Masih berkaitan dengan tulisan
sebelumnya tentang “wanita”. Berikut ini saya tuliskan beberapa kisah para
wanita kuat yang dapat kita jadikan referensi untuk perbaikan diri. Dua kisah
ini saya dapatkan dari Ustadzah Halimah Alaydrus saat kemarin mengisi acara
peringatan hari Asyuro di MT Az-Zahra, Kota Tegal. ^_^
Adalah Ummu Sulaim, Ibunda dari
sahabat Anas bin Malik. Ketika Anas masih kecil, Ummu Sulaim ditinggal meninggal
oleh suaminya. Kemudian saat Nabi hijrah ke Madinah, seluruh masyarakat berlomba-lomba
ingin memberikan hadiah kepada Nabi, begitu pula Ummu Sulaim. Setiap malam dia
memikirkan apa yang akan dihadiahkan, menurutnya hadiah berupa harta benda itu
sudah hal yang biasa. Hadiah ini untuk Sang Nabi, ia ingin memberikan sesuatu
yang paling dicintainya. Maka esok harinya dia membawa serta Anas kecil
menghadap Nabi. Rupanya dia sudah mengamalkan sebuah kebaikan besar sebagaimana
disebutkan dalam Alqur’an (Q.S Ali
Imron:92), “Kamu tidak akan memperoleh
kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai...”.
Nabi pun mencoba menge-test niatan
Ummu Sulaim dengan mengatakan, “jika Anas ini kubawa perang lalu dia terbunuh
bagaimana?”. Maka Ummu Sulaim dengan kuat hati menjawab, “Tafadhol yaa Rasulullah.. terserah mau kau apakan anakku ini asal dia
selalu bersamamu”. Akhirnya Rosulullah memutuskan untuk menjadikan Anas bin
Malik sebagai khadim rumahnya. Begitu kuatnya hati seorang Ibu yang rela
memberikan anaknya untuk menjadi abdi Rosulullah. Jaman sekarang malah
terkadang ketika seorang anak ingin mencari ilmu di perantauan atau di Pondok
Pesantren, yang berat justru Ibunya. Mungkin kisah Ummu Sulaim ini bisa kita
jadikan tauladan bagaimana harus rela hati melepaskan anak kita jika suatu saat
nanti dia ingin menuntut ilmu di tempat yang jauh. (Masih lama kalii.. heuheu)
Tapi memang benar, kebanyakan teman-teman saya yang ingin mondok itu sulit
mendapat izin justru dari Ibunya yang merasa berat hati melepas putra/putrinya.
Kisah kedua berasal dari seorang
wanita di Negeri Yaman yang bernama Khodijah.
Dia adalah teman dari Ustadzah
Halimah saat masih belajar di Daruzzahro. Setiap berangkat dan pulang belajar,
Khodijah selalu diantar oleh suaminya. Teman-temannya merasa heran mengapa
suaminya terlihat begitu sayang dan perhatian padanya. Suatu hari Ia ditanya
perihal suaminya. “Suamimu baik sekali ya
Khodijah”. Dia pun langsung menjawab, “Iya,
suamiku adalah suami yang paling baik”. Nah, di sini ada suatu pelajaran
yang dapat kita ambil bahwa kita harus lebih sering memuji kebaikan suami kita
di hadapan orang lain, bukan malah menceritakan tentang keburukannya. Lalu dia
ditanya lagi,“Apa yang kamu lakukan
Khodijah sampai-sampai suamimu bisa memperlakukanmu dengan begitu baik?”.
Kemudian Khodijah menceritakan tentang masa lalu rumah tangganya.
![]() |
| Doa seorang istri, sumber kekuatan suami |
Ternyata
perlakuan suaminya yang demikian itu tidak dengan mudah ia dapatkan. Ada begitu
banyak ujian berat yang harus dilaluinya terlebih dahulu hingga bisa
menjadi seperti sekarang. Saat awal pernikahan mereka, suaminya mengalami
kebangkrutan sehingga mereka jatuh miskin. Seluruh harta benda dijual demi
mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hingga suatu ketika ia mendapati suaminya tak
kunjung pulang. Ditunggunya dari petang hingga tengah malam, sampai pukul 2.00
dini hari, dia mendengar seseorang mengetuk pintu. Saat ia buka ternyata
didapati suaminya sudah dalam keadaan mabuk. Perlahan ia seret suaminya itu ke
atas tempat tidur, hingga pagi ia menunggui suaminya sambil menangis di samping
tubuh suaminya itu. Sahabat pasti bisa membayangkan bagaimana perasaan Khodijah
saat itu, bukan? Dalam keadaaan serba kesulitan ditambah dengan suaminya yang
mabuk-mabukan, ia merasa hampir putus asa. Kemudian ia pergi menemui seorang
ulama setempat untuk mengadukan masalah keluarganya. Suaminya semakin
menjadi-jadi, tidak hanya mabuk tetapi juga berjudi. Sang Ulama tersebut
berkata, “semua terserah engkau, dalam
keadaan demikian sudah diperbolehkan bagimu untuk meminta talak”. Namun
Khodijah ini memang wanita yang kuat, dia tak lantas meminta talak pada
suaminya. Dia tetap bertahan dalam kondisi demikian. Saat ditanya, “apa yang
membuatmu tidak putus asa Khodijah?” Dia menjawab dengan begitu indah, “Malam semakin pekat itu pertanda bahwa
fajar segera terbit. Aku tak mau menyerah saat sebentar lagi fajar itu terbit”.
(Subhanallah.. saat mendengarkan kisah itu, tak sadar pipi ini sudah basah. Begitu ridhonya Khodijah menghadapi ujian hidup yang sangat berat itu. Jadi malu sendiri saat mengingat kejadian di masa lampau - red)
Akhirnya Khodijah mengambil cara
lain untuk tetap bisa bertahan hidup. Ia mulai bekerja membuat roti. Setiap hari
harus bangun pukul 03.00 untuk mulai membuat roti. Hasilnya cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kecil itu. Apakah masalah selesai? Ternyata
belum. Suaminya belum juga sadar, justru seringnya ia mengambil uang hasil
jualan roti untuk berjudi. Namun dengan tekad yang begitu kuat, Khodijah tetap
bersabar menghadapi suaminya itu dengan tetap melayaninya dengan baik. Tidak
pernah sekali pun dia memarahi suaminya, justru di setiap doanya dia meminta
Allah untuk mengasihani suaminya. Dia merasa kasihan dengan suaminya yang tak
kuat menahan kemiskinan. Dia selalu memohonkan kekuatan untuk suaminya itu. Ujian
hidupnya bertambah lagi saat dia tahu ternyata suaminya pergi meniggalkannya
selama 3 bulan. Hingga suatu hari ada seorang laki-laki yang memasuki rumahnya
saat ia tengah tertidur. Ternyata dia adalah suaminya. Ditunggunya Khodijah
hingga ia terbangun. Lalu suaminya bertanya padanya, “Khodijah, apa aku ini masih suamimu?” Sebuah ketakutan terpancar
dari wajah suaminya, takut jikalau Khodijah tak mau menerimanya lagi sebagai
suaminya setelah semua yang dilakukannya pada istrinya itu. Namun lagi-lagi
saya salut dengan keteguhan hati Khodijah. Dia menjawab, “Tentu masih suamiku. Aku akan tetap menjadi istrimu sampai kapanpun”.
Hati lelaki mana yang tak bahagia saat mendengar jawaban itu. Mungkin ini juga berkah dari doanya Khodijah setiap malam untuk suaminya.
Keesokan harinya,
suami Khodijah mengajak istrinya untuk hijrah ke kota Tarim. Ternyata selama 3
bulan kepergiannya, ia mencari sebuah ketenangan batin hingga menemukan seorang
guru yaitu Al-Habib Umar bin Hafidz bin Salim. Maka sejak saat itulah mereka
hijrah ke kota Tarim dan menjadi pembuat roti di tempat Habib Umar. Perjalanan
dari rumah menuju Tarim dilaluinya dengan menggunakan mobil tanpa AC, dimana
saat itu keadaan sangatlah panas. Namun kata Khodijah, “Meski saat itu matahari serasa di atas ubun-ubun, bagiku itulah
perjalanan kami yang paling membahagiakan”. (Subhanallah...)
Dari kisah Khodijah ini, sangat
terlihat betapa wanita dituntut harus kuat hatinya. Kekuatan hati yang didasari
kepasrahan dan ketundukkan terhadap ketetapan Allah. Sejatinya yang membuat
kuat Khodijah bukanlah dirinya sendiri, tetapi Allah. Sebab saat dirundung
masalah besar itu, Khodijah selalu sholat malam dan memohon kekuatan pada
Allah. Ia yakin bahwa seberat apapun masalah yang dihadapinya akan bisa
terlewati karena ALLAH selalu bersamanya.
"Jadilah wanita yang kuat hatinya, yang tak mudah rapuh diterjang badai problema. Sebesar apa pun masalahmu akan bisa terlewati asal kau yakin bahwa ALLAH selalu ada bersamamu"
-Ustadzah Halimah Alaydrus-
Semoga bisa bermanfaat~~
*kisah tentang Khodijah ini semakin memperkuat tekadku untuk mensukseskan GSK :-D Semoga Berkah!

AMin,semoga bisa niru enyong....hehe :) Good
BalasHapusiyaa aamiin yaa Robb :))
BalasHapusMakasih buat infonya, semoga berkha dan dicatat jadi amal sholeh...
BalasHapus