Membaca sekilas judulnya, sepertinya
cukup menarik. Pasti pertanyaan pertama yang muncul di benak kita adalah “apa hubungannya memaafkan sama kesehatan?
nah, dalam artikel inilah akan kita temukan jawabannya.. So, bacanya mesti sampai
tuntas..tas..tas yaa.. :-D Let’s cekidot!
“tak
ada manusia yang terlahir sempurna..” (d’masiv)
Yap betul sekali, tak ada manusia yang
sempurna di dunia ini. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Kesalahan
kecil atau besar, kesalahan yang kita sadari ataupun yang tidak kita sadari.
Eiits, jangan salah lho ya, sikap yang kita anggap benar belum tentu dianggap
benar juga sama orang lain, bisa saja ternyata dia merasa tersakiti oleh
ketidaksengajaan kita itu. Nah, saat kita merasa bersalah, pastilah kita akan meminta
maaf kepada orang yang merasa tersakiti oleh kita. Tapi pernahkan kalian berada
di posisi sebaliknya, merasa tersakiti oleh orang lain atau bahkan sampai saat
ini pun rasanya masih belum bisa memaafkan? Nah, yang sering galau pasti
jawabnya kompak, “Pernaah..” oke, kita lanjutkan pembahasan.
MEMAAFKAN, memang bukan sesuatu yang
mudah untuk dilakukan. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka
telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun rasanya perlu waktu lama
untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap
mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Sebagai seorang yang beriman,
tentunya kita tau dong bagaimana sifat tauladan kita Rasulullah saw. Beliau
adalah seorang “pemaaf”, dan sifat inilah yang seharusnya dapat kita tiru.
Rasulullah adalah pribadi yang suka memaafkan orang lain, beliau tidak
memandang itu kesalahan besar atau kecil, itu disengaja atau tidak, sudah
dilakukan atau belum dilakukan, semua kesalahan orang lain sudah beliau maafkan
bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepada beliau. Bisakah kita berlaku
demikian? Jawabannya, “bisa”. Caranya adalah
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon
stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan
yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah
menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan
jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan
menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya
memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan
Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik
jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka
berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya
secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa
berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit
punggung akibat stress, susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada
orang-orang ini.
Dalam bukunya, Forgive for Good (Maafkanlah
demi Kebaikan), Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang
telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan
bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti
harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan,
lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara
menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Permasalahan
tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah
melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda
terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari
seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang
membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir
jernih atau justru memperburuk keadaan.
Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness"
[Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa
Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap
seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan
merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel
tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa
kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki
kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan.
Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak
ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan
kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.
Semua penelitian yang ada menunjukkan
bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan
manusia. Memaafkan,meskipun di satu sisi terasa berat tetapi di sisi lain
terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan
segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati
hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Dengan kita memaafkan
kesalahan orang lain, tentu saja beban pikiran kita juga akan berkurang,
ganjalan di dalam hati pun demikian sehingga hati kita menjadi tenteram (gak
galau) dan hidup kita menjadi lebih ringan. Dan jika memang kita mau memaafkan
orang lain, niatkanlah untuk mencari keridhoan Allah. Bukankah kita hanya boleh
membenci sesuatu hanya karena Allah? Maka kita memaafkan sesuatu pun karena
Allah. Demi menjaga hubungan baik dan silaturahmi, jangan pernah menyimpan
dendam kepada orang lain. Dendam itu asalnya dari dalam hati dan ingatan kita.
Kenapa? Ya, karena orang akan selalu merasa dendam jika dia terus
mengingat-ingat kejadian yang menyakitinya itu. Maka jika ingin tulus memaafkan
orang lain, maafkanlah dia dan
lupakanlah kesalahannya. Ingat! Forgive and forget it!
Semoga bermanfaat... :-)
Sumber rujukan : kajian ilmiah islam Harun
Yahya
0 komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah berkenan membaca.. monggo dikoment.. :-)