Maghrib menjelang. Gemericik air dari kran-kran kamar
mandi mulai santer terdengar. Sudah menjadi rutinitas santriwati di sini, ketika
adzan maghrib berkumandang, mereka berbondong menuju pemandian. Ada yang
mengantri mandi, ada yang sekadar mampir cuci kaki sepulang beli lauk, ada pula
yang langsung mengambil air untuk berwudhu. Seringnya, antrian menjadi begitu
panjang hingga sampai di depan kamar. Bagaimana tidak? Kran yang hanya
berjumlah 3 buah itu diperebutkan oleh kurang lebih 50 orang. Tak hanya
mengantri kran, mereka juga mengantri alas kaki untuk masuk ke dalam
kamar mandi. Karena begitu ramainya, tak jarang wudhu pun menjadi tergesa-gesa.
Suatu ketika di tengah antrian yang panjang itu, aku mendapati
seorang santri yang berwudhu dengan begitu sigapnya. Bahkan jika
dihitung-hitung, kurang dari 1 menit dia bisa menyelesaikan wudhunya. Sempat
kuperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya. Tanpa basa-basi, seperti halnya
orang kebanyakan yang berkomat kamit sebelum mengambil air, dia langsung
mengambil air dan membasuh wajahnya tiga kali tanpa jeda. Kemudian membasuh
kedua tangannya dimulai dari lengan kanan-kiri-kanan secara sigap pula. Entah
basuhannya itu sampai siku atau tidak. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena
begitu cepatnya dia bergerak. Dilanjut menepuk kepala bagian depan tiga kali.
Puk puk puk. Lalu mengusap kedua telinga dengan gerakan yang sangat cepat pula.
Dan yang terakhir, dia alirkan air ke kedua kakinya hingga lutut (tanpa menggosoknya)
secara berulang-ulang. Kanan-kiri-kanan-kiri-kanan-kiri. Sampai-sampai aku tak
bisa menghitung jelas berapa kali dia melakukannya. Aku tak ingin berprasangka macam-macam,
aku hanya mengira mungkin dia ini sudah sangat ‘alim sehingga bisa begitu sigap
dalam berwudhu. Berbeda denganku yang masih awam dan perlu latihan pelan-pelan.
Dalam batin aku hanya bergumam, “Jika wudhuku seperti itu, apa iya aku masih bisa
menghadirkan Tuhan di setiap gerakanku?” atau tak perlu jauh-jauh sok menghadirkan
Tuhan lah, yang mendasar saja, “Apakah aku bisa menjamin wudhuku itu sudah
sempurna? Gerakannya sudah memenuhi syarat sah?”. Pertanyaan-pertanyaan itu
seketika meletup di atas kepalaku.
Tentu kita semua sudah paham, bahwa di antara syarat sahnya sholat
adalah suci dari hadast. Salah satu caranya yaitu dengan berwudhu. Jadi jika
wudhunya saja tidak sah, bagaimana dengan sholat dan ibadah lainnya?
Memang menurut ilmu Fiqih, di dalam wudhu tidak ada rukun Tuma’ninah
sebagaimana disebutkan di dalam rukun sholat.
Namun bukan berarti kita boleh
menyepelekannya begitu saja. Menyepelekan hal kecil sama saja menyia-nyiakan
hal besar. Setiap gerakan wudhu itu mempunyai syarat (batas kena air) yang
harus dipenuhi agar wudhunya sah. Sehingga dalam melakukannya pun harus berhati-hati.
Dengan tuma’ninah ini, setidaknya kita juga berlatih untuk terus menyempurnakan
gerakan wudhu kita. Saat membasuh muka, apakah sudah memenuhi batas-batas wajah
yang disyaratkan? Saat membasuh kedua tangan, sudah sampai siku atau belum? Jika
memang ragu, baiknya malah justru dilebihkan dari siku. Begitu pun saat
membasuh kaki, apakah sudah melebihi batas mata kaki? Apakah air sudah sampai
ke sela-sela jari? Meskipun terlihat sepele, namun hal ini bisa berdampak pada
sah tidaknya wudhu dan sholat kita. Jadi, kita sendiri yang harus berhati-hati.
Selain memenuhi syarat dhohir, ada baiknya kita juga mengetahui bahwa setiap
gerakan wudhu itu memiliki arti. Bahkan Rasulullah sendiri mengajarkan kepada
kita untuk berdoa di setiap gerakan wudhu yang kita lakukan. Agar setiap
gerakannya tak hanya simbolis belaka, tetapi memiliki nilai lebih. Aku sendiri
tidak hafal secara tekstual setiap doanya, namun bioleh saja kita ubah dengan
bahasa kita sendiri. Misalnya ketika membasuh wajah, mintalah agar digugurkan
semua dosa-dosa anggota wajah kita, mulai dari mata, hidung dan mulut kita.
Begitu juga pada saat membasuh anggota yang lain, jangan lupa untuk
mengiringinya dengan berdoa.![]() |
Aku jadi teringat pesan Ustadzah Fatimah Jindan saat dulu
mencontohkan tata cara berwudhu di hadapanku dan peserta dauroh lainnya. Beliau berkata, “Setiap anggota badan kita
yang menjadi bekas wudhu, kelak akan menjadi saksi amal kita di akhirat”. Maka
dari itu, sudah menjadi kebutuhan kita masing-masing untuk lebih berhati-hati
lagi dalam berwudhu. Tak perlu lama-lama melakukannya, sekitar 3-5 menit saja
insyaa Allah sudah cukup. Asal semua rukun telah terpenuhi dan hati kita pun
turut hadir pada saat melakukannya.
Sahabat mungkin sudah sering mendengar kisah seorang cicit
Rasulullah yaitu Imam Ali Zainal Abidin. Setiap kali selesai berwudhu, wajah
Beliau berubah pucat dan tubuhnya gemetar. Saat ditanya apa sebabnya, Beliau
menjawab, “tidakkah kau mengerti? kepada siapa aku nanti akan berdiri
dan siapa yang kuajak bicara nantinya?”. Subhana Allah. Bagi
orang seperti kita ini tentu akan sulit
mengikuti jejak beliau karena memang berbeda maqam. Namun pelan-pelan kita bisa
berusaha mengikuti beliau. Diawali dengan belajar tuma’ninah terlebih dahulu.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk ke dalam golongan
orang-orang yang tuma’ninah dalam bertindak, terutama dalam beribadah. Aamiin :-)
Semoga bermanfaat ~

0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)