Recent Posts

Kamis, 16 Januari 2014

Rembang Punya Cerita

Ada apa dengan Rembang? Begitu mempesonakah ia hingga membuat aku gelimpungan setiap mendengar apa pun yang berkaitan dengannya. Mulai dari Taman Kartini, Pulau Karang, Dampo Awang, para tokohnya hingga Plat-K (padahal Plat-K itu bukan hanya untuk Rembang). Haha, mungkin ini memang lebay tapi aku sendiri juga merasa heran dengan diriku. Apa sih istimewanya kota ini? Well, dan ini adalah tulisan khusus dariku tentang kota kecil di ujung timur provinsi Jawa Tengah itu.
Kalian tentu pernah mendengar tentang kisah seorang Ibu Kartini, bukan? Ya! Beliau tak lain adalah istri dari seorang Bupati Rembang. Mungkin sejak SD dulu aku hanya mengenal Rembang dari kisah itu saja. Tak ada ketertarikan yang lebih dengannya. Namun cerita berubah sejak aku mengenal sosok seorang Kyai besar yang berasal dari kota itu. Beliau adalah K.H. Maimoen Zubair, pimpinan pondok pesantren Al-Anwar, Sarang - Rembang. Aku mengetahui profil Beliau dari sebuah buletin kecil bernama Iqro’ yang diterbitkan oleh Rohis SMA ku dulu. Saat itu aku tengah duduk di bangku kelas XI. Entah sihir atau mantra apa yang mengenai hatiku, setelah membaca profil Beliau yang begitu bersahaja dan luar biasa seketika hati ini langsung terpaut pada Beliau. Mungkin ini yang dinamakan “Love at the first sight”. Maka sejak saat itulah, aku juga mulai tertarik dengan Kota Rembang, terutama Sarang yang tak lain adalah tempat Beliau berada. Sudah sejak jaman SMA dulu aku ingin sekali bertemu memandang langsung wajah Mbah Moen –begitu panggilan akrab Beliau- dari dekat. Namun hingga saat ini Allah belum juga memberiku kesempatan untuk sowan ke tempat Beliau. (Semoga suatu saat nanti bisa kesampaian. Aamiin)
Ya, begitulah awal mula perkenalanku dengan Kota Rembang. Sudah selesai? Oh ternyata belum. Rasa penasaranku terhadap kota ini justru semakin menjadi-jadi seiring bertambahnya keinginanku melihat sosok Mbah Moen. Saat memasuki bangku perkuliahan, aku berkenalan dengan seorang kakak tingkat yang ternyata berasal dari Rembang. Hubungan kami dapat dibilang (cukup) dekat hingga aku pun tak malu mengungkapkan rasa penasaranku terhadap kampung halamannya itu. Pertanyaan pertama yang terlontar dariku saat tau dia berasal dari Rembang adalah “Rumah Mas jauh gak dari daerah Sarang?” dan katanya cukup jauh karena rumahnya ada di Kecamatan Sulang. Sejak saat itu pula dia jadi sering bercerita tentang Rembang hingga aku mulai tak merasa asing lagi dengan nama-nama daerah yang ada di sana selain daerah Sarang tentunya. :-D
Selain Mbah Moen, ada seorang tokoh mahsyur  lain dari kota ini yang  telah berhasil memikatku. Sejak aku indekost saat masih SMA dulu, aku sering mendengar suaranya yang sedang membacakan puisi atau sajak lewat radio. Siapakah Beliau? Tak lain adalah K.H. Mustofa Bisri atau lebih akrab disapa “Gus Mus”. Beliau ternyata juga berasal dari kota Rembang. Seorang Kyai sekaligus penyair yang mengasuh sebuah pesantren di sana. Kekagumanku semakin memuncak saat mengetahui bagaimana profil seorang Gus Mus yang istimewa itu. Hingga kini aku jadi gemar membaca tulisan-tulisan beliau. Beberapa judul bukunya yang terkenal –meski terbitan lama- seperti: Membuka Pintu Langit, Lukisan Kaligrafi, Mencari Bening Mata Air, dan yang lainnyau cukup membuat aku sedikit mengenali sosok Beliau lebih dalam. Termasuk ada sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan dari para kerabat dan sahabat Gus Mus yang diterbitkan oleh Fakultas Adab UIN Yogya. Buku ini sebagai hadiah untuk Beliau saat dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa. Kalau kata Cak Nun, “Kebanyakan kaum cendekia menjalani pendidikan tinggi hanya untuk mencari gelar. Tapi Gus Mus tidak! Gus Mus tak pernah mencari-cari gelar, justru gelar tersebut lah yang datang sendiri meminta disandang oleh Beliau”.
Saat aku berjalan-jalan di Gramedia Bintaro beberapa tahun silam, aku menemukan sebuah buku yang berjudul “Menuju Ketenangan Batin”. Kubaca sekilas sinopsisnya, isinya sangat menarik hingga akhirnya buku itu pun aku bawa pulang. Ternyata buku tersebut adalah hasil karya dari kakak kandung Gus Mus yaitu K.H M. Cholil Bisri. Subhanallah.. Keluarga yang menakjubkan!
Itu baru beberapa tokoh saja yang kuceritakan di tulisan ini. Sebenarnya masih ada banyak tokoh lain yang berasal dari sana dan berhasil membuatku kagum. Seperti Pak Mohammad Nasih –pendiri yayasan Monash Institute- dan Mbah Ali Maksum Lasem. Karena tokoh-tokoh yang dilahirkan dari kota ini begitu mempesona, aku pun menjadi penasaran dengan kondisi fisik kota ini. Seperti apa sih keadaan disana? Bagaimana lingkungan sosial masyarakatnya hingga bisa memunculkan tokoh-tokoh hebat seperti yang telah kuceritakan di atas.

Rasa penasaranku itu kutuntaskan di bulan Desember 2012. Akhirnya aku menginjakkan kaki juga di kota itu.
Berpose (w/ Lala) di depan jangkar Dampo Awang
Taman Kartini - Rembang

Berada di tengah laut Rembang- Pulau Karang
Meski hanya setengah hari lamanya, tapi cukup membuatku berkesan. Kesan pertama yang kutangkap dari kunjungan kali itu adalah, Rembang adalah kota sederhana nan bersahaja. Mengapa? Coba saja, kalau kalian berkesempatan pergi ke sana, perhatikan di sekitar kotanya. Hampir tidak akan kalian temukan tempat nongkrong seperti halnya Mall-Mall yang ada di kota lainnya. Sesuatu yang antimainstream bukan? Menurut informasi dari temanku, Pemda sana memang tidak memberikan izin pendirian bangunan-bangunan seperti itu. Ya mung kin ada baik dan buruknya juga. Ketiadaan sarana hiburan seperti itu menjadikan kota ini cenderung lebih sepi. Namun dengan suasana yang demikian ini justru menambah kearifan lokal kota ini. Udaranya masih asri, sepanjang jalanan menuju Lotu (Lontong Tuyuan) yang kulihat hanya kawasan hijau atau tanah lapang. Jarang sekali ada bangunan tinggi di samping jalan tersebut. Dan tahukah kalian, Lotu adalah sebuah tempat kuliner khas sana. Tempatnya yang berada di tengah sawah itu membuat nuansa semakin eksotis. Apalagi aku berkunjung kesana saat hujan lebat. Semilir angin yang membawa harum embun dari dedaunan di sawah membuat tempat ini makin sejuk.  Sayang sekali tidak ada gambar yang aku ambil saat itu. Sesaat aku menerka-nerka, mungkin saja karena keadaannya yang begitu hening menjadikan kota ini sangat kondusif bagi mereka yang ingin merenung. Udara yang asri dan jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan ini membuat pikiran dan hati menjadi lebih jernih dan khusyuk. Ya mungkin demikian, itu hanya tebakanku saja.
Aku ingat betul saat pertama kali dibawakan oleh-oleh khas sana. Sirup Kawis sekaligus buahnya juga. Buah KAWIS merupakan buah endemik Rembang. Sepertinya di daerah lain belum ditemukan buah yang serupa. 
ini penampakan Buah Kawis yang asli
Sekilas pandang buahnya memang tidak menarik, apalagi saat dibuka –dibukanya pun harus dengan cara dibanting dulu karena strukturnya keras- isinya sungguh menjijikkan. Aku masih lebih menyukai sirupnya. Walau baunya sangat menyengat tetapi rasanya cukup enak dan segar kalau dicampur dengan es batu. Cobain deh! :-D


Ya begitulah Rembang dengan segala kekagumanku yang tersimpan padanya. Berharap suatu saat nanti aku bisa berkunjung lagi kesana. Paling tidak waktu menghadiri acara pernikahan teman-temanku yang berasal dari sana. Itu pun kalau diundang. Hahaha

Oke Sahabat, sekian dulu ceritaku tentang Rembang. Semoga bermanfaat ~~

2 komentar:

  1. Salam kenal..kakak yg bersenang ria..trimakasih sudah mengidokakan kota kami..jika boleh tau kakak dari kota mana???

    BalasHapus

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.