"Assalam.. Mb Uzi lg sibuk ga? nnt malam ba'da maghrib ada pengajian. kalo sempat datang ya.."
"nggih InsyaAllah uzi mriku Om",balasku.
Rumah pamanku ini gak terlalu jauh dari kosanku. Sebenarnya beliau juga bukan paman (adik ayah atau ibuku) asli sih. Beliau ini adalah teman kecilnya Ayahku, tapi masih ada hubungan kekerabatan yang meski tidak terlalu dekat. Om Narto, begitulah biasanya aku sapa..
Beliau bersama keluarga kecilnya tinggal di sebuah rumah di dekat komplek Pondok Safari, Ceger. Rumah yang sangat sederhana namun penghuninya sangat bersahaja.. Jujur aku baru mengenal keluarga ini selama aku kuliah di STAN. Pamanku ini punya 2 orang anak, semuanya laki-laki. Tapi Subhanallah, meski keluarga mereka sangat sederhana tapi anak-anak mereka ini sangat prihatin dan mengerti betul keadaan orang tuanya. Anak yang pertama, dia kuliah dengan mendapat beasiswa hingga sekarang sudah hampir lulus tinggal menunggu sidang skripsi sembari bekerja sambilan. Anak kedua mereka bernama Ali. Anaknya baik dan sangat sopan. tak jarang dia jadi idaman ibu-ibu tetangga. Sekarang dia duduk di bangku SMK kelas XI. Ali anak yang cerdas, ia sering mendapat uang dari hasil memenangkan lomba. Aku jadi ingat cerita paman dulu, Ali pernah diminta untuk mengajar ngaji secara privat. Muridnya ini anak perempuan masih kelas 4 SD. Selama ia mengajar, ia tak pernah mau jika diberi amplop. Ia lebih menerima kalau diberi makanan sepulang mengajar. Setelah berjalan 2 tahun, anak perempuan yang diajarnya tadi sudah besar dan beranjak baligh. Maka Ali pun ingin berhenti mengajar. Kata si Ali kecil, saat itu dia masih kelas 9 SMP, "Ali malu Pak, dia sekarang sudah besar. Apa kata orang nanti kalau Ali berduaan sama dia walaupun itu untuk mengaji". Aku hanya berdecak kagum ketika pamanku menceritakan hal itu saat kunjunganku 2 tahun silam.
Ya, dari keluarga kecil inilah aku belajar tentang arti kata syukur, tentang nikmatnya berucap "Alhamdulillah"
kalau boleh aku telisik lebih dalam, sejatinya bukan paman yang memanggilku untuk hadir di majelis itu untuk berkunjung lagi ke rumah nya setelah 2 minggu lalu aku kesana. Tapi DIA.. Dialah Allah yang memanggilku.. terima kasih Allah, telah memanggilku kembali lewat pamanku ini..
dalam pertemuan itu aku juga diingatkan tentang keutamaan bulan Rajab. Sobat tentu ingat kan kalau kita sedang berada di bulan Rajab. Sang Guru pun berpesan bahwa di bulan rajab perbanyaklah istighfar. Membaca "Robbighfirlii warhamnii watub 'alayya" sebanyak 70x setiap hari selama bulan rajab.. Semoga Allah berkenan mengampuni dosa kita, membersihkan hati dan jiwa kita agar kita siap untuk menyambut Tamu Agung, Ramadhan kariim.. aamiin
![]() |
| Laukana bainana Al-Habiib |
Akhirnya, pukul 20.15 aku pun beranjak dari rumah paman menuju tempat singgahku berikutnya. Nurul Hidayah.. Tempat berkumpulnya para pecinta Rasulullah yang tengah asyik melantunkan bait-bait maulid nan mulia. Malam ini malam Jumat. Maka perbanyaklah bersholawat.. ^_^
Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammad...
Wa 'ala aalihi wa shohbihi wa sallim...
semoga bermanfaat~~
-Fauziyah-

semangat ZI, ora kaya aku, bisane jrg men melu Ente, hehe. mg2 seteruse dijak nte aku glm melu brg2 nte meng NH
BalasHapusmalem ahad mengko ana acara maring monas oh.. yuk budhal.. hehehe
BalasHapus