Recent Posts

Jumat, 15 November 2013

Kekuatan hati seorang wanita (Aku menemukan Khodijah lagi... hehe #GSK)



Masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya tentang “wanita”. Berikut ini saya tuliskan beberapa kisah para wanita kuat yang dapat kita jadikan referensi untuk perbaikan diri. Dua kisah ini saya dapatkan dari Ustadzah Halimah Alaydrus saat kemarin mengisi acara peringatan hari Asyuro di MT Az-Zahra, Kota Tegal. ^_^

Adalah Ummu Sulaim, Ibunda dari sahabat Anas bin Malik. Ketika Anas masih kecil, Ummu Sulaim ditinggal meninggal oleh suaminya. Kemudian saat Nabi hijrah ke Madinah, seluruh masyarakat berlomba-lomba ingin memberikan hadiah kepada Nabi, begitu pula Ummu Sulaim. Setiap malam dia memikirkan apa yang akan dihadiahkan, menurutnya hadiah berupa harta benda itu sudah hal yang biasa. Hadiah ini untuk Sang Nabi, ia ingin memberikan sesuatu yang paling dicintainya. Maka esok harinya dia membawa serta Anas kecil menghadap Nabi. Rupanya dia sudah mengamalkan sebuah kebaikan besar sebagaimana disebutkan  dalam Alqur’an (Q.S Ali Imron:92), “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai...”. Nabi pun mencoba menge-test niatan Ummu Sulaim dengan mengatakan, “jika Anas ini kubawa perang lalu dia terbunuh bagaimana?”. Maka Ummu Sulaim dengan kuat hati menjawab, “Tafadhol yaa Rasulullah.. terserah mau kau apakan anakku ini asal dia selalu bersamamu”. Akhirnya Rosulullah memutuskan untuk menjadikan Anas bin Malik sebagai khadim rumahnya. Begitu kuatnya hati seorang Ibu yang rela memberikan anaknya untuk menjadi abdi Rosulullah. Jaman sekarang malah terkadang ketika seorang anak ingin mencari ilmu di perantauan atau di Pondok Pesantren, yang berat justru Ibunya. Mungkin kisah Ummu Sulaim ini bisa kita jadikan tauladan bagaimana harus rela hati melepaskan anak kita jika suatu saat nanti dia ingin menuntut ilmu di tempat yang jauh. (Masih lama kalii.. heuheu) Tapi memang benar, kebanyakan teman-teman saya yang ingin mondok itu sulit mendapat izin justru dari Ibunya yang merasa berat hati melepas putra/putrinya.

Kisah kedua berasal dari seorang wanita di Negeri Yaman yang bernama Khodijah.
Doa seorang istri, sumber kekuatan suami
Dia adalah teman dari Ustadzah Halimah saat masih belajar di Daruzzahro. Setiap berangkat dan pulang belajar, Khodijah selalu diantar oleh suaminya. Teman-temannya merasa heran mengapa suaminya terlihat begitu sayang dan perhatian padanya. Suatu hari Ia ditanya perihal suaminya. “Suamimu baik sekali ya Khodijah”. Dia pun langsung menjawab, “Iya, suamiku adalah suami yang paling baik”. Nah, di sini ada suatu pelajaran yang dapat kita ambil bahwa kita harus lebih sering memuji kebaikan suami kita di hadapan orang lain, bukan malah menceritakan tentang keburukannya. Lalu dia ditanya lagi,“Apa yang kamu lakukan Khodijah sampai-sampai suamimu bisa memperlakukanmu dengan begitu baik?”. Kemudian Khodijah menceritakan tentang masa lalu rumah tangganya. 
Ternyata perlakuan suaminya yang demikian itu tidak dengan mudah ia dapatkan. Ada begitu banyak ujian berat yang harus dilaluinya terlebih dahulu hingga bisa menjadi seperti sekarang. Saat awal pernikahan mereka, suaminya mengalami kebangkrutan sehingga mereka jatuh miskin. Seluruh harta benda dijual demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hingga suatu ketika ia mendapati suaminya tak kunjung pulang. Ditunggunya dari petang hingga tengah malam, sampai pukul 2.00 dini hari, dia mendengar seseorang mengetuk pintu. Saat ia buka ternyata didapati suaminya sudah dalam keadaan mabuk. Perlahan ia seret suaminya itu ke atas tempat tidur, hingga pagi ia menunggui suaminya sambil menangis di samping tubuh suaminya itu. Sahabat pasti bisa membayangkan bagaimana perasaan Khodijah saat itu, bukan? Dalam keadaaan serba kesulitan ditambah dengan suaminya yang mabuk-mabukan, ia merasa hampir putus asa. Kemudian ia pergi menemui seorang ulama setempat untuk mengadukan masalah keluarganya. Suaminya semakin menjadi-jadi, tidak hanya mabuk tetapi juga berjudi. Sang Ulama tersebut berkata, “semua terserah engkau, dalam keadaan demikian sudah diperbolehkan bagimu untuk meminta talak”. Namun Khodijah ini memang wanita yang kuat, dia tak lantas meminta talak pada suaminya. Dia tetap bertahan dalam kondisi demikian. Saat ditanya, “apa yang membuatmu tidak putus asa Khodijah?” Dia menjawab dengan begitu indah, “Malam semakin pekat itu pertanda bahwa fajar segera terbit. Aku tak mau menyerah saat sebentar lagi fajar itu terbit”. (Subhanallah.. saat mendengarkan kisah itu, tak sadar pipi ini sudah basah. Begitu ridhonya Khodijah menghadapi ujian hidup yang sangat berat itu. Jadi malu sendiri saat mengingat kejadian di masa lampau - red)

Akhirnya Khodijah mengambil cara lain untuk tetap bisa bertahan hidup. Ia mulai bekerja membuat roti. Setiap hari harus bangun pukul 03.00 untuk mulai membuat roti. Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kecil itu. Apakah masalah selesai? Ternyata belum. Suaminya belum juga sadar, justru seringnya ia mengambil uang hasil jualan roti untuk berjudi. Namun dengan tekad yang begitu kuat, Khodijah tetap bersabar menghadapi suaminya itu dengan tetap melayaninya dengan baik. Tidak pernah sekali pun dia memarahi suaminya, justru di setiap doanya dia meminta Allah untuk mengasihani suaminya. Dia merasa kasihan dengan suaminya yang tak kuat menahan kemiskinan. Dia selalu memohonkan kekuatan untuk suaminya itu. Ujian hidupnya bertambah lagi saat dia tahu ternyata suaminya pergi meniggalkannya selama 3 bulan. Hingga suatu hari ada seorang laki-laki yang memasuki rumahnya saat ia tengah tertidur. Ternyata dia adalah suaminya. Ditunggunya Khodijah hingga ia terbangun. Lalu suaminya bertanya padanya, “Khodijah, apa aku ini masih suamimu?” Sebuah ketakutan terpancar dari wajah suaminya, takut jikalau Khodijah tak mau menerimanya lagi sebagai suaminya setelah semua yang dilakukannya pada istrinya itu. Namun lagi-lagi saya salut dengan keteguhan hati Khodijah. Dia menjawab, “Tentu masih suamiku. Aku akan tetap menjadi istrimu sampai kapanpun”. Hati lelaki mana yang tak bahagia saat mendengar jawaban itu. Mungkin ini juga berkah dari doanya Khodijah setiap malam untuk suaminya.

Keesokan harinya, suami Khodijah mengajak istrinya untuk hijrah ke kota Tarim. Ternyata selama 3 bulan kepergiannya, ia mencari sebuah ketenangan batin hingga menemukan seorang guru yaitu Al-Habib Umar bin Hafidz bin Salim. Maka sejak saat itulah mereka hijrah ke kota Tarim dan menjadi pembuat roti di tempat Habib Umar. Perjalanan dari rumah menuju Tarim dilaluinya dengan menggunakan mobil tanpa AC, dimana saat itu keadaan sangatlah panas. Namun kata Khodijah, “Meski saat itu matahari serasa di atas ubun-ubun, bagiku itulah perjalanan kami yang paling membahagiakan”. (Subhanallah...)
Dari kisah Khodijah ini, sangat terlihat betapa wanita dituntut harus kuat hatinya. Kekuatan hati yang didasari kepasrahan dan ketundukkan terhadap ketetapan Allah. Sejatinya yang membuat kuat Khodijah bukanlah dirinya sendiri, tetapi Allah. Sebab saat dirundung masalah besar itu, Khodijah selalu sholat malam dan memohon kekuatan pada Allah. Ia yakin bahwa seberat apapun masalah yang dihadapinya akan bisa terlewati karena ALLAH selalu bersamanya. 

"Jadilah wanita yang kuat hatinya, yang tak mudah rapuh diterjang badai problema. Sebesar apa pun masalahmu akan bisa terlewati asal kau yakin bahwa ALLAH selalu ada bersamamu" 
-Ustadzah Halimah Alaydrus-

Semoga bisa bermanfaat~~
*kisah tentang Khodijah ini semakin memperkuat tekadku untuk mensukseskan GSK :-D Semoga Berkah! 

3 komentar:

terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)

Agustina Fauziyah. Diberdayakan oleh Blogger.