Recent Posts

Jumat, 02 Mei 2014

Manusia Cakap, Cermin Keberhasilan Pendidikan

pic from infoakademika.com
Hari ini adalah tanggal 2 Mei, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebagaimana telah kita ketahui bersama, sistem pendidikan di negeri kita ini sedang berusaha untuk terus menerus diperbaiki. Masih melekat di ingatan kita tentunya beberapa kali kurikulum pendidikan kita mengalami perubahan. Mulai dari kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), KTPS (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga yang baru-baru ini diterapkan yaitu Kurikulum 2013. Pada kurikulum yang terbaru ini, perbedaan mencolok terlihat dari banyaknya mata pelajaran yang diajarkan. Adanya pengelompokan mapel ke dalam 2 jenis yaitu mapel wajib dan mapel pilihan. Kurikulum ini lebih mengutamakan pada pemahaman, skill dan pendidikan karakter para peserta didik. Siswa dituntut untuk bisa memahami setiap materi yang diajarkan, aktif dalam berdiskusi serta memiliki perilaku yang baik. Dengan penyesuaian pendidikan karakter ini pula, untuk siswa SD tidak diberikan mapel pilihan, sehingga akan ada beberapa mapel yang dihilangkan dalam pembelajarannya. Jika dilihat dari visi yang diusung oleh kurikulum ini, saya rasa sistem pendidikan kita ini sudah cukup baik dalam mengakomodir seluruh potensi dalam diri seseorang. Aspek pengetahuan yang diimbangi dengan keterampilan (skill) dan pendidikan karakter ini diharapkan dapat mencetak insan-insan yang berkualitas. Namun sejauh ini ternyata sistem tersebut hanya berakhir pada sebuah teori belaka jika tidak diaplikasikan dengan sebenar-benarnya. Fakta yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya. Banyak kita dengar berita tawuran, perkelahian antar siswa hanya gara-gara masalah asmara, bunuh diri karena tak lulus ujian dan tak kalah heboh adalah kasus asusila yang menjangkiti remaja kita. Adakah yang salah dengan sistem ini? Barangkali masyarakat belum seluruhnya paham tentang arti pendidikan yang sesungguhnya. Yang mereka ketahui, orang berpendidikan itu adalah yang ber-title dan bersekolah tinggi. Padahal pendidikan tidak hanya disimbolkan dengan gedung sekolah dan gelar saja. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana isi yang ada di dalam kantong yang bernama pendidikan ini dan bagaimana ia dapat diaplikasikan dengan baik nantinya. Karena pendidikan tidak hanya berbicara tentang teori tetapi juga aplikasi.
Menurut hemat saya, keberhasilan suatu pendidikan dapat dilihat dari 3 aspek, yaitu Kemampuan intelektual, kedalaman spiritual dan kepekaan sosial.
Ketiga aspek tersebut yang akan membentuk seseorang menjadi manusia yang “cakap”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “cakap” berarti mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk melakukan sesuatu. Dan kenapa saya memilih kata ini? Karena pada dasarnya tujuan utama pendidikan adalah laku. Ilmu tidak akan ada manfaatnya jika tidak diwujudkan dalam sebuah laku. Entah itu ilmu umum ataupun ilmu agama, semua bermuara pada laku manusia. Seorang manusia cakap tentu akan dapat berlaku sesuai dengan kecakapan yang dimilikinya. Nah, ketiga aspek yang saya sebutkan di atas merupakan cermin kesempurnaan dari sebuah pendidikan. Manusia cakap tidak hanya mampu menguasai berbagai disiplin ilmu saja, di sisi lain dia juga merupakan hamba Tuhan yang baik. Memiliki keshalehan secara pribadi pun tidak cukup, seorang manusia cakap juga harus mempunyai keshalehan sosial. Dengan demikian, jika ketiga aspek tadi dapat terpenuhi  secara proporsional, maka tidak akan kita dengar lagi berita seorang Intelek nan terpelajar yang gemar judi dan main wanita atau seorang ulama yang tak lagi peduli dengan kondisi umatnya.
Kita ingat, berbicara pendidikan berarti tidak hanya berbicara tentang sekolah tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat. Lingkungan tersebut berperan penting dalam proses pendidikan yang terjadi pada seorang manusia. Sebelum seorang anak mengenyam pendidikan di bangku sekolah, tentu dia sudah mendapat pendidikan di dalam keluarganya. Pendidikan karakter, yang akan melahirkan berbagai perangai manusia, pertama sekali diajarkan oleh kedua orang tua. Bermula dari tahap ini hendaknya para orang tua pun sudah mulai concern terhadap pendidikan anaknya. Maka sebaiknya, menjadi orang tua juga harus diimbangi dengan mempelajari ilmu parenting. “Ah, sudah berumah tangga tentu tak akan sempat untuk belajar”, mungkin itulah ucapan yang sering kita dengar. Namun bagaimana pun, belajar itu tidak pernah terbatasi waktu. “Dari buaian hingga liang lahat”, begitulah kata sebuah hadist. Para orang tua dapat memanfaatkan berbagai media yang ada. Memperbanyak baca buku parenting mungkin cukup untuk menambah wawasan. Ketahuilah bahwa keluarga (orang tua) juga turut andil dalam upaya memajukan sebuah bangsa. Sebab dari merekalah akan lahir para pemimpin bangsa. Keluarga adalah awal terbentuknya peradaban bangsa.
Pendidikan secara lahiriah juga harus diimbangi dengan pendidikan rohaniah. Menjadi manusia cakap juga sekaligus menjadi hamba Tuhan yang taat. Sejenius apapun seseorang, jika dia tidak mempercayai adanya Tuhan, maka hidupnya tentu akan gersang. Hal ini berkaitan pula dengan aspek yang ketiga yaitu kepekaan sosial. Pada jaman sekarang banyak orang yang sudah tidak percaya lagi dengan keberadaan agama. Mengapa demikian? Mereka beranggapan bahwa agama hanya sebatas simbol saja, tapi tetap tidak bisa menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mereka lebih cenderung menjadikan nurani sebagai Tuhannya, lalu mereka meninggalkan agama beserta syariatnya. Sebetulnya tak ada yang bertentangan antara nurani dan agama, karena seseorang yang beragama dengan baik tentu dia akan memiliki kepekaan nurani yang baik pula. Lalu siapa yang salah? Tentu bukan semata-mata agama kita yang salah. Tapi bagaimana cara kita beragamalah yang harusnya dipertanyakan. Agama adalah sebuah laku, bukan hanya simbol peribadatan semata. Kita lihat betapa Nabi Muhammad saw sukses dalam memimpin umat, itu karena beliau menjadikan agama sebagai laku dalam kehidupan sosialnya. Sulit memang untuk mempraktikkan, namun setidaknya berawal dari sebuah kesadaran diharapkan dapat berlanjut pada sebuah langkah konkret. Jika sadar saja belum, bagaimana bisa melangkah?
Sahabat, masalah pendidikan ini adalah tugas kita bersama. Karena setiap diri kita adalah pendidik, minimal bagi dirinya dan juga keluarganya. Keberhasilan pendidikan akan menentukan nasib bangsa ke depan. Setiap satu manusia cakap yang berhasil dimunculkan, niscaya segurat senyum Ibu Pertiwi dapat terlukiskan. Dengan tiga kecakapan yang dimilikinya itu dia akan mampu memimpin bangsanya menuju ke arah yang lebih baik. Insyaa Allah.
Terkadang di tengah kontemplasi yang dalam, saya sering menghardik diri saya sendiri. “Apa yang sudah kau perbuat dengan ilmu dan agamamu, Zi?” sepertinya tetap nihil. Selama ini saya seakan masih terlena dalam tidur panjang dan mimpi-mimpi yang begitu indah. Ah, Tuhan... Bangunkan hamba dengan segera.
Wahai kaum muda, jalan kita masih panjang. Teruslah belajar! Tak hanya pengetahuan tapi juga tentang kehidupan. Masa depan bangsa berada di tangan kita, akankah kita genggam atau kita lepaskan begitu saja?
Wahai kaum hawa, tugas kita pun tak kalah beratnya. Teruslah berbenah dan memperbaiki diri! Sebab para pemimpin bangsa di masa mendatang akan lahir dari dalam rahim kita. Kebiasaan baik melahirkan tradisi baik. Bermula dari diri kita, untuk mereka.
Akhir kata, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga bangsa kita semakin terangkat dari segala keterpurukan dan kebodohan. Beralih menjadi bangsa yang unggul dalam peradaban, berbudi dalam akhlak dan pemikiran. Semoga segera bermunculan manusia-manusia cakap yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Aamiin

Semoga bermanfaat ~

“Setiap diri kita adalah pendidik bagi dirinya dan keluarganya”


1 komentar:

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.