Ada apa dengan Rembang? Begitu mempesonakah ia hingga
membuat aku gelimpungan setiap
mendengar apa pun yang berkaitan dengannya. Mulai dari Taman Kartini, Pulau
Karang, Dampo Awang, para tokohnya hingga Plat-K (padahal Plat-K itu bukan
hanya untuk Rembang). Haha, mungkin ini memang lebay tapi aku sendiri juga merasa heran dengan diriku. Apa sih
istimewanya kota ini? Well, dan ini
adalah tulisan khusus dariku tentang kota kecil di ujung timur provinsi Jawa
Tengah itu.
Kalian tentu pernah mendengar tentang kisah seorang Ibu
Kartini, bukan? Ya! Beliau tak lain adalah istri dari seorang Bupati Rembang.
Mungkin sejak SD dulu aku hanya mengenal Rembang dari kisah itu saja. Tak ada
ketertarikan yang lebih dengannya. Namun cerita berubah sejak aku mengenal
sosok seorang Kyai besar yang berasal dari kota itu. Beliau adalah K.H. Maimoen
Zubair, pimpinan pondok pesantren Al-Anwar, Sarang - Rembang. Aku mengetahui
profil Beliau dari sebuah buletin kecil bernama Iqro’ yang diterbitkan oleh
Rohis SMA ku dulu. Saat itu aku tengah duduk di bangku kelas XI. Entah sihir
atau mantra apa yang mengenai hatiku, setelah membaca profil Beliau yang begitu
bersahaja dan luar biasa seketika hati ini langsung terpaut pada Beliau. Mungkin
ini yang dinamakan “Love at the first
sight”. Maka sejak saat itulah, aku juga mulai tertarik dengan Kota
Rembang, terutama Sarang yang tak lain adalah tempat Beliau berada. Sudah sejak
jaman SMA dulu aku ingin sekali bertemu memandang langsung wajah Mbah Moen
–begitu panggilan akrab Beliau- dari dekat. Namun hingga saat ini Allah belum
juga memberiku kesempatan untuk sowan ke
tempat Beliau. (Semoga suatu saat nanti bisa kesampaian. Aamiin)
Ya, begitulah awal mula perkenalanku dengan Kota Rembang.
Sudah selesai? Oh ternyata belum. Rasa penasaranku terhadap kota ini justru
semakin menjadi-jadi seiring bertambahnya keinginanku melihat sosok Mbah Moen.
Saat memasuki bangku perkuliahan, aku berkenalan dengan seorang kakak tingkat
yang ternyata berasal dari Rembang. Hubungan kami dapat dibilang (cukup) dekat
hingga aku pun tak malu mengungkapkan rasa penasaranku terhadap kampung
halamannya itu. Pertanyaan pertama yang terlontar dariku saat tau dia berasal
dari Rembang adalah “Rumah Mas jauh gak
dari daerah Sarang?” dan katanya cukup jauh karena rumahnya ada di Kecamatan
Sulang. Sejak saat itu pula dia jadi sering bercerita tentang Rembang hingga aku
mulai tak merasa asing lagi dengan nama-nama daerah yang ada di sana selain
daerah Sarang tentunya. :-D
Selain Mbah Moen, ada seorang tokoh mahsyur lain dari kota ini yang telah berhasil memikatku. Sejak aku indekost saat masih SMA dulu, aku sering
mendengar suaranya yang sedang membacakan puisi atau sajak lewat radio. Siapakah
Beliau? Tak lain adalah K.H. Mustofa Bisri atau lebih akrab disapa “Gus Mus”.
Beliau ternyata juga berasal dari kota Rembang. Seorang Kyai sekaligus penyair
yang mengasuh sebuah pesantren di sana. Kekagumanku semakin memuncak saat
mengetahui bagaimana profil seorang Gus Mus yang istimewa itu. Hingga kini aku
jadi gemar membaca tulisan-tulisan beliau. Beberapa judul bukunya yang terkenal
–meski terbitan lama- seperti: Membuka
Pintu Langit, Lukisan Kaligrafi, Mencari Bening Mata Air, dan yang lainnyau
cukup membuat aku sedikit mengenali sosok Beliau lebih dalam. Termasuk ada
sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan dari para kerabat dan sahabat Gus Mus
yang diterbitkan oleh Fakultas Adab UIN Yogya. Buku ini sebagai hadiah untuk
Beliau saat dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa. Kalau kata Cak Nun, “Kebanyakan
kaum cendekia menjalani pendidikan tinggi hanya untuk mencari gelar. Tapi Gus
Mus tidak! Gus Mus tak pernah mencari-cari gelar, justru gelar tersebut lah
yang datang sendiri meminta disandang oleh Beliau”.
Saat aku berjalan-jalan di Gramedia Bintaro beberapa tahun
silam, aku menemukan sebuah buku yang berjudul “Menuju Ketenangan Batin”. Kubaca sekilas sinopsisnya, isinya
sangat menarik hingga akhirnya buku itu pun aku bawa pulang. Ternyata buku
tersebut adalah hasil karya dari kakak kandung Gus Mus yaitu K.H M. Cholil Bisri.
Subhanallah.. Keluarga yang menakjubkan!
Itu baru beberapa tokoh saja yang kuceritakan di tulisan
ini. Sebenarnya masih ada banyak tokoh lain yang berasal dari sana dan berhasil
membuatku kagum. Seperti Pak Mohammad Nasih –pendiri yayasan Monash Institute-
dan Mbah Ali Maksum Lasem. Karena tokoh-tokoh yang dilahirkan dari kota ini
begitu mempesona, aku pun menjadi penasaran dengan kondisi fisik kota ini.
Seperti apa sih keadaan disana? Bagaimana lingkungan sosial masyarakatnya
hingga bisa memunculkan tokoh-tokoh hebat seperti yang telah kuceritakan di
atas.
Rasa penasaranku itu kutuntaskan di bulan Desember 2012. Akhirnya
aku menginjakkan kaki juga di kota itu.
![]() |
| Berpose (w/ Lala) di depan jangkar Dampo Awang Taman Kartini - Rembang |
![]() |
| Berada di tengah laut Rembang- Pulau Karang |
Aku ingat betul saat pertama kali dibawakan oleh-oleh khas
sana. Sirup Kawis sekaligus buahnya juga. Buah KAWIS merupakan buah endemik
Rembang. Sepertinya di daerah lain belum ditemukan buah yang serupa.
![]() |
| ini penampakan Buah Kawis yang asli |
Sekilas pandang
buahnya memang tidak menarik, apalagi saat dibuka –dibukanya pun harus dengan
cara dibanting dulu karena strukturnya keras- isinya sungguh menjijikkan. Aku
masih lebih menyukai sirupnya. Walau baunya sangat menyengat tetapi rasanya
cukup enak dan segar kalau dicampur dengan es batu. Cobain deh! :-D
Ya begitulah Rembang dengan segala kekagumanku yang
tersimpan padanya. Berharap suatu saat nanti aku bisa berkunjung lagi kesana. Paling
tidak waktu menghadiri acara pernikahan teman-temanku yang berasal dari sana.
Itu pun kalau diundang. Hahaha
Oke Sahabat, sekian dulu ceritaku tentang Rembang. Semoga
bermanfaat ~~
%5B1%5D.jpg)
%5B1%5D.jpg)

cieeee
BalasHapusSalam kenal..kakak yg bersenang ria..trimakasih sudah mengidokakan kota kami..jika boleh tau kakak dari kota mana???
BalasHapus