![]() |
| pic from infoakademika.com |
Hari ini adalah tanggal 2 Mei, bertepatan dengan Hari
Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebagaimana telah kita ketahui bersama, sistem
pendidikan di negeri kita ini sedang berusaha untuk terus menerus diperbaiki.
Masih melekat di ingatan kita tentunya beberapa kali kurikulum pendidikan kita mengalami
perubahan. Mulai dari kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), KTPS
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga yang baru-baru ini diterapkan
yaitu Kurikulum 2013. Pada kurikulum yang terbaru ini, perbedaan mencolok
terlihat dari banyaknya mata pelajaran yang diajarkan. Adanya pengelompokan
mapel ke dalam 2 jenis yaitu mapel wajib dan mapel pilihan. Kurikulum ini lebih
mengutamakan pada pemahaman, skill dan pendidikan karakter para peserta
didik. Siswa dituntut untuk bisa memahami setiap materi yang diajarkan, aktif
dalam berdiskusi serta memiliki perilaku yang baik. Dengan penyesuaian
pendidikan karakter ini pula, untuk siswa SD tidak diberikan mapel pilihan, sehingga
akan ada beberapa mapel yang dihilangkan dalam pembelajarannya. Jika dilihat
dari visi yang diusung oleh kurikulum ini, saya rasa sistem pendidikan kita ini
sudah cukup baik dalam mengakomodir seluruh potensi dalam diri seseorang. Aspek
pengetahuan yang diimbangi dengan keterampilan (skill) dan pendidikan karakter ini
diharapkan dapat mencetak insan-insan yang berkualitas. Namun sejauh ini
ternyata sistem tersebut hanya berakhir pada sebuah teori belaka jika tidak
diaplikasikan dengan sebenar-benarnya. Fakta yang terjadi di masyarakat justru
sebaliknya. Banyak kita dengar berita tawuran, perkelahian antar siswa hanya
gara-gara masalah asmara, bunuh diri karena tak lulus ujian dan tak kalah heboh
adalah kasus asusila yang menjangkiti remaja kita. Adakah yang salah dengan
sistem ini? Barangkali masyarakat belum seluruhnya paham tentang arti
pendidikan yang sesungguhnya. Yang mereka ketahui, orang berpendidikan itu
adalah yang ber-title dan bersekolah tinggi. Padahal pendidikan tidak
hanya disimbolkan dengan gedung sekolah dan gelar saja. Jauh lebih penting dari
itu adalah bagaimana isi yang ada di dalam kantong yang bernama pendidikan ini dan
bagaimana ia dapat diaplikasikan dengan baik nantinya. Karena pendidikan tidak
hanya berbicara tentang teori tetapi juga aplikasi.
Menurut hemat saya, keberhasilan suatu pendidikan dapat
dilihat dari 3 aspek, yaitu Kemampuan intelektual, kedalaman spiritual dan
kepekaan sosial.
Ketiga aspek tersebut yang akan membentuk seseorang
menjadi manusia yang “cakap”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “cakap”
berarti mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk melakukan sesuatu. Dan
kenapa saya memilih kata ini? Karena pada dasarnya tujuan utama pendidikan
adalah laku. Ilmu tidak akan ada manfaatnya jika tidak diwujudkan dalam
sebuah laku. Entah itu ilmu umum ataupun ilmu agama, semua bermuara pada laku
manusia. Seorang manusia cakap tentu akan dapat berlaku sesuai dengan kecakapan
yang dimilikinya. Nah, ketiga aspek yang saya sebutkan di atas merupakan cermin
kesempurnaan dari sebuah pendidikan. Manusia cakap tidak hanya mampu menguasai
berbagai disiplin ilmu saja, di sisi lain dia juga merupakan hamba Tuhan yang
baik. Memiliki keshalehan secara pribadi pun tidak cukup, seorang manusia cakap
juga harus mempunyai keshalehan sosial. Dengan demikian, jika ketiga aspek tadi
dapat terpenuhi secara proporsional,
maka tidak akan kita dengar lagi berita seorang Intelek nan terpelajar yang gemar
judi dan main wanita atau seorang ulama yang tak lagi peduli dengan kondisi
umatnya.
Kita ingat, berbicara pendidikan berarti tidak hanya
berbicara tentang sekolah tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat.
Lingkungan tersebut berperan penting dalam proses pendidikan yang terjadi pada
seorang manusia. Sebelum seorang anak mengenyam pendidikan di bangku sekolah,
tentu dia sudah mendapat pendidikan di dalam keluarganya. Pendidikan karakter,
yang akan melahirkan berbagai perangai manusia, pertama sekali diajarkan oleh kedua
orang tua. Bermula dari tahap ini hendaknya para orang tua pun sudah mulai concern
terhadap pendidikan anaknya. Maka sebaiknya, menjadi orang tua juga harus
diimbangi dengan mempelajari ilmu parenting. “Ah, sudah berumah tangga
tentu tak akan sempat untuk belajar”, mungkin itulah ucapan yang sering kita
dengar. Namun bagaimana pun, belajar itu tidak pernah terbatasi waktu. “Dari
buaian hingga liang lahat”, begitulah kata sebuah hadist. Para orang tua
dapat memanfaatkan berbagai media yang ada. Memperbanyak baca buku parenting
mungkin cukup untuk menambah wawasan. Ketahuilah bahwa keluarga (orang tua)
juga turut andil dalam upaya memajukan sebuah bangsa. Sebab dari merekalah akan
lahir para pemimpin bangsa. Keluarga adalah awal terbentuknya peradaban bangsa.
Pendidikan secara lahiriah juga harus diimbangi dengan
pendidikan rohaniah. Menjadi manusia cakap juga sekaligus menjadi hamba Tuhan
yang taat. Sejenius apapun seseorang, jika dia tidak mempercayai adanya Tuhan,
maka hidupnya tentu akan gersang. Hal ini berkaitan pula dengan aspek yang
ketiga yaitu kepekaan sosial. Pada jaman sekarang banyak orang yang sudah tidak
percaya lagi dengan keberadaan agama. Mengapa demikian? Mereka beranggapan
bahwa agama hanya sebatas simbol saja, tapi tetap tidak bisa menjadi solusi
atas berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mereka lebih cenderung
menjadikan nurani sebagai Tuhannya, lalu mereka meninggalkan agama beserta
syariatnya. Sebetulnya tak ada yang bertentangan antara nurani dan agama,
karena seseorang yang beragama dengan baik tentu dia akan memiliki kepekaan
nurani yang baik pula. Lalu siapa yang salah? Tentu bukan semata-mata agama
kita yang salah. Tapi bagaimana cara kita beragamalah yang harusnya
dipertanyakan. Agama adalah sebuah laku, bukan hanya simbol peribadatan semata.
Kita lihat betapa Nabi Muhammad saw sukses dalam memimpin umat, itu karena
beliau menjadikan agama sebagai laku dalam kehidupan sosialnya. Sulit memang
untuk mempraktikkan, namun setidaknya berawal dari sebuah kesadaran diharapkan
dapat berlanjut pada sebuah langkah konkret. Jika sadar saja belum, bagaimana
bisa melangkah?
Sahabat, masalah pendidikan ini adalah tugas kita bersama. Karena
setiap diri kita adalah pendidik, minimal bagi dirinya dan juga keluarganya.
Keberhasilan pendidikan akan menentukan nasib bangsa ke depan. Setiap satu
manusia cakap yang berhasil dimunculkan, niscaya segurat senyum Ibu Pertiwi dapat
terlukiskan. Dengan tiga kecakapan yang dimilikinya itu dia akan mampu memimpin
bangsanya menuju ke arah yang lebih baik. Insyaa Allah.
Terkadang di tengah kontemplasi yang dalam, saya sering
menghardik diri saya sendiri. “Apa yang sudah kau perbuat dengan ilmu dan
agamamu, Zi?” sepertinya tetap nihil. Selama ini saya seakan masih terlena
dalam tidur panjang dan mimpi-mimpi yang begitu indah. Ah, Tuhan... Bangunkan
hamba dengan segera.
Wahai kaum muda, jalan kita masih panjang. Teruslah belajar!
Tak hanya pengetahuan tapi juga tentang kehidupan. Masa depan bangsa berada di
tangan kita, akankah kita genggam atau kita lepaskan begitu saja?
Wahai kaum hawa, tugas kita pun tak kalah beratnya. Teruslah
berbenah dan memperbaiki diri! Sebab para pemimpin bangsa di masa mendatang
akan lahir dari dalam rahim kita. Kebiasaan baik melahirkan tradisi baik. Bermula
dari diri kita, untuk mereka.
Akhir kata, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga bangsa
kita semakin terangkat dari segala keterpurukan dan kebodohan. Beralih menjadi
bangsa yang unggul dalam peradaban, berbudi dalam akhlak dan pemikiran. Semoga
segera bermunculan manusia-manusia cakap yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Aamiin
Semoga bermanfaat ~
“Setiap diri kita adalah pendidik bagi dirinya dan
keluarganya”

setuju:)
BalasHapus