Kartini lahir tak serupa percikan cahaya, dialah obor yang menyulutkan bara
Kartini bukan hanya simbol emansipasi wanita, dialah pembaharu peradaban bangsa
Gagas dan idenya terus menerus digaungkan
Demi manusia, demi kebangkitan kaumnya
Nuranilah penuntunnya
Tetap teguh ia berjalan, meski belenggu adat masih saja memberatkan
Kartini tampil selamatkan kaumnya yang terlilit ketertindasan
Dia hadir tuk mengangkat kita dari jahil dan kebutaan
“Min adz-dzulumaati ilaa an-nuur”
Seberkas cahaya mulai tampak nyata
Kartini bahagia memainkan perannya sebagai guru muda
Menuntun para putri bangsa keluar dari lorong kegelapan yang menyeramkan
Hingga akhirnya hari itu tiba
Sebuah sangkar emas siap menanti kedatangannya
Sedari dulu, menjadi dewasa adalah hal yang (memang) paling ia benci
Sebab masa itulah yang akan merenggutnya dari pusaran mimpi
Kembali, ia terbelenggu oleh adatnya sendiri.
Tegal, 21 April 2014
Puisi di atas saya tulis sebagai pembuka dari sebuah tulisan yang bertemakan Hari Kartini. Tulisan tersebut dapat Anda baca di Website KMNU Nasional.
Dalam postingan ini saya akan sedikit membahas mengenai isi puisi di atas. Setiap baitnya menggambarkan fase kehidupan seorang Kartini. Kehadirannya -meski tak sedikit orang yang menganggap peringatan hari lahirnya terlalu berlebihan- bagi saya merupakan sebuah titik awal kebangkitan kaum perempuan. Kepekaan dan daya kritisnya yang tajam, membuat Kartini tergerak untuk menyelamatkan kaum perempuan yang pada masa itu masih jauh tertinggal daripada laki-laki. Terutama di bidang pendidikan. Berkat gagasan dan idenya yang sempat mendirikan sebuah sekolah khusus Keputrian, beberapa anak perempuan pada masanya mampu mengenyam pendidikan. Saat itu adat masih begitu ketat. Anak perempuan yang menginjak usia remaja, harus sudah dipingit di dalam rumah dan tidak diperkenankan untuk keluar secara bebas. Jika pada saat pingitan itu ada seorang laki-laki yang melamar, maka dia (hampir) tidak punya kesempatan untuk menolaknya. Begitu kejamnya adat masa itu yang benar-benar membelenggu perempuan.
Dikisahkan bahwa Kartini pernah berkesempatan mengaji dengan seorang ulama masyhur yaitu Kyai Sholeh Darat (Semarang). Saat itu ia sedang mengikuti pengajian tafsir Surat Alfatihah di rumah pamannya. Maka nurani menuntunnya untuk bertanya kepada Sang Kyai dan menyampaikan kegelisahannya yang selama ini membaca Alqur'an namun tak mengetahui maknanya. Maka berkat keberaniannya menanyakan hal itu, Kyai Sholeh Darat kemudian berinisiatif menyusun sebuah kitab Tafsir yang diberi nama Faidlurrahman. Oleh karena saat itu pemerintah kolonial melarang penyusunan terjemah atau tafsir dalam bahasa jawa (agar orang Pribumi tidak bisa memahami kandungan kitab sucinya. Ini merupakan tindakan pembodohan dari mereka), maka dituliskan kitab tersebut dalam tulisan Arab Pegon. Sebuah gaya tulisan yang hanya ada di bumi Nusantara ini. Dimana tulisan tersebut menggunakan huruf Arab namun bahasanya tetap jawa. Hal ini untuk mengelabui Belanda.
Kartini sempat memainkan peran sebagai seorang guru/pengajar di sekolah yang ia dirikan. Ia merasa kasihan terhadap nasib orang-orang yang tidak seberuntung dirinya yang bisa bersekolah. Maklum, Kartini adalah putri bangsawan yang mendapat keistimewaan. Ia sempat mengutarakan keinginannya kepada Sang Kakak, Kartono, bahwa ia hendak melanjutkan studi ke negeri Belanda. Kakanya sangat mendukung meski sempat terbesit kekhawatiran akan ditentang oleh ayah mereka. Dan ternyata benar saja, belum sempat Kartini melanjutkan pengembaraan ilmunya, sebuah sangkar emas telah menanti kedatangannya. Di usia 24 tahun, ia pun dipersunting oleh seorang Bupati Rembang. Mimpi-mimpi nya terpaksa ia kubur dan sisihkan, demi mematuhi adat. Selang satu tahun pernikahan, ia dikaruniai seorang putra bernama Soesalit. Namun nahas, empat hari setelah melahirkan, ia pun dipanggil ke haribaan Tuhan. Bersama segenap mimpinya, tubuh perempuan mulia ini dikubur di dalam tanah.
Kartini adalah sosok perempuan berpikiran maju. Ada sebuah ucapannya yang begitu membekas dalam ingatan saya.
"Ibu bukan hanya sebutan bagi mereka yang pernah melahirkan anak. Ibu adalah mereka yang mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak, meski tidak dilahirkan dari rahimnya sendiri."
Sebuah kalimat inspiratif terutama bagi perempuan. Karena kita pun tahu, tidak setiap perempuan diberi kesempatan untuk mengandung dan melahirkan anak. Seringnya kita abaikan kondisi sebagian mereka bahkan tak jarang justru mendiskreditkannya. Memberi anggapan bahwa perempuan tiada sempurna tanpa mempunyai anak. Mari, cobalah kita pahami bersama. Terutama bagi sesama perempuan.
Sumber Pustaka: Buku "100 tahun Kartini", terbitan PP. Muslimat NU tahun 1979
0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)