Bulan September
lalu menjadi salah satu bulan yang berpengaruh besar dalam perjalanan hidupku.
Di bulan itu, Allah mempertemukanku dengan orang-orang HEBAT. Berada di tengah
mereka menjadikanku merasa sangat bodoh dan berpikir “Hey Zi, selama ini kamu ngapain??”. Entah pemikiran mereka yang
terlalu tinggi atau memang pemikiranku saja yang terlalu cetek hingga rasanya sangat sulit untuk masuk ke dalam pembicaraan
mereka. Sangat jelas sekali perbedaan di antara aku dan mereka. Maka timbullah
rasa minder dalam diriku. Ya, jujur aku minder berada di tengah mereka.
Semua ini
berawal dari hasratku mengikuti sebuah kepanitiaan besar di kampus. Maklum
selama 3 tahun kuliah di kampus Ali Wardhana, bisa dibilang aku ini termasuk
mahasiswi yang pasif. Selama kuliah hanya 2 kali kepanitiaan di kampus yang aku
ikuti. Itu pun setelah aku sudah berhasil melepaskan terlepas dari
“belenggu”. Pengalaman baru pun dimulai, menemukan komunitas baru dengan
orang-orang baru yang kuharap bisa menumbuhkan semangat dan harapan baru juga
untukku.
Semakin hari
semakin sering aku berkumpul dan bertemu dengan mereka. Meski yang dibicarakan
adalah hal yang berkaitan dengan acara kami namun sering kali ada sentilan
sentilun yang rasanya pas ngena di hati. Aku anggap itu sebuah teguran untuk
diriku sendiri. Disadari atau tidak, mereka telah sedikit banyak mengubah jalan
berpikirku. Meski aku belum bisa menyamai mereka, setidaknya aku jadi lebih
mengenali pribadi mereka
Dari mereka
juga lah aku kenal dengan orang-orang inspiratif, salah satunya adalah Dr.
Muhammad Nasih atau lebih akrab kami panggil Pak Nasih...
Beliau adalah seorang dosen pasca sarjana di UI
jurusan ilmu politik. Beliau juga merupakan dewan penasehat anggota DPR RI.
Usianya masih muda namun kiprahnya sudah sangat mengagumkan. Saat ini beliau tengah menggagas sebuah
program bagi kaum wanita karir agar diberikan cuti bersalin selama kurang lebih
9 bulan. Angka ini beliau pertimbangkan dengan program ASI eksklusif yaitu
selama 6 bulan. Beliau ingin membuat kebijakan yang nantinya akan mempermudah
kaum wanita dalam mengurusi bayinya pasca ia melahirkan. So brilliant!! Semoga
apa yang beliau perjuangkan ini bisa berhasil. Aamiin..
Namun terlepas
dari kiprah beliau di dunia politik, satu hal yang membuat saya kagum adalah beliau
sangat peduli dengan bidang pendidikan. Beliau mempunyai sebuah yayasan
pendidikan di Semarang yang ditujukan bagi mereka yang kurang mampu. Beliau
juga salah satu pendiri MONAS Institute. Dan terlebih lagi beliau adalah
seorang Hafidz. Ya, seorang penghafal Alqur’an. Subhanallah...
Memang jika ditelusuri dari latar belakangnya, beliau merupakan buah yang
dihasilkan dari bibit-bibit yang sangat unggul. Bagaimana tidak? Kedua orang
tuanya adalah penghafal Alqur’an. Maka sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan
pun beliau sudah akrab dengan Alqur’an.
Betapa
beruntungnya diriku, Allah memberikan kesempatan padaku untuk berguru pada
beliau. Pak Nasih menganjurkan kepada kami untuk mau mengkaji dan mempelajari
Alqur’an. Tidak hanya dapat membacanya dengan benar saja tetapi juga untuk
mengetahui kandungan di dalamnya. Beliau merasa miris melihat fakta yang
terjadi bahwa menurut sebuah penelitian, dari seluruh penduduk Indonesia hanya
40% saja yang bisa membaca Alqur’an. Dari 40% itu hanya ada 4% saja yang sudah
bisa membaca alqur’an dengan benar sesuai tajwidnya. Dari jumlah itu hanya ada
sekitar 0,16% saja yang bisa membaca sekaligus memahami Alqur’an. Well, pertanyaannya adalah kita termasuk
yang mana?? Ini renungan untuk diri kita masing-masing...
Pucuk dicinta
ulam pun tiba.. Sejak dulu saya ingin
sekali belajar Alqur’an sekaligus tafsirnya dan sekarang Allah mempertemukanku
dengan beliau. Sungguh tak ada yang kebetulan, semua sudah ada yang mengatur.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Alhamdulillah...
Sudah dua kali
pertemuan kami dengan Pak Nasih dalam mempelajari Alqur’an. Mulai dari
bagaimana kita mengimani Alqur’an dengan sebenar-benarnya hingga memperbaiki
cara membacanya. Pada pertemuan kedua kemarin, Pak Nasih menganjurkan kepada
beberapa kawan, termasuk saya, untuk mulai menghafalkan Alqur’an. Diharapkan
dalam jangka waktu 3 tahunan sudah bisa khatam (InsyaaLlah). Anjuran ini
sekaligus menjadi obat galau yang sangat manjur bagi saya dan seorang kawan
saya. Akhir-akhir ini kami berdua digalaukan dengan segala macam urusan yang
muncul pasca wisuda nanti. Salah satunya yaitu masalah menikah. Dengan anjuran
dan motivasi dari Pak Nasih ini, akhirnya aku memutuskan untuk mencapai
targetku untuk menghafal sebelum nantinya melepas masa lajangku. Tak perlu lagi
aku galaukan masalah jodoh, sebab ia sudah ditentukan oleh-Nya. Perbaiki dan
tingkatkan kualitas diri kita, maka niscaya dia yang nantinya datang juga
merupakan orang yang baik dan berkualitas. Hehehe (jadi nyambungnya kesitu kaan
:D)
Di bulan
September lalu aku merasa telah terlahir kembali. Itulah kenapa aku ingin
kembali ke rumah untuk mulai membenahi hidupku di masa yang akan datang.
Memutar segala memori ku dulu dan ada bagian yang seharusnya aku hilangkan.
Maka di Bulan Oktober ini, selepas aku wisuda nanti, aku berharap bisa lahir
sebagai pribadi yang baru yang lebih baik dengan semangat dan harapan baru
untuk hidupku nanti. Semoga pertemuanku dengan mereka akan membawa manfaat dan
silaturahim dapat tetap terjaga. Aamiin
Sebab hidup adalah harapan, tanpanya kita hanya seonggok mayat yang
bernyawa.
Keep on
dreaming!!! Jalan hidup masih panjang dan berliku. Banyak waktu untuk berproses
dan terus belajar. ALLAH selalu ada bersama kita... Semangaat!!! ^_^
"Saat ini beliau tengah menggagas sebuah program bagi kaum wanita karir agar diberikan cuti bersalin selama kurang lebih 9 bulan." --> setuju
BalasHapus"Pak Nasih menganjurkan kepada beberapa kawan, termasuk saya, untuk mulai menghafalkan Alqur’an." --> semangat Uzi, saya juga
selamat wisuda!!
hehehe maturnuwun Mas. Semangat juga! :-)
BalasHapus