Recent Posts

Rabu, 28 Januari 2015

Hitungan Sekejap Mata

Sepanjang minggu ini aku merasa seperti sedang diingatkan terus tentang “waktu” dan “kematian”. Mulai dari kecelakaan kecil yang kualami dua hari berturut-turut hingga membuat jalanku sedikit pincang dan juga pesan singkat dari sebuah grup Whatsapp yang isinya menerangkan bahwa Malaikat Izroil menjenguk kita setiap 20 menit sekali. Pesan itu kuterima beberapa saat setelah aku mengalami kecelakaan. Bulu kudukku pun langsung merinding saat membacanya. Seakan inilah teguran langsung dari Tuhan kepada hamba-Nya yang sering lalai ini. Kejadian nahas kemarin memberiku beberapa pelajaran tentang singkatnya kehidupan di dunia. Sebuah “celaka” (atau dalam bahasa Tegalnya disebut blai) merupakan sebuah peringatan bahwa hidup seseorang bisa saja sirna dalam sekejap mata. Kita tak pernah membayangkan sebelumnya, pada jam J menit M detik D, akan mengalami kecelakaan yang bisa saja itu menjadi jalan maut menjemput kita. Begitu mudahnya, bukan? Sepersekian detik kejadiannya, tapi nyawa kita bisa melayang seketika. Astaghfirullah...

Aku jadi teringat pesan dari almarhumah Magede Nuriyah (nenekku tercinta, Allahu yarham). Suatu hari beliau pernah berkata padaku, “Kematian itu datangnya tiba-tiba dan hanya sekali saja dalam hidup kita. Jika kita menginginkan akhir yang baik, maka isilah waktumu dengan perbuatan yang baik. Sebab akhir hayat kita juga bergantung dari kebiasaan kita.
Orang yang waktunya biasa diisi untuk nderes (baca Alqur’an), jika suatu waktu ajal menjemputnya, harapannya dia sedang dalam keadaan nderes juga. Tapi orang yang waktunya digunakan untuk hura-hura, siapa yang tahu kalau ternyata ajal menjemputnya pada saat dia sedang dalam keadaan lalai?”

Nasehat panjang yang beliau sampaikan padaku bahkan sampai detik ini pun masih saja kuingat. Kalimat itu benar-benar membuatku berpikir ulang tiap kali hendak melakukan hal yang tidak baik. (Terima kasih, Magede. Semoga engkau bahagia di alam sana. Alfatihah~)

Dan pada hari ini, di majelis pun Sang Guru tengah membahas masalah yang sama. Waktu dan Kematian. Beliau menjelaskan bahwa manusia hidup di dunia itu bukan (hanya) untuk “mati”. Tetapi untuk memilih kehidupan berikutnya. Apakah menginginkan kehidupan yang baik (surga) atau yang buruk (neraka). Keduanya kita pilih sejak kehidupan kita di dunia. Manusia tak lepas dari 3 aspek dalam waktu, yaitu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Masa lalu adalah sang pemberi pelajaran. Darinya kita bisa mengambil hikmah pada setiap kejadian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang terpilih yang disebut-Nya dalam Surat Al-baqarah : 269, 


“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”


Sedangkan masa kini adalah ibarat seorang teman. Jika kita ajak dia dalam kebaikan, niscaya dia pun akan menjadi baik. Begitu pula sebaliknya. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu kini yang diberikan oleh Allah kepada kita. Bersyukur karena hingga detik ini aku masih diberi kesempatan untuk bernafas, masih bisa melakukan ibadah sebagaimana mestinya. Alhamdulillaah...

Dan masa yang akan datang, adalah sebuah harapan bagi kita. Apa-apa yang menjadi rencana dan harapan kita berada pada rentang masa itu. Maka, sudah sepatutnya kita rencanakan dengan hal-hal yang baik. Berharap untuk kebaikan di masa yang akan datang, niatkanlah sejak sekarang. Jikalau Allah memberi kita kesempatan untuk mewujudkannya, itu merupakan sebuah keberuntungan bagi kita. Namun jika tidak, semoga Allah sudah mencatat amal (niat) kita pada masa sekarang.



Semoga bermanfaat ~

0 komentar:

Posting Komentar

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.