Suatu sore sesaat sebelum kelompok itu bubar, aku menyeletuk
satu hal “mau deadline hari apa juga
palingan ntar baru dikerjain malamnya, hehehe”. Tak kusangka ternyata
celetukan itu membuat mereka keheranan, “wahh,
uzi juga gitu ternyata.. gak nyangka”
sambil tertawa terbahak.
Sepenggal percakapan tadi agaknya menimbulkan pertanyaan
besar dalam kepalaku, “lho, apa yang
salah dengan pernyataanku barusan?”. Apakah semua orang telah terdogma pada
proses? Haruskah kita bekerja dalam waktu yang lama kalau bisa diselesaikan
dalam waktu singkat. Bedakan ya, saya bilang “bekerja”. Hemm,, sepertinya
menarik untuk mengungkapkan opini tentang hal ini. Hehehe
Terkadang kita sudah biasa mendengar statement “belajar itu yang
penting prosesnya Broo”. Oke, saya setuju dengan pernyataan tersebut. Itu dalam
hal “belajar”.
Menurut kamus besar bahasa indonesia " Belajar adalah berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan
yang disebabkan oleh pengalaman"
Tapi tenang
aja, kita gak akan membahas tentang itu, yang lebih disorot adalah bahwa kita
mengetahui yang namanya belajar itu pasti membutuhkan proses. Nah, disini lah
letak kita belajar. Menurut saya, belajar adalah proses. Proses menjadi lebih
pintar, lebih paham, lebih baik. Proses – proses tersebut akan bermuara pada
suatu hasil. Tetapi dalam kita belajar, yang lebih dipentingkan adalah proses,
bukan hasilnya. Sebagai contoh misalnya seorang anak yang setiap harinya
dikenal sebagai anak yang aktif dalam kelas, setiap ada tugas selalu dikerjakan
dengan baik dan di kelas dia bisa mengerjakan soal-soal dari gurunya. Namun
saat Ulangan Semester hasilnya jeblok. Apakah bisa kita simpulkan bahwa dia
tidak belajar? Sepertinya kurang bijak jika demikian. Jika kita berorientasi
pada hasil, maka kita tidak dapat menilai kinerja seseorang. Karena hasil itu
dapat diperoleh dari berbagai sumber, entah itu yang legal maupun tidak legal.
Bisa saja ketika Ulangan Semester, si anak itu sedang ada masalah atau sedang
sakit mungkin, sehingga kurang maksimal dalam mengerjakan soalnya. Akibatnya ia
mendapat hasil yang kurang memuaskan dan diluar dugaan. Seperti halnya seorang
petani yang sudah bersusah payah menanam padi dan bersabar menunggu panen,
ternyata saat panen tiba semua padi yang ditanam terkena hama. Hasilnya?
Nihil.. Sebaliknya, ada seorang anak yang di dalam kelas biasa saja, tidak
pernah aktif menjawab soal, tapi ketika mengerjakan soal Ulangan Semester dia
bisa dengan lancar, akibatnya nilainya pun bagus dan memuaskan. Ya, itu semua
adalah proses, anak yang pertama melakukan setiap proses dengan baik meski
akhirnya harus menyerah pada faktor “X”. Anak kedua juga tidak bisa serta merta
disalahkan, bisa saja menjelang ujian dia mulai giat belajar sehingga hasilnya
bagus. Namun jangan melihat hasilnya pada keadaan sekarang, lihatlah beberapa
tahun ke depan, saat mereka sudah sama-sama lulus dan mulai bekerja atau
melanjutkan studi. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik pula.
Dan proses yang baik itu bukanlah proses yang instan. Perbedaannya terlihat
jelas, anak yang pertama bisa mengaplikasikan apa yang dia pelajari selama ini,
sedang anak yang kedua? Biasanya tipe seperti ini mudah lupa. Dulu gak tau
sekarang lupa.. itulah pepatah yang umum dikeluarkan untuk menggambarkan
keadaan si anak kedua ini. Dengan pengaplikasian apa yang dia pelajari selama
ini, dia sudah mendapatkan hasil, minimal dia jadi lebih mengetahui dan lebih
paham. Itulah tujuan dari belajar.
Lain halnya ketika kita sudah
bekerja atau diberi tugas untuk mengerjakan sesuatu dimana sudah tak asing lagi
dengan istilah “Deadline”, proses menjadi suatu hal yang tidak begitu penting.
Kenapa? Karena atasan kita hanya melihat bagaimana hasil kinerja kita selama
ini. Ibaratnya nih ya, mau kamu jungkir balik segimanapun atau kamu hanya
bersantai-santai ria asalkan pekerjaannya beres dan tepat waktu ya bukan
masalah bagi atasan. Nah, disini dibutuhkan suatu efisiensi waktu dan tenaga.
Kalau kita bisa mengerjakan sesuatu dalam waktu singkat kenapa mesti butuh
waktu yang lama? Hehehe *ini hanya opini pribadi*
Saya punya cerita tentang
“Deadline” ini. Ada seorang kenalan saya yang sudah bekerja di suatu instansi
sebagai Auditor. Sebut saja namanya Jaka, nama panjangnya perjaka (:-D ngaco)
Suatu ketika si Jaka ini ditugasi oleh Bosnya untuk melakukan proyek yaitu
mengaudit suatu perusahaan. Diberilah waktu sekitar 1 minggu. Karena Jaka ini
adalah orang perantauan, mumpung lagi dapat tugas Dinas Luar, dipakailah
kesempatan itu untuk pulang kampung. Dengan begitu giatnya dia bekerja di awal
waktu deadline, akhirnya pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu 3 hari. Sisa
waktu 4 hari itu dia gunakan untuk pulang kampung. Apakah tindakan ini salah?
Hemm,, menurut saya tidak. Toh pekerjaannya juga sudah beres kan. Dalam hal ini
dia juga berproses, dia menentukan struggle di awal untuk mendapat reward di
akhir, yaitu pulang kampung. Selama tidak diketahui oleh atasan dan birokrasi,
menurut saya sah-sah saja. Dengan catatan, hasil pekerjaannya telah selesai. (kadang
birokrasi terlalu rempong ya sehingga hal-hal yang sebenarnya bisa fleksibel
seperti ini tidak bisa diterapkan)
Seperti halnya sekelompok mahasiswa yang diberi tugas oleh dosennya, “deadline tanggal sekian jam sekian”. Maka coba perhatikan, kebanyakan mereka baru mengerjakan sehari atau bahkan semalam sebelum deadline. Tapi tetap bisa terselesaikan dan hasilnya sama dengan yang mengerjakan pada awal deadline. Amazing bukan? Kalau menurut saya hal ini tergantung sama manajemen waktu dari masing-masing mahasiswa tersebut. Buktinya beberapa dari mereka ada yang memilih seperti Jaka, struggle di awal untuk mengerjakan tugasnya sehingga selesai jauh sebelum deadline. Tapi bagi mereka yang memilih untuk struggle di akhir juga bukan masalah, asal semua pekerjaaannya beres dan selesai tepat waktu pada saat deadline itu. Hemm,, yayaya.. setelah ngomong panjang lebar ini, sekarang saya jadi mengerti tentang pentingnya menentukan deadline. Hehehe
Oke kawan, sekali lagi ini hanya opini pribadi
saya ya.. hehehe
So, siapkan deadline-deadline yang
sudah menantimu.
Keep doing the best! :-)
wadawww...have such different opinion with me. just different habits maybe :) Keep struggling
BalasHapushahaha.. it's just my opinion Jeng.. Keep struggling :-)
BalasHapusaku tunggu opinimu tentang ini ya.. biar bisa saling share.. hehehe