Recent Posts

Selasa, 20 Mei 2014

Lebih Dekat dengan “Pram”

Seorang kawanku pernah berkata saat dia mengetahui keberadaanku di Jogja.
“Mumpung sedang di Jogja, coba baca tetraloginya Pram”
“Pram? Prambanan?”, jawabku polos.
“Bukan! Pramoedya Ananta Toer”
Aku hanya ber-ooo-ria sambil tersipu menahan malu yang memenuhi wajahku.

Itulah awal perkenalanku dengan sosok legendaris yang satu ini. Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pram, adalah seorang penulis produktif pada masa orde lama-orde baru. Karya-karyanya banyak menimbulkan penolakan dari pihak penguasa pada masa itu karena dianggap “berbahaya”. Pram juga dituduh sebagai pengikut golongan kiri yang pada saat itu keberadaannya tidak diperkenankan. Diantara karya Pram yang terkenal adalah sebagaimana direkomendasikan kawanku itu, Tetralogi Pulau Buru. Novel berlatar belakang kolonialisme ini ditulis Pram pada saat dirinya diasingkan di Pulau Buru akibat tuduhan sebagai antek PKI. Terdiri dari 4 buku, yaitu: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sampai sekarang saya belum juga bisa menghabiskan keempatnya, masih tertahan di buku ke-2. Novel Pram ini memang tergolong novel yang berat, dengan gaya bahasa sastra lama dan latar belakang sejarah bangsa. Di dalamnya Pram sangat jelas sekali menggambarkan bagaimana kondisi bangsa kita pada masa penjajahan. Pram sangat pandai dalam menggugah imajinasi pembacanya. Dengan mengusung semangat anti-feodalisme dan anti-kolonialisme, Pram membawa kita –para pembacanya- seakan kembali lagi ke masa itu dan merasakan sendiri kondisi saat itu. Saya sendiri saat membaca Bumi Manusia, rasanya seolah sosok Nyai Ontosoroh itu benar-benar ada.
Selain tetralogi Pulau Buru itu, masih banyak sekali karya-karyanya  yang tidak kalah bagus, seperti novel Arus Balik dan Panggil Aku Kartini Saja. Itu semua adalah buah pemikiran hebat seorang Pram. Meski karyanya dilarang terbit bahkan langsung dimusnahkan di Indonesia, Pram justru memiliki nama yang besar di kancah Internasional. Beberapa karyanya ada yang diterjemahkan dalam bahasa asing. Pram juga menerima banyak penghargaan Internasional di bidang sastra. Ya, dialah Pram dengan segala kontroversinya. Sebuah sejarah yang terhapus oleh sejarah.

Pada hari Sabtu, 17 Mei 2014 kemarin, Keluarga Mahasiswa Blora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengadakan  acara Peringatan 8 tahun kepergian Pramoedya Ananta Toer. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pram berasal dari Kota Blora. Mungkin inilah sebuah kebetulan yang sudah terencana, pucuk dicinta ulam pun tiba. Acara ini hadir di tengah-tengah rasa penasaranku dengan sosok Pram, maka saya pun tak ingin melewatkannya. Meski harus menerjang gerimis untuk bisa mencapai Ruang teatrikal Perpustakaan UIN Yogya, tempat dimana acara ini diselenggarakan. Ada dua pembicara yang hadir dalam acara ini, yaitu Pak Hairus Salim (direktur LKiS) dan Pak Agus Hernawan. Sebetulnya panitia merencanakan akan menghadirkan Pak Soesilo Toer, adik kandung Pram, namun beliau berhalangan hadir.
Dari pemaparan materi yang disampaikan oleh kedua pembicara ini, saya jadi merasa mengenal Pram lebih dekat lagi. Sebagaimana diungkapkan oleh Pak Agus Hernawan, “Untuk mengenali siapa Pram, kita harus keluar dari definisi-definisi terdahulu dan mencoba merekonstruksi definisi kita sendiri tentang Pram”. Dalam membaca sejarah pun demikian, kita tidak bisa hanya mengunyah dan menelan apa saja yang dicekokan ke dalam otak kita. Kita harus bisa melakukan interpretasi sendiri terhadap sejarah dari perspektif diri kita. Meminjam istilah yang dibuat oleh Pak Hairus Salim, bahwa dalam sejarah ada dua jenis kebenaran yaitu Kebenaran Hulu dan Kebenaran Hilir. Kebenaran Hulu ialah kebenaran dari fakta sejarah yang terjadi. Sedangkan kebenaran hilir adalah kebenaran yang dibuat oleh hasil interpretasi kita sendiri terhadap kebenaran hulu. Sebagai contoh kita ambil salah satu karya Pram yaitu Bumi Manusia. Dalam novel tersebut Pram menggambarkan sosok seorang Nyai bernama Ontosoroh dengan baik. Seorang wanita pribumi yang cerdas, punya kesungguhan dalam belajar dan mempunyai kemampuan dalam menjalankan perusahaan tuannya. Ini merupakan kebenaran hilir. Sedangkan faktanya pada masa itu, sosok seorang Nyai merupakan wanita pribumi dengan tingkat kesusilaan yang rendah. Seorang wanita tak berpendidikan yang hanya suka menghabiskan harta Tuannya. Di sinilah Pram melakukan re-interpretasi terhadap sosok Nyai. Dia menampakkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri seorang Nyai yang digambarkannya melalui sosok Nyai Ontosoroh ini. Barangkali ini juga salah satu upaya Pram dalam membela hak-hak kaum tertindas seperti halnya seorang Nyai.
Kemudian Pak Hairus Salim juga membahas tentang sisi religiusitas Pram melalui novelnya yang berjudul “Arus Balik”. Dalam novel ini terlihat bahwa Pram seakan-akan kurang menyegani agama Islam. Hal ini digambarkan dengan penampilan sosok Haji yang suka main serong dan seorang Sayyid yang memperkosa berkali-kali. Apakah dengan demikian Pram cenderung antipati terhadap Islam? Menurut beliau, penggambaran Pram ini hanya sekadar menunjukkan ketidaksenangan dia terhadap Islam yang terkesan keras pada masa itu. Ini adalah bentuk kekritisan Pram terhadap kondisi Islam saat itu sebagai agama yang baru datang mengantikan agama moyangnya.
Selain membahas tentang sisi religiusitasnya, novel Arus Balik ini juga isinya banyak memprotes kebijakan-kebijakan penguasa Orde Baru. Disebutkan dalam salah satu bagian cerita sebagai berikut, “Tanah di Jawa ini kecil, lautnya besar. Barang siapa kehilangan air maka dia kehilangan tanah. Barang siapa kehilangan laut maka dia kehilangan darat”. Ungkapan Pram dalam novel ini seakan ingin menunjukkan betapa Nusantara kita memiliki potensi besar dalam bidang maritim yang selama ini masih terabaikan. Apalagi pada masa orde baru dimana kekuatan utama yang berkuasa yaitu Angkatan Darat, maka semakin tersingkirkanlah kemaritiman yang kita miliki.
Ada dua ungkapan di dua era yang berbeda. Sekilas sama namun sangat berbeda makna. Ungkapan pada era orde lama, “Indonesia adalah negara kepulauan yang dihubungkan/disatukan oleh lautan”. Sedangkan ungkapan yang kedua yaitu “Indonesia adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan”. Dari kedua ungkapan ini akan menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap negara kita. Kata “dipisahkan” itu lebih menunjukkan seakan-akan hal itu (Laut) menjadi penghalang yang seharusnya tidak ada. Kesan yang saya tangkap dari pembicaraan itu adalah bahwa Pram menginginkan Bumi Nusantara ini bangkit. Pram sangat tidak suka kepada orang yang rela jika harga dirinya diinjak-injak oleh orang lain. Maka itu dia termasuk dalam garda terdepan dalam melawan kolonialisme. Bagi Pram, martabat seseorang itu harus dijaga bagaimanapun caranya.
Pak Hairus Salim juga menyatakan bahwa Pram menulis karya-karya sejarahnya ini bukan untuk generasi tua pada jaman itu tetapi untuk generasi muda pada masa yang akan datang. Maka tidak heran jika tetralogi Pulau Buru ini menjadi bacaan wajib para kader-kader muda organisasi pergerakan, semisal HMI. Dari sini saya mulai tergugah untuk turut berkontibusi kepada bangsa, namun lagi-lagi pertanyaannya adalah “dengan apa dan bagaimana?”. Ya, berjuanglah dalam bidang kita masing-masing. Berjuanglah dengan kemampuan kita masing-masing. Perkara berhasil atau tidak yang penting kita sudah berusaha.
Pada sesi diskusi, ada beberapa penanya yang menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi saat ini. Tokoh sebesar Pram tidak banyak dikenal oleh para pemuda pada masa sekarang. Padahal gagasan dan pemikirannya tentang nasionalisme dan perjuangan bangsa sudah sepatutnya disampaikan kepada para pemuda yang nantinya akan meneruskan keberlangsungan negeri ini. Maka dari situlah kemudian direncanakan akan dibentuk semacam komunitas baru - selain Pramist­- yang nantinya akan membahas pemikiran-pemikiran Pram melalui karya-karyanya. Jadi komunitas tersebut akan rutin mengadakan pertemuan untuk membahas salah satu buku Pram pada setiap pertemuannya. Menurut saya ini ide yang bagus untuk menumbuhkan daya juang kaum muda dalam memajukan bangsanya. Karena lawan kita pada masa kini bukanlah bala tentara yang membawa bedhil senjata, namun para pelaku politik yang sedang menguasai kondisi bangsa kita. Disadari atau tidak, segala yang terjadi di negara kita berasal dari produk politik para penguasa. Maka sudah bukan jamannya lagi kita bersikap resisten terhadap politik. Ini juga sekaligus catatan bagi saya pribadi yang selama ini terkesan masih menutup mata terhadap politik. Padahal itu jutsru bisa dijadikan sebagai senjata yang akan menentukan kita menang atau kalah.
Untuk mengakhiri tulisan ini, saya menukil sebuah percakapan antara Minke dan Nyai Ontosoroh yang menjadi  penutup buku Bumi Manusia. “Kita kalah, Ma, Bisikku.” “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.


Semoga bermanfaat ~

3 komentar:

  1. iya seko mbiyen aku ngefans karo beliau, banyak novel beliau yg belum aku baca. bacane penuh penafsiran Zi.

    BalasHapus
  2. Met milad yaaa....
    Semangat....!! :-)

    BalasHapus
  3. Met Milad ya, Semangat... !! :-)

    BalasHapus

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.