Pernah suatu ketika temanku bercerita padaku bahwa dia memutuskan untuk berhenti mengajar. Lalu kutanya apa sebabnya, dia pun menjawab "karena setelah dipikir-pikir waktu ku yang 1,5 jam itu gak sebanding dengan imbalannya. Aku gak rela waktuku cuma dihargai 100rb. Menurutmu gimana zi?"
Aku menghela nafas sejenak sambil memikirkan jawaban yang kira-kira bisa pas. Padahal dalam hatiku aku ingin sekali berkata padanya, "harusnya kamu bersyukur, 100rb itu trmasuk imbalan yg sangat besar kalo hanya megang anak SD. Selama ini aku mengajar hanya dibayar 60rb. Itu pun anak SMP yg notabene setingkat lebih tinggi dr SD." namun segera aku tampik jauh-jauh pikiran itu. Ah, begitu sombongnya aku.. Astaghfirullah..
Menurutku, semua tergantung sama tujuan kita untuk mengajar. Jika tujuan kita hanya untuk mendapat imbalan/materi, ya seperti itulah jadinya. Kita merasa waktu kita terlalu berharga jika harus ditukar dengan uang yang jumlahnya tak seberapa. Kalau aku pribadi, mengajar ya karena memang aku suka. Tak begitu mempermasalahkan berapa imbalan yang nantinya aku dapat. Aku mengajar karena aku ingin mengenal banyak orang. Aku ingin ilmuku bisa aku tularkan. Setidaknya dengan mengajar, aku juga bisa berbagi semangat dengan mereka. Aku sering mendengar keluhan mereka, "aduh kak yg ini susah banget lah males", lalu dengan sedikit sugesti yang aku berikan membuat mereka tersenyum bahkan tertawa itu rasanya maknyess.. Meski aku sadar tak banyak materi yang bisa aku berikan, tapi setidaknya aku masih bisa memberikan senyum dan semangat buat mereka setelah seharian belajar.. Sering aku berpikir, bisa jadi mereka justru lebih pintar dari aku dan akan jauh lebih sukses dariku nantinya. Suatu ketika pernah seorang muridku aku tanyai, "setelah lulus SMA nanti mau lanjut kemana Dek?" dengan tegas dan penuh percaya diri dia menjawab, " Amerika kak, aku pengen sekolah di luar negeri ambil bisnis atau gak desain interior ". Subhanallah bukan? bahkan aku sendiri pun gak pernah berpikiran sejauh itu, tapi dia, adik muridku yang masih duduk di kelas 9 SMP sudah berpikiran sejauh itu. Dengan dukungan moral dan material tentunya dari orang tuanya, insyaAllah kakak doakan kamu bisa sukses Dek. aamiin
Aku sadar, aku bukanlah seorang pengajar, aku hanya memposisikan diriku sebagai teman belajar mereka. Aku bukan orang yang memberi mereka ilmu, tapi setidaknya aku selalu mendoakan mereka agar mudah diberi pemahaman sama Allah. Karena sejatinya ilmu itu datang dari-Nya.
Aku juga dulu sempat berpikir seperti yang dipikirkan oleh temanku itu. Merasa mendapat imbalan yang gak sepadan. Tapi aku ingat tentang suatu kejadian. Seorang pengajar di bimbelku, dia sebenarnya sudah berhenti mengajar, tapi waktu itu dia diminta oleh pihak manajemen untuk mengajar privat karena gak ada pengajar lain. Rumahnya di Duren Sawit, cukup jauh memang. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke Bintaro. Suatu hari dia sudah dibela-belain datang dari Duren Sawit ke tempat muridnya di Bintaro. Dan setelah sampai di rumah muridnya itu trnyata muridnya belum pulang sekolah dan anak itu lupa bilang kalau dia batal les. Si pengajar ini pun pulang dan mengadu ke bagian manajemen bimbel. Akhirnya manajemen memutuskan untuk menggantinya dengan tetap dihitung 1 sesi. Tapi apa jawab si pengajar itu?
"ini bukan masalah imbalannya mbak, saya jauh-jauh dari rumah niatnya untuk ngajar. Kalo saya gak jadi ngajar ya jelas saya kecewa tapi bukan karena saya gak jadi dapat uang. Lebih baik saya gak dibayar tapi tetap ngajar"
Tertegun saya mendengar cerita tentang beliau.. Maluuu sekali rasanya jika selama ini niat saya mengajar hanya untuk mendapatkan sebuah imbalan. Ternyata mengajar adalah lebih dari itu. Jika seseorang sudah merasakan feelnya mengajar, maka berapa pun imbalan yang diterimanya sudah bukan sebuah masalah. Karena uang itu memang rezeki dari Allah. Yg terpenting adalah tujuan utama kita untuk mengajar bisa tersampaikan..
![]() |
| tak ada istilah mantan Guru! |
Aku belajar banyak semenjak kenal dengan para pengajar itu. Bahwa tidak hanya sekadar mengajarkan ilmu tetapi juga mengajarkan kebaikan. Dengan berada di posisi sebagai pengajar/guru, kita bisa merasakan bagaimana guru-guru kita ketika mengajar. Bagaimana perasaan mereka saat menerangkan pelajaran tetapi kita asyik sibuk sendiri tak memperhatikan?? Dengan mengajar, kita bisa belajar menjadi murid yang baik. Bisa belajar untuk lebih menghormati guru-guru kita. Seburuk apapun perangainya, segalak apapun ucapannya, mereka tetaplah guru kita yang WAJIB kita hormati. Bukankah berkahnya ilmu juga bisa kita ambil dengan cara menghormati guru? :-)
Aku belajar dengan cara aku mengajar. Banyak sekali manfaat yang aku dapat dari sini. Bagi Sobat yang memiliki kegiatan yang sama denganku. Semoga hal ini bisa kita jadikan renungan agar kita bisa lebih menata niat kita untuk mengajar.
Aku punya sebuah mimpi besar, tapi Sobat gak perlu tau itu sekarang ya.. hehe.. doakan saja semoga suatu saat nanti mimpi itu dapat terwujud. Aku ingin menyelamatkan "mereka" dari keterpurukan kondisi sosial, ekonomi dan pendidikan.. Mohon doanya yaa.. :-)
Akhir kalimat, "Tak ada istilah MANTAN Guru.. Guru, selamanya akan menjadi guru bagi anak didiknya"
Salam hormat kepada seluruh guruku, semoga senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan dalam hidupnya. Aamiin
semoga bermanfaat ~~
-Fauziyah-

0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)