Recent Posts

Selasa, 24 Juni 2014

Adakah Tuma'ninah dalam Wudhu?

Maghrib menjelang. Gemericik air dari kran-kran kamar mandi mulai santer terdengar. Sudah menjadi rutinitas santriwati di sini, ketika adzan maghrib berkumandang, mereka berbondong menuju pemandian. Ada yang mengantri mandi, ada yang sekadar mampir cuci kaki sepulang beli lauk, ada pula yang langsung mengambil air untuk berwudhu. Seringnya, antrian menjadi begitu panjang hingga sampai di depan kamar. Bagaimana tidak? Kran yang hanya berjumlah 3 buah itu diperebutkan oleh kurang lebih 50 orang. Tak hanya mengantri kran, mereka juga mengantri alas kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi. Karena begitu ramainya, tak jarang wudhu pun menjadi tergesa-gesa.
Suatu ketika di tengah antrian yang panjang itu, aku mendapati seorang santri yang berwudhu dengan begitu sigapnya. Bahkan jika dihitung-hitung, kurang dari 1 menit dia bisa menyelesaikan wudhunya. Sempat kuperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya. Tanpa basa-basi, seperti halnya orang kebanyakan yang berkomat kamit sebelum mengambil air, dia langsung mengambil air dan membasuh wajahnya tiga kali tanpa jeda. Kemudian membasuh kedua tangannya dimulai dari lengan kanan-kiri-kanan secara sigap pula. Entah basuhannya itu sampai siku atau tidak. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena begitu cepatnya dia bergerak. Dilanjut menepuk kepala bagian depan tiga kali. Puk puk puk. Lalu mengusap kedua telinga dengan gerakan yang sangat cepat pula. Dan yang terakhir, dia alirkan air ke kedua kakinya hingga lutut (tanpa menggosoknya) secara berulang-ulang. Kanan-kiri-kanan-kiri-kanan-kiri. Sampai-sampai aku tak bisa menghitung jelas berapa kali dia melakukannya. Aku tak ingin berprasangka macam-macam, aku hanya mengira mungkin dia ini sudah sangat ‘alim sehingga bisa begitu sigap dalam berwudhu. Berbeda denganku yang masih awam dan perlu latihan pelan-pelan. Dalam batin aku hanya bergumam, “Jika wudhuku seperti itu, apa iya aku masih bisa menghadirkan Tuhan di setiap gerakanku?” atau tak perlu jauh-jauh sok menghadirkan Tuhan lah, yang mendasar saja, “Apakah aku bisa menjamin wudhuku itu sudah sempurna? Gerakannya sudah memenuhi syarat sah?”. Pertanyaan-pertanyaan itu seketika meletup di atas kepalaku.
Tentu kita semua sudah paham, bahwa di antara syarat sahnya sholat adalah suci dari hadast. Salah satu caranya yaitu dengan berwudhu. Jadi jika wudhunya saja tidak sah, bagaimana dengan sholat dan ibadah lainnya?
Memang menurut ilmu Fiqih, di dalam wudhu tidak ada rukun Tuma’ninah sebagaimana disebutkan di dalam rukun sholat.
Namun bukan berarti kita boleh menyepelekannya begitu saja. Menyepelekan hal kecil sama saja menyia-nyiakan hal besar. Setiap gerakan wudhu itu mempunyai syarat (batas kena air) yang harus dipenuhi agar wudhunya sah. Sehingga dalam melakukannya pun harus berhati-hati. Dengan tuma’ninah ini, setidaknya kita juga berlatih untuk terus menyempurnakan gerakan wudhu kita. Saat membasuh muka, apakah sudah memenuhi batas-batas wajah yang disyaratkan? Saat membasuh kedua tangan, sudah sampai siku atau belum? Jika memang ragu, baiknya malah justru dilebihkan dari siku. Begitu pun saat membasuh kaki, apakah sudah melebihi batas mata kaki? Apakah air sudah sampai ke sela-sela jari? Meskipun terlihat sepele, namun hal ini bisa berdampak pada sah tidaknya wudhu dan sholat kita. Jadi, kita sendiri yang harus berhati-hati. Selain memenuhi syarat dhohir, ada baiknya kita juga mengetahui bahwa setiap gerakan wudhu itu memiliki arti. Bahkan Rasulullah sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa di setiap gerakan wudhu yang kita lakukan. Agar setiap gerakannya tak hanya simbolis belaka, tetapi memiliki nilai lebih. Aku sendiri tidak hafal secara tekstual setiap doanya, namun bioleh saja kita ubah dengan bahasa kita sendiri. Misalnya ketika membasuh wajah, mintalah agar digugurkan semua dosa-dosa anggota wajah kita, mulai dari mata, hidung dan mulut kita. Begitu juga pada saat membasuh anggota yang lain, jangan lupa untuk mengiringinya dengan berdoa.


Aku jadi teringat pesan Ustadzah Fatimah Jindan saat dulu mencontohkan tata cara berwudhu di hadapanku dan peserta dauroh lainnya.  Beliau berkata, “Setiap anggota badan kita yang menjadi bekas wudhu, kelak akan menjadi saksi amal kita di akhirat”. Maka dari itu, sudah menjadi kebutuhan kita masing-masing untuk lebih berhati-hati lagi dalam berwudhu. Tak perlu lama-lama melakukannya, sekitar 3-5 menit saja insyaa Allah sudah cukup. Asal semua rukun telah terpenuhi dan hati kita pun turut hadir pada saat melakukannya.
Sahabat mungkin sudah sering mendengar kisah seorang cicit Rasulullah yaitu Imam Ali Zainal Abidin. Setiap kali selesai berwudhu, wajah Beliau berubah pucat dan tubuhnya gemetar. Saat ditanya apa sebabnya, Beliau menjawab, “tidakkah kau mengerti? kepada siapa aku nanti akan berdiri dan siapa yang kuajak bicara nantinya?”. Subhana Allah. Bagi orang seperti kita ini  tentu akan sulit mengikuti jejak beliau karena memang berbeda maqam. Namun pelan-pelan kita bisa berusaha mengikuti beliau. Diawali dengan belajar tuma’ninah terlebih dahulu.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tuma’ninah dalam bertindak, terutama dalam beribadah. Aamiin :-)

Semoga bermanfaat ~



0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.