maka sebelum meminang kita harus membiasakan diri terlebih dahulu dengannya
(Alqur’an). Saya pernah mendengar sebuah kisah seorang ulama besar ahli Alqur’an,
yaitu K.H Moenawwir, pendiri Pondok
Pesantren Al-Munawwir, Krapyak-Yogyakarta. Menurut riwayat, beliau mampu
menghafalkan Alqur’an hanya dalam waktu 40 hari. Bagaimana bisa? Ternyata sebelum
menghafal, beliau sudah terlebih dahulu berdekatan dengan Alqur’an dengan cara membiasakan diri yaitu selama tiga tahun
mengkhatamkan Alqur’an sebulan sekali, kemudian selama tiga tahun berikutnya
mengkhatamkan selama seminggu sekali, lalu setelahnya selama tiga tahun lagi
mengkhatamkannya setiap hari. Karena sudah sangat akrab dengan alqur’an inilah
akhirnya beliau juga hafal dengan sendirinya. Maka inti dari menghafalkan Alqur’an
sebetulnya adalah tergantung kebiasaan kita berdekatan dengannya. Lagi-lagi
disamakan dengan “meminang”, maka setelah dipinang pun harus benar-benar kita
jaga dan itu sudah menjadi tanggung jawab besar bagi yang meminangnya. Dan ketika seseorang sudah diberi karunia berupa hafalan Alqur'an, maka WAJIB hukumnya bagi dia untuk menjaganya. Karena hafalan Alqur'an adalah amanah besar dari Allah untuk orang-orang yang dipilihnya. Saya selalu
mendapat wejangan begini, “menjaga hafalan itu lebih sulit daripada
menghafalkannya” dan salah satu cara ampuh untuk bisa menjaga adalah dengan
terus membacanya berulang-ulang sembari kita mempelajari maknanya. Menghafal
dengan kita mengetahui maknanya itu akan lebih mudah dibandingkan hanya
menghafalkan saja.
Saya juga sempat bertanya-tanya dalam benak saya,
“Sebenarnya menghafal itu adalah ghoyah (tujuan)
atau washilah (sarana)? Adakah Allah
menyembunyikan suatu maksud di balik anjuran yang sangat untuk menghafalkan
kalam-Nya?” Maka setelah mengalami beberapa hal saya jadi beranggapan bahwa
menghafal Alqur’an bukanlah ghoyah
melainkan hanya sebagai washilah.
Lalu apa ghoyah-nya? Ghoyah nya adalah berdekatan dengan Allah melalui kalam-Nya. Coba kita pikir sejenak,
jika menghafal itu dijadikan sebagai tujuan utama, maka harusnya saat seseorang
sudah selesai menghafalkan 30 juz berarti dia sudah berhasil mencapai
tujuannya, lalu dia tidak merasa perlu lagi untuk menjaga hafalannya karena misi
sudah selesai. Apakah itu yang diharapkan? Apakah setelah selesai meminang,
lalu kita boleh meninggalkan pasangan kita begitu saja? Tidak, kan? Justru yang ditekankan di sini
adalah proses setelah selesai menghafal yaitu bagaimana menjaganya. Dan sebagaimana
sudah saya sebutkan di awal, menjaganya dilakukan dengan cara terus mengulangi
hafalan (Muroja’ah). Proses inilah
yang sebenarnya akan dialami sepanjang hidup para penghafal. Dengan mempunyai
hafalan, mau tidak mau mereka harus selalu berhubungan dengan Alqur’an yang
tentunya akan bermuara pada kehadiran Tuhan yaitu Allah SWT. Semoga kita
senantiasa diberi keistiqomahan oleh Allah SWT. Aamiin...
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Wallahu’alam
Semoga bermanfaat ~

0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)