Recent Posts

Sabtu, 10 Januari 2015

PIUTANG GANJARAN



Suatu hari Kang Badru dan Gus Tamam sedang asyik berbincang di depan teras ndalem- nya Abah Yai sambil menikmati pemandangan para santri putri yang sedang sliweran di hadapan mereka. Di tengah obrolan itu tiba-tiba Kang Badru nyeletuk,
“ Gus, saya minta maaf sebelumnya ya. Saya minta ikhlasnya panjenengan.”, ucapnya sambil menelungkupkan kedua telapak tangan di dadanya seraya memohon.
Gus Tamam yang sedari tadi nyeruput kopi pun seketika diam keheranan.
“Lha ada apa kok tiba-tiba kamu minta maaf? Habis ngapain kamu? Mecahin piring atau ketahuan ngintip ke area santri putri?”
Kang Badru ini memang terkenal dengan ke-mbeling-annya sebagai santri senior sekaligus teman setianya Gus Tamam. Kemana pun Gus Tamam pergi, kang Badru selalu siap mengawal di belakangnya. Ya, mungkin berjodoh juga sejak dari namanya. Keduanya memiliki nama yang sama persis yaitu “Badruttamam”. Sehingga untuk membedakan, yang satu dipanggil “Badru” dan satunya dipanggil “Tamam”. Bedanya lagi, yang satunya adalah seorang Gus, putranya Kyai besar. Sedang yang satunya adalah seorang santri, putranya Pak Tani. Namun perbedaan latar belakang itu tidak membuat mereka terjarak. Kedekatan mereka bahkan bisa dikatakan seperti saudara kandung.

“Hoo enggak Gus. Anu lho, saya ingin minta maaf kepada njenengan. Soalnya kadang, sering saya nggunjingkan bersama santri-santri lain. hehehe”
“He? Emang kalian nggunjingin aku apa?”, tanyanya penasaran
“Ya rahasia lah Gus. Masa dikasih tau ke njenengan. Gimana Gus? Njenengan ikhlas dan ridho kan memaafkan kami?”
“Lha sampeyan ini juga lucu, masa orang menggunjing kok pakai ngaku dan minta maaf segala?”
“hehehe”
“Yasudah aku ikhlas, tapi aku ya minta maaf lho sama sampeyan. Sering tak gunjingin juga sama Abah. haha”
“Ah, itu mah sudah biasa Gus.”
“Udah ikhlas kan? Deal, impas kita!”, sambil menjabat tangan.
“Eh, siapa bilang saya ikhlas Gus. Enggak kok, saya gak ikhlas memaafkan njenengan.”
“Lha kok curang sampeyan ini. Tadi minta keikhlasanku sekarang malah sampeyan yang gak mau ikhlas maafin aku.”
“Iya Gus, biar bisa jadi piutang saya nanti di akhirat.”
“Maksudmu?”
“Ya, biar nanti saya bisa sedikit ngambil ganjarannya njenengan. Kan njenengan sudah menggunjing saya. Hehehe”
Tampak wajah Gus Tamam sedikit memerah dan langsung menenggak kopi yang masih tersisa di gelasnya.
“Duh, pahit.. pahit..”




0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.