Suatu hari Kang Badru dan Gus Tamam sedang asyik berbincang di
depan teras ndalem- nya Abah Yai sambil
menikmati pemandangan para santri putri yang sedang sliweran di hadapan mereka. Di tengah obrolan itu tiba-tiba Kang
Badru nyeletuk,
“ Gus, saya minta maaf sebelumnya ya. Saya minta ikhlasnya panjenengan.”, ucapnya sambil
menelungkupkan kedua telapak tangan di dadanya seraya memohon.
Gus Tamam yang sedari tadi nyeruput kopi pun seketika diam
keheranan.
“Lha ada apa kok tiba-tiba kamu minta maaf? Habis ngapain
kamu? Mecahin piring atau ketahuan ngintip ke area santri putri?”
Kang Badru ini memang terkenal dengan ke-mbeling-annya sebagai santri senior
sekaligus teman setianya Gus Tamam. Kemana pun Gus Tamam pergi, kang Badru
selalu siap mengawal di belakangnya. Ya, mungkin berjodoh juga sejak dari
namanya. Keduanya memiliki nama yang sama persis yaitu “Badruttamam”. Sehingga untuk
membedakan, yang satu dipanggil “Badru” dan satunya dipanggil “Tamam”. Bedanya
lagi, yang satunya adalah seorang Gus, putranya Kyai besar. Sedang yang satunya
adalah seorang santri, putranya Pak Tani. Namun perbedaan latar belakang itu
tidak membuat mereka terjarak. Kedekatan mereka bahkan bisa dikatakan seperti
saudara kandung.
“Hoo enggak Gus. Anu lho, saya ingin minta maaf kepada njenengan. Soalnya kadang, sering saya
nggunjingkan bersama santri-santri lain. hehehe”
“He? Emang kalian nggunjingin aku apa?”, tanyanya penasaran
“Ya rahasia lah Gus. Masa dikasih tau ke njenengan. Gimana Gus? Njenengan ikhlas dan ridho kan memaafkan
kami?”
“Lha sampeyan ini
juga lucu, masa orang menggunjing kok pakai ngaku dan minta maaf segala?”
“hehehe”
“Yasudah aku ikhlas, tapi aku ya minta maaf lho sama sampeyan. Sering tak gunjingin juga sama
Abah. haha”
“Ah, itu mah sudah biasa Gus.”
“Udah ikhlas kan? Deal, impas kita!”, sambil menjabat
tangan.
“Eh, siapa bilang saya ikhlas Gus. Enggak kok, saya gak
ikhlas memaafkan njenengan.”
“Lha kok curang sampeyan
ini. Tadi minta keikhlasanku sekarang malah sampeyan
yang gak mau ikhlas maafin aku.”
“Iya Gus, biar bisa jadi piutang saya nanti di akhirat.”
“Maksudmu?”
“Ya, biar nanti saya bisa sedikit ngambil ganjarannya njenengan. Kan njenengan sudah
menggunjing saya. Hehehe”
Tampak wajah Gus Tamam sedikit memerah dan langsung
menenggak kopi yang masih tersisa di gelasnya.
“Duh, pahit.. pahit..”
0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)